Kamis, 11 Juni 2020

46, K2 dan Kopi


Helm itu membelakangi saya dengan santainya. Pikirnya hari ini tuannya tidak keluar. Jadi ia merasa santai saja dulu. Mungkin juga ia sedang mengatakan sesuatu. Mencoba mengatakannya padaku dengan tapi malu.

Tiga bulan lalu ia sibuk menemani. Kemana saja saya pergi ia setia. Tempatnya pun selalu strategis bersama saya. Di kantor ia bertengger di meja. Jarang ia kulepas santai di motor. Nanti dia raib lagi seperti pendahulunya.

Masih saya ingat, pernah suatu waktu. Ikut ibadah syukur di satu keluarga. Sebelum doa kala itu, sempat kutengok. Helm merah di depan saya  menatap. Doa dimulai, terus, hingga kata amin. Buka mata, eh helm tak kelihatan. Belajar dari sana, helm selalu menemani. 

Hmmm. Kutatap lagi, ia masih pada posisinya. Tak bergeming. Nomor 46 yang mencoba menggelitik pikiranku. The Doctor, Valentino Rossi, pembalap legendaris. Pembalap yang mulai terkenal sejak Sentul. Ia eksklusif merajai kelas 125 CC. Julukannya kala itu masih titel Norifumi. Ia mengagumi pembalap Jepang Norifumi Abe. Saya lupa pastinya The Doctor melekat.

Sudah lama tak melihatnya di lintasan. Jalanan aspal moto GP akhir pekan. Beberapa tahun terakhir ia senang diasapi. Marc Marquez lah yang terhebat sekarang. Tapi tetap Rossi, the Italian master. Walau ia tak sejago dulu lagi. Tetap ia yang terbaik di mata. 

K2 samar-samar mengintip di samping. Mengingatkan teman-teman guru dan tendik. Mereka yang berstatus K2 apa kabarnya. Semoga pemerintah daerah tidak memberi angin. Angin surga yang justru mematahkan semangat. Motivasi melayani pendidikan dari mereka penting. K2 memiliki hak yang sama juga. Hak untuk hidup sejahtera dan layak.

Perjuangan K2 menuntut nasib lebih baik. Perlu diapresiasi oleh semua pemangku kepentingan. Pilkada serentak sementara ditunda karena pandemi. Pilkada berpesta, jangan sampai K2 merana. Kembali kena PHP, jodoh tak jelas. 

Duh, secangkir kopi melempar senyum manis. Semanis rasa dan aromanya saat kuteguk. Dari tadi juga ia telah menunggu. Mungkin juga ia sudah bertanya-tanya. Kok tuanku belum menyentuh bibirku ini. Padahal aku mulai merasa dingin lagi. 

Sruupppp ahhhh, wangi dan nikmat kopi. Terima kasih memberi setitik kecerahan pikiran. Seharian kau selalu setia menanti saya. Hingga malam beranjak menggapai tempat tidur.

Nikmati kopi, nikmati hari ini.

Selamat pagi
Share:

4 komentar:

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia