PROFIL

Yulius Roma Patandean, S.Pd., lahir di Tana Toraja, 6 Juli 1984. Menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Indonesia Toraja (2003-2007). Saat ini sementara melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Kristen Negeri Toraja.

MENGENALI PLATFORM PENDUKUNG BELAJAR ONLINE

Belajar dari rumah (BDR) merupakan salah satu tindak lanjut anjuran pemerintah untuk memotong rantai penyebaran COVID-19. Sekolah menyelenggarakan BDR artinya sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Bagaimanapun opsi mengumpulkan siswa di sekolah untuk proses pembelajaran masih menjadi pertimbangan serius. Terutama untuk wilayah dengan zona orange, merah hingga hitam pandemi COVID-19.

BDR dan PJJ di Masa Pandemi Covid-19

Di awal tahun 2021, tepatnya pada awal bulan Februari ini, program Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi opsi pemerintah dalam memberikan pelayanan pendidikan. BDR dilaksanakan dalam dua acara, yakni Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) daring (online) dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) luring (offline). PJJ daring mengutamakan ketersediaan sumber daya internet, smartphone dan paket data. Sementara PJJ luring memanfaatkan layanan radio, TV Edukasi, modul, hingga pemanfaatan video pembelajaran dan sumber belajar lainnya di lingkungan peserta didik.

Cara Memanfaatkan Video Pembelajaran di Kelas Digital dan Kelas Terbalik

Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) harus diakui sangat mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis digital. Digitalisasi turut pula mendorong lahirnya konten-konten video pembelajaran yang berkualitas. Tak bisa dipungkiri bahwa di masa akan datang, video pembelajaran akan banyak memuat bahan ajar berbasis real life, seperti video praktik Biologi berbasis virtual reality (VR). Jika saat ini pembelajaran di laboratorium sebatas mempraktekkan teroti yang siswa peroleh di ruang kelas, maka teknologi VR akan menghadirkan kondisi nyata ayng lebih mempermudah eksplorasi siswa.

MENGEFEKTIFKAN BELAJAR JARAK JAUH: MENGENALI MASALAH DAN MENEMUKAN SOLUSI

Mengajar secara jarak jauh telah menjadi salah satu kegiatan utama banyak pendidik saat ini. Seperti yang sementara berlangsung di berbagai negara, dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19, sekolah-sekolah di Indonesia, lewat kebijakan pemerintah, telah memilih aktifitas pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan secara umum pembelajaran berlangsung online.

Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2022

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila "DANGKANG"

Sesi foto pada IKM Rayon 4 Enrekang bersama Kepala Sekolah SMAN 4 Enrekang (batik merah) dan SMAS Pesantren Rahmatul Asri 

Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) hari kedua yang berpusat di SMAN 4 Enrekang, Maiwa, Enrekang memiliki keunikannya sendiri. Salah satu keunikan yang menonjol adalah peserta IKM dari tiga sekolah yang hadir (SMAN 4 Enrekang, SMAN 7 Enrekang dan SMAS Pesantren Rahmatul Asri) sangat antusias dan setia mengikuti kegiatan.

Rancangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Presentasi rancangan program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dari salah satu peserta IKM 

Pada materi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) semua peserta dari tiga sekolah yang hadir terbagi atas 7 kelompok besar. Ketujuh kelompok mewakili tujuh tema projek P5 dalam Kurikulum Merdeka. Dalam merancang program P5 tersebut, setiap kelompok menyusun garis-garis besar projek.

Gambaran umum garis-garis besar projek antara lain penentuan tema projek, topik projek, isu yang diangkat, tujuan pelaksanaan projek, elemen Profil Pelajar Pancasila yang akan dinilai, alokasi waktu pelaksanaan projek, kegiatan pokok pada setiap pertemuan hingga mata pelajaran beserta perannya yang terlibat pada projek tersebut. Outline projek inilah yang nantinya menjadi panduan bagi koordinator projek, fasilitator dan peserta didik dalam menyusun modul projek.

Salah satu tema P5 yang muncul pada kegiatan IKM ini adalah Kearifan Lokal dengan topik "dangkang." Judul topik ini menarik dan menggelitik peserta lainnya ketika pertama kali diutarakan presenternya. Ternyata "dangkang" singkatan dari "dangke Enrekang".

Latar belakang pengangkatan topik ini adalah Kabupaten Enrekang adalah penghasil dangke. Dangke merupakan makanan tradisional yang disajikan sebagai lauk pendamping makanan pokok nasi sehari-hari bagi masyakarat  di Kabupaten Enrekang. Dangke sendiri adalah olahan makanan yang terbuat dari susu kerbau atau susu sapi yang difermentasikan dengan menggunakan getah pepaya. Dangke adalah keju tradisional yang hanya ada di Kabupaten Enrekang.

Dangke adalah salah satu makanan khas kabupaten Enrekang. Sumber Gambar: umaspul.ac.id.

Uniknya, walaupun dangke hanya ada di Kabupaten Enrekang, tapi belum semua wilayah Enrekang tahu dan menikmati dangke tersebut. Salah satunya masyarakat di sekitar Maroangin, tempat SMAN 4 Enrekang dan SMAS Pesantren Rahmatul Asri berlokasi. Dengan latar belakang ini dangkang menjadi salah satu opsi projek P5. Salah satu tujuan dari projek ini adalah memasyarakatkan dangke. 
Share:

Rabu, 08 Juni 2022

Penilaian Akhir Semester Genap Mapel Bahasa Inggris Telah Usai, Cek di Sini Hasilnya.

Rekapitulasi Rentang Nilai Bahasa Inggris Kelas 10


Rekapitulasi Rentang Nilai Bahasa Inggris Kelas 11

Data Nilai Bahasa Inggris Kelas 10











Data Nilai Bahasa Inggris Kelas 11











Share:

Kamis, 28 April 2022

3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pertemuan dalam Komunitas Praktisi SMAN 5 Tana Toraja


Sebagai upaya penerapan dan implementasi pengambilan keputusan yang berpihak pada murid selaku pemimpin pembelajaran, langkah konkrit yang saya ambil adalah mengintegrasikan bagian dari paradigma dan prinsip dilema etika serta langkah pengujian keputusan pada setiap kegiatan formal maupun kegiatan informal di sekolah. Mengefektifkan peran komunitas praktisi di sekolah sebagai wadah berbagi praktik baik.

Ketika saya berada dalam sebuah situasi yang mengandung unsur dilema etika langkah-langkah yang akan saya ambil antara lain saya akan mengontrol diri saya terlebih dahulu melalui pendekatan sosial dan emosional, mengidentifikasi secara rinci masalah yang ada dengan melakukan coaching pada diri saya. Dengan harapan bahwa melakukan tindakan sosial emosional dan coaching pada diri sendiri akan lebih membuat diri saya fokus dalam menganalisis pokok permasalahan dan rencana tindak lanjut solusinya. Efektifitas keputusan yang saya ambil dapat terukur dari teridentifikasinya empat paradigma dilema etika, tiga prinsip dilema etika, dan 9 langkah pengujian keputusan yang saya ambil.

Sementara yang menjadi langkah awal adalah menguji kemampuan saya dalam menentukan keputusan yang benar berpihak kepada murid dalam aktivitas keseharian mengajar di sekolah. Saya memegang prinsip bahwa ketika sudah baik adanya pada diri saya, maka akan baik pula bagi murid saya. Salah satu tindakan nyata yang saya lakukan adalah pada beberapa waktu yang lalu, guru Bahasa Jerman meminta untuk menggunakan jam mengajar saya. Menurut guru bersangkutan materinya masih sangat banyak. Berat hati untuk memberikan jam mengajar tersebut. Lalu saya menanyakan kebutuhan lain terkait penggunaan jam tersebut. Tak lupa saya juga berkomunikasi dengan murid di kelas. Awalnya juga murid menolak, tetapi setelah menerima semua masukan akhirnya kami sepakat. Dalam proses perbincangan agak lama tersebut diambil keputusan bahwa, jam mengajar tidak diambil tetapi ditukar waktunya. Guru Bahasa Jerman masuk pagi sementara saya masuk siang, bertukar jam mengajar. Dengan demikian kebutuhan belajar murid tetap terlayani. Dalam diskusi kami tersebut saya ikut melibatkan langkah pengujian pengambilan keputusan, dan ternyata sangat membantu.

Saya sudah melakukan praktik-praktik pengambilan keputusan yang berpihak apda murid sebagai pemimpin pembelajaran sejak minggu pertama mempelajari materi Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Bahkan saya integrasikan ke dalam rapat-rapat komunitas praktisi dalam penyusunan visi dan misi sekolah. Yang intinya dalah rumusan visi dan misi sekolah untuk kepentingan murid. Kemudian, praktik baiknya akan saya upayakan untuk selalu terjadi dalam setiap tindakan saya terutama pada hal-hal yang dilematis, baik di sekolah, keluarga, komunitas dan lingkungan. Dengan demikian pribadi saya senantiasa terlatih.

Komunitas Praktisi menjadi wadah perumusan visi dan misi sekolah dalam bingkai pengambilan keputusan yang berpihak pada murid.


Cara saya menerapkan pengambilan keputusan tersebut pada lingkungan sekolah saya, pada murid-murid, pada rekan sejawat yaitu melalui pengambilan keputusan yang tidak berpihak pada kepentingan pribadi saya dan kelompok tertentu. Keputusan yang saya ambil lebih tertuju pada keputusan yang benar-benar berpihak pada murid. Walaupun keputusan itu diputuskan dalam kelompok di sekolah tapi tujuannya adalah untuk kebutuhan belajar murid. Sebagai contoh, minggu ini sebagai CGP, saya bersama dua rekan CGP lainnya mendampingi rekan-rekan guru dalam merumuskan visi, misi dan tujuan sekolah. Mulai dari perumusan visi sekolah, indikator visi, misi sekolah hingga tujuan sekolah berlangsung dalam suasana penuh perdebatan. Banyak kata-kata menarik yang masuk, seperti unggul, kompetitif, disiplin, berprestasi, dll. Semua usulan yang masuk memiliki dasar pemikiran dari masing-masing guru. Di sini saya menganjurkan untuk memperhatikan nilai-nilai kebajikan dan Profil Pelajar Pancasila sebagai dasar penentuan visi dan indikatornya. Pertimbangan-pertimbangan yang ada dan pengambilan keputusannya alot, sebenarnya secara implisit telah melibatkan sembilan pengujian di dalamnya. Nah, pada kondisi-kondisi lainnya ke depan, saya akan menganalisis nilai-nilai yang saling berbenturan terlebih dahulu, lalu menerapkan empat paradigma dilema etika, tiga prinsip dilema etika, dan 9 langkah pengujian keputusan di setiap saat saya mengalami kejadian yang memuat unsur dilema etika.

Orang-orang yang akan membantu saya antara lain murid, rekan sejawat, guru BK, dan kepala sekolah serta siapapun yang terkait dengan kondisi permasalahan. Istri dan anak-anak saya menjadi bagian integral dari kedewasaan saya mempraktikkan metode pengambilan keputusan yang berpihak pada murid sebagai pemimpin pembelajaran ini.


Salam Guru Penggerak

Salam Merdeka Belajar

Share:

Selasa, 26 April 2022

Koneksi Antar Materi 3.1.a.9

Sebagai upaya menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpusat pada murid baik di kelas maupun dalam lingkup institusi sekolah, baik guru maupun semua unsur yang terlibat dalam pengambilan kebijakan strategis untuk pendidikan, sudah waktunya mulai membangun itu dengan melakukan hal-hal berikut.

Guru yang mendidik dan profesional harus memaknai kerangka filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam menjalankan tugas pengajarannya. Ia harus tampil di depan, menjadi contoh, menjadi panutan dan menjadi penuntun muridnya. Agar ini maksimal, guru harus memaknai visi, misi nilai dan perannya sehingga Profil Pelajar Pancasila ke depannya akan benar-benar terealisasi padam murid. Sudah waktunya bagi guru untuk benar-benar memaksimalkan keberimanan, ketakwaan dan akhlak mulia; kebhinnekaan global, kegotongroyongan, kreatifitas, kemampuan bernalar kritis dan kemandirian murid dalam menyongsong masa depan murid yang nyaman, selamat dan bahagia. Konsep ini terkait erat dengan nilai dan peran guru.

Appreciative Inquiry (AI) bisa dilaksanakan lewat konsep BAGJA untuk mengidentifikasi dan memaksimalkan potensi murid. Di sini guru bisa membangun mimpinya tentang seperti apa kelas dan murid-murid yang diajarnya ke depan. Tak lepas dari Profil Pelajar Pancasila.

Setiap permasalahan murid tak serta merta selesai dengan menggunakan ukuran diri. Keyakinan kelas perlu dibangun agar mendasari penyelesaian masalah di kelas yang ditopang oleh pemenuhan kebutuhan dasar murid, memahami posisi kontrol, dan penerapan segitiga restitusi.

Pengambilan keputusan berpadu dengan nilai dan peran pada guru


Sebagai langkah praktik baik pembelajaran yang berpihak pada murid, pembelajaran berdiferensiasi memudahkan guru dalam memetakan layanan belajar yang optimal. Setiap keragaman murid terlayani kebutuhannya dengan penerapan pembelajaran sosial dan emosional. Diperlukan teknik coaching agar setiap masalah yang terjadi pada murid dapat diselesaikan oleh murid itu sendiri sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Tak terlepas dari semua itu,  pengambilan keputusan lewat sembilan langkah akan memaksimalkan layanan yang berpihak pada murid sebagai pemimpin pembelajaran.


Share:

Selasa, 12 April 2022

Studi Kasus Apa Yang Harus Aku Lakukan

Modul 3.1. Studi Kasus Apa Yang Harus Aku Lakukan



Apa keputusan yang Anda ambil?
Saya akan melakukan pengujian benar atau salah melalui uji intuisi, bahwa aktiftas siswa dan para ibu-ibu sebenarnya memuat sesuatu yang keliru. Kemudian, saya juga akan mempertimbangkan diri saya jangan sampai saya dicurigai memperbesar sebuah masalah yang mungkin tidak dipermasalahkan oleh tuan rumah, terlebih menjaga perasaan jangan sampai yang saya tegur adalah anak pimpinan dan anak tuan rumah, yang nantinya justru mempengaruhi kinerja saya. 

Prinsip mana yang  Anda gunakan, dan mengapa?

Prinsip yang saya gunakan adalah prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli. Hal ini saya ambil karena merokok sangat tidak disarankan, terutama bagi siswa, selain merusak kesehatan juga mempengaruhi manajemen pribadi terkait perilaku sosial dan keuangan.

Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut?

Empati, Suara Hati, Kontrol Diri, Rasa Hormat, Kebaikan, Toleransi, dan Keadilan

Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut?

Guru, siswa, pimpinan dan komite sekolah (orang tua/wali siswa)

Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ?

Merokok tidak baik untuk siswa.

Merokok merusak kesehatan dalam hal ini keselamatan.

Enggan menegur.

Dilema.

Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji legal)

Tidak ada.

Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi)

Tidak ada.

Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi)

Ada. Saya ingin menegur karena aktifitas yagn terjadi tidak sesuai dengan prinsip dalam diri saya. Kemudian, jika saya lakukan, mungkin saja saya akan mendapatkan reaksi negatif.

Apa yang anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran? Apakah anda merasa nyaman?

Saya merasa baik-baik saja, walaupun itu nadanya mungkin ada yang merasa dirugikan.

Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?

Ia akan mendukung keputusan yang saya ambil.

Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut?

Hadirnya dilema etika lewat paradigma individu lawan masyarakat dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang.

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai?

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) 

Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)?

Ada. Melakukan coaching pada diri saya sebelum bertindak. Kemudian melakukan pendekatan coaching kepada anak-anak yang merokok, termasuk pada ibu-ibu.

Apa keputusan yang akan Anda ambil?

Berdasarkan moralitas, saya akan menyampaikan pada para ibu pentingnya peduli apda aktifitas negatif anak-anak. Kemudian menghentikan kegiatan merokok anak-anak secara santun.

Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan.

Jika ini terjadi pada diri saya, atau keluarga saya, dan saya biarkan begitu saja tentu akan membawa dampak jangka pendek dan jangka panjang.

Dari kesembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan, apakah ada langkah-langkah yang Anda anggap  lebih penting daripada langkah lainnya, mengapa?

Ya, ada. Uji intuisi, karena ini terkait dengan perasaan, psikis dan emosi.

Selain kesembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan tersebut, menurut Anda apa lagi yang sebaiknya dilakukan oleh pemimpin pembelajaran dalam memastikan keputusannya adalah keputusan yang tepat?

Melakukan pendekatan sosial dan emosional serta pendekatan coaching.

Share:

Sabtu, 09 April 2022

Pendekatan Coaching untuk Diri - Sebuah Refleksi

Ilustrasi pembelajaran sosial emosioanal dan coaching untuk diri sendiri


Libur awal Ramadhan tahun 2022 memberi warna tersendiri dalam dunia pembelajaran yang saya jalani. Betapa tidak, libur ini memberi banyak kesempatan untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang tertunda pada minggu-minggu sebelumnya. Ragam tugas tersebut adalah perampungan nilai Ujian Sekolah, nilai Ujian Praktik dan nilai penilaian akhir semester untuk kelas XII serta nilai penilaian tengah semester untuk kelas X dan XI.

Jadi, sebenarnya tidak ada libur, hanya pekerjaan yang dipindahkan ke rumah. Untuk menuntaskan tugas-tugas tersebut saya harus memiliki tujuan yang tepat, komitmen untuk menyelesaikan, mengidentifikasi hambatan dan solusinya serta memetakan kemampuan yang saya miliki, termasuk dukungan internal dan eksternal.

Pada hari Senin, 4 April 2022, mengawali pagi hari, sambil menyeruput kopi panas ditemani putri manis saya, rencana menyelesaikan tugas-tugas seputar ujian sekolah saya prioritaskan. Di benak saya, sudah saya atur bahwa paling lambat malam ini nilai-nilai kelas XII rampung dan saya kirimkan ke panitia Ujian Sekolah. Keesokan harinya, saya fokus untuk menyelesaikan input e-rapor kelas XII.

Ini adalah tujuan coaching model TIRTA untuk diri saya. Sebelum bekerja, saya bertanya pada diri saya, apa tujuan yang akan saya capai sehingga tugas itu maksimal penyelesaiannya.

Selanjutnya, saya memetakan beberapa calon hambatan yang akan mengganggu penyelesaian tugas-tugas itu. Pertama, tentunya tugas menjaga putri manis saya, yang usianya menginjak 7 bulan. Balita pada umur tersebut tentunya tak bisa diam lagi, sehingga butuh pengawasan ekstra. Saya memanfaatkan momen ia tidur untuk memaksimalkan waktu. Di sela-selanya saya mengantar dan menjemput anak pertama di salah satu Sekolah  Dasar.

Hambatan berikutnya adalah konsentrasi pada satu tugas. Di pikiran saya masih mengaum dengan nyaring tugas penyelesaian dua buah naskah buku. Satu naskah yang sebenarnya sudah lewat deadline pengiriman ke penerbit dan satu naskah lagi adalah modul untuk Universitas Terbuka. Kadangkala sementara mengedit nilai, ketiganya saya buka. Saya kerjakan di mana pikiran tertuju atau ide tiba-tiba muncul untuk naskah buku. Tentunya ini sangat mengganggu konsentrasi saya. Sehingga saya memutuskan untuk fokus menyelesaikan nilai siswa. Nilai ini penting bagi mereka untuk kebutuhan lanjut di perguruan tinggi. Jadi, ini  adalah skala prioritas.

Jadwal ibadah rumah tangga untuk saya pada hari Selasa, 5 April 2022 sebenarnya turut menjadi rintangan. Tambahan pula saya harus kembali ke kampung sejauh 30 km di perbatasan Enrekang-Tana Toraja. Setengah hari saya lepas dari pekerjaan sekolah untuk melaksanakan ibadah. Puji Tuhan, berjalan dengan baik. Satu jam setelah ibadah, saya pamit pada ibu saya dan kembali ke Makale bersama anak dan istri saya. Malamnya saya lanjut menginput nilai untuk upload ke e-rapor.

Saya menarik nafas panjang, kadang hadir rasa lelah dan dibumbui jenuh sejenak. Tapi saya merasa bersyukur di tengah padatnya kegiatan di hari libur, saya masih sehat dan mampu menjalani semuanya secara simultan.

Satu hal yang paling berkesan untuk saya minggu ini adalah post test modul 2. Saya melakoninya hari Rabu, 6 April 2022, sekitar pukul 13.00 wita di lab bahasa. Dari pagi hari saya sudah ada di lab untuk upload nilai e-rapor. Lagi-lagi saya ditemani sang putri mungil. Untungnya, salah satu rekan kerja, ibu Olyvia datang juga ke lab untuk mengelola e-rapornya.

Salah satu pendukung dalam menyelesaikan hambatan

Ketika saya sementara mengerjakan post test, tiba-tiba anak saya terbangun dari tidur siangnya. Wah, konsentrasi pecah....Jam menunjukkan pukul 12.30, jam lapar untuk balita. Saya mencoba menenangkan anak beberapa menit sambil bermain dengannya. Tanpa saya sadari waktu di LMS berjalan terus. Saya gendong anak ke depan komputer, ia tidak bisa tenang. Lalu, ibu Olyvia menawarkan diri sejenak menajganya. OK, lanjut kerja post test. Karena terbawa suasana, saya hanya sempat membaca soal dengan baik sekitar 6 soal. Selebihnya tidak pakai perasaan. Dan luar biasanya, hasil post test lebih rendah dari hasil pre test.

Saya tertawa. Saya terima hasilnya.  Di sini saya belajar bahwa tanpa konsentrasi pada waktu yang mendesak hasilnya tidak akan optimal. Kekurangannya di mana? Saya kurang tepat dalam memilih waktu mengerjakan post test. Setelahnya saya berpikir, kenapa tidak saya tunggu istri pulang dulu di sore hari baru saya kerjakan post test? Tentu hasilnya mungkin lebih baik.

Nah, barangkali ini adalah kombinasi diferensiasi konten, pembelajaran sosial emosional dan coaching untuk diri saya.  Topik-topik tersebut telah banyak berperan mendewasakan pikiran saya untuk mampu mengambil keputusan-keputusan bermanfaat.

Kekuatan yang saya miliki pada 3 hari libur menyelesaikan tugas ini adalah adanya komitmen menyelesaikan terlepas dari tugas tambahan menjaga anak. Oya, saya berperan sebagai baby sitter untuk anak saya karena istri juga bekerja selaku ASN dan kantornya tidak mengenal libur awal Ramadhan. Menjaga balita sambil bekerja membutuhan kesabaran ekstra. Kesabaran saya benar-benar menjalani ujiannya. Saya dikunjungi salah satu kepala sekolah TK PGRI untuk kepentingan pengangkatan kepala sekolah di sana. Ini wajib saya selesaikan hari itu juga. Tak berapa lama, saya mendapat konfirmasi lagi dari guru YPLP PGRI untuk dibuatkan SK honor. Wah, benar-benar padat hari Selasa ini. Ini adalah ujian pembelajaran sosial emosional untuk saya. Di samping fokus pada tugas pokok selaku guru, tugas sosial dan pribadi juga yang semuanya prioritas harus dijalani.

Saya bersyukur bahwa orang-orang di sekitar saya selaku mendukung. Istri dan putra saya paham kondisi yang saya jalani tiap hari. Ibu saya, pendeta dan rekan-rekan majelis gereja sangat memahami dan memberikan dukungan yang luar biasa untuk saya.

Di sini, saya menyimpulkan bahwa coaching ternyata juga perlu untuk diri sendiri. Model TITRA secara tersirat berlaku untuk diri saya dalam menjalani tugas hari ini dan akan datang.


Salam Guru Penggerak

Share:

Senin, 04 April 2022

Pendekatan Coaching dalam Percakapan Online

 

Pendekatan coaching dapat berlangsung dalam percakapan online dengan siswa.

Minggu ke-16 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten Tana Toraja ditutup dengan perpisahan siswa kelas 12 di UPT SMAN 5 Tana Toraja. Saya tidak sempat mengikuti acara ini karena pada waktu yang sama saya mengikuti acara pemakaman salah satu keluarga di kampung. Saya memilih untuk ikut kegiatan kedukaan oleh karena menurut saya pendidikan tidak semata kehadiran di sekolah melainkan juga terkait dengan kompetensi sosial di lingkungan masyarakat.

Kehadiran pendekatan coaching dalam pembelajaran membuat saya secara tidak langsung telah mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah saya, SMAN 5 Tana Toraja, minggu ini tidak ada pembelajaran tatap muka di kelas. Selain penyelesaian Ujian Sekolah bagi siswa kelas 12 secara tatap muka di kelas pada hari Jumat kemarin, pembelajaran dilakukan secara online bagi kelas 10 dan kelas 11.

Saya masih ingat, pada jam pelajaran Bahasa dan Sastra Inggris di kelas 10, saya mengawalinya dengan membuka percakapan di grup WhatsApp. Percakapan saya buka seperti ini : Untuk sastra Inggris pagi ini....mau belajar live zoom, video YouTube atau lewat Google Classroom?

Tak berselang lama, respon siswa pun hadir.

“Google classroom kalau saya pak, soalnya kuota saya tinggal beberapa MB pak.”

“Google classroom pak, soalnya dataku tinggal sedikit.”

“Google classroom.”

“Google classroom, pak.”

Intinya, sebagian besar memilih Google Classroom dengan latar belakang permasalahan yang identik, yakni terbatasnya kuota data internet.

Saya merasa bahwa percakapan saya dengan siswa, sebenarnya telah mewakili sedikit tentang pendekatan coaching model TIRTA. Walaupun, tidak semua tahapan TIRTA ini terealisasi di percakapan kami. Namun, sedikitnya, sejumlah kalimat yang saya ajukan telah mendorong siswa untuk menyampaikan keadaan mereka saat itu.

Lalu ada pula siswa yang menyampaikan begini.

“Mohon maaf pak, saya tidak ada di Classroom.”

Saya kemudian bertanya, “Apa kendalanya sehingga tidak ada di classroom?”

Siswa membalas, “Saya lupa password email saya pak, bisakah saya diundang kembali ke kelas dengan mengirimkan kode kelas?”

Sampai di sini, saya teringat kembali jika siswa tersebut sebenarnya telah menyelesaikan kendalanya belajar dengan solusi dari dirinya sendiri. Dan ini saya percaya bagian dari coaching.

Pada akhirnya saya berpendapat bahwa coaching bisa diterapkan setiap saat tanpa harus mengikuti uraian tahapan TIRTA. Percakapan dengan siswa bisa terintegrasi model ini di dalamnya.

Share:

Koneksi Antar Materi: Pembelajaran Berdiferensiasi-Sosial Emosional dan Coaching

Integrasi Pembelajaran Berdiferensiasi-Sosial Emosional dan Coaching

Diferensiasi layanan pembelajaran dipadukan dengan pendekatan sosial emosional dan coaching mendorong terwujudnya pembelajaran yang berpusat pada siswa.


Menjadi pendidik tidak semata sebagai sebuah tugas rutin di sekolah. Seorang guru profesional menjadikan perannya sebagai pendidik yang mulia dengan memandang tanggung jawabnya sebagai sebuah pelayanan tanpa batas bagi bangsa. Guru bukanlah profesi yang terikat akan durasi waktu mengajar dalam seminggu. Guru adalah profesi sepanjang hayat yang senantiasa menyuarakan perubahan melalui pendidikan.

Saya mengalami dan menjalani bahwa peran seorang guru bukan peran yang mudah. Tantangan pertama adalah memahami diri-sendiri apakah layak menjadi seorang guru. Mengapa ini penting? Peran guru bukanlah penyampai materi pelajaran ke siswa semata. Jauh dari itu, selaku guru saya menyadari bahwa apa yang ada pada diri saya, setiap hari haruslah selalu dibenahi. Ketika saya tidak berbenah, tidak belajar dan tidak mempersiapkan diri dengan optimal, niscaya tujuan pembelajaran akan tercapai. Saya juga memandang bahwa apa yang ada pada diri saya merupakan titipan yang harus saya sampaikan kepada ribuan dan bahkan jutaan anak-anak negeri yang membutuhkannya. Dengan demikian perubahan hanya akan ada ketika dimulai dari perubahan seorang guru dalam melakukan layanan pendidikan.

Setiap siswa memiliki kekhasannya masing-masing. Mereka memiliki gaya, cara, dan metode belajar serta profil belajar yang berbeda. Mereka pun ditunjang oleh keragaman latar belakang budaya yang mereka miliki. Di sini peran saya sebagai guru adalah melakukan pendekatan pembelajaran yang bisa mengakomodasi setiap karakteristik dan kebutuhan belajar siswa.

Rancangan dan penerapan strategi pembelajaran penting di sini. Namun, sebagai penuntun yang mendukung pembelajaran berpusat pada siswa, guru juga harus mengakomodasi cara siswa merefleksikan hasil belajarnya. Saya tidak harus mematok satu cara bagaimana siswa mengumpulkan tugas mereka. Siswa saya beri kesempatan untuk berekspresi sesuai kamampuan yang mereka miliki. Misalnya, dalam belajar bahasa Inggris pada teks prosedur, siswa tidak harus melakukan praktik pada satu masakan saja. Mereka bisa berekspresi dengan metode memasak yang mereka kuasai yang kemudian memudahkan mereka dalam menyampaikan bahasa Inggris.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar siswa, saya harus memahami pula setiap siswa saya secara sosial dan emosional. Pendekatan ini sangat terkait erat dengan diferensiasi pembelajaran. Diferensiasi pada siswa akan teridentifikasi dan terlayani manakala secara mendalam saya telah mengenal aspek sosial dan emosional siswa saya.

Tentunya tak mudah mengenal mereka secara tuntas. Sehingga peran saya sebagai coach sangat membantu mengenal mereka. Sebagai coach, saya lebih banyak menuntun siswa untuk mengenali hambatan belajar merea, menuntun mereka untuk menyelesaikan hambatan itu dan membangun optimisme mereka atas kekuatan belajar yang dimiliki.

Share:

Kamis, 31 Maret 2022

Coaching - Refleksi TIRTA

Ujian Sekolah di UPT SMAN 5 Tana Toraja berbasis android


SMAN 5 Tana Toraja, 27 Maret 2022

Waktu terus berjalan pendidikan guru penggerak telah memasuki minggu ke 15. Secara umum tidak ada pembelajaran tatap muka di kelas oleh karena ada agenda utama sekolah. Ini menjadi salah satu hambatan penerapan pendekatan coaching dalam pembelajaran. Tapi saya selalu yakin bahwa pendekatan ini tidak hanya berlaku dalam kelas, tapi juga bisa diterapkan di kondisi lainnya. Dengan kata lain saya bisa memanfaatkan setiap momen sebagai wadah pembelajaran.

Sekolah saya fokus melaksanakan Ujian Sekolah untuk kelas XII yang dimulai pertengahan pekan ini hingga akhir pekan depan. Sebelumnya telah dilaksanakan Ujian Praktik. Bidang studi Bahasa Inggris yang saya ampu pun telah rampung sesuai jadwal.

Selanjutnya saya melakukan analisis dan finalisasi nilai ujian praktik para siswa. Ternyata saya menemukan sekitar 10 siswa dari 8 kelas belum mengikuti ujian praktik. Perasaan saya tidak tenang, mengingat ujian praktik ini menjadi salah satu syarat kelulusan siswa. Lalu, nama-nama tiap kelas yang belum mengikuti ujian praktik saya kirimkan lewat WhatsApp. Pada kelas yang tidak saya ajar, saya menghubungi lewat teman sekelasnya.

Ragam pertayaan dan respon berbalasan. Singkatnya saya mengjukan pertanyaan, apa kendalanya, mengapa belum sempat mengirim hasil ujian praktik, bagaimana rencana selanjutnya untuk ikut ujian praktik susulan.

Tak berselang lama, respon dari siswa yang terdaftar belum mengikuti ujian praktik pun bermunculan. Ada yang mengatakan telah selesai secara tatap muka di lab bahasa adan pula yang mengatakan telah mengirimkan link video. Terdapat pula siswa yang berjanji akan segera melakukan ujian praktik dan mengirimkan videonya. Semua saya catat dan cocokkan dengan data yang saya pegang. Siswa yang telah lulus ujian praktik saya beri warna kuning sementara yang belum saya biarkan warna putih.

Sore harinya, notifikasi WhatsApp memberi sinyal kembali. Sejumlah siswa menyapa “Selamat sore pak; good afternoon, sir; maaf mengganggu pak.” Inti balasan saya sedikit bercanda: Adakah maksud sapaannya? Apa yang kamu harapkan dari bapak? Lalu balasan masuk: mau konfirmasi pak, saya belum mengikuti ujian praktik, baru sempat hari ini membuat videonya. Bisakah saya mengirimkannya sekarang ke bapak? Tentunya saya menyetujuinya. beberapa video kemudian dikirimkan siswa lewat WhatsApp. Ada yang menggunakan tautan Google Drive, tautan YouTube dan video pendek.

Pada hari pertama pelaksanaan Ujian Sekolah, selaku salah satu panitia ujian sekolah, saya bertugas untuk menyiapkan komputer di lab bahasa bagi siswa yang tidak memiliki akses ke internet, HP rusak atau tidak memiliki HP. Hal ini bertujuan agar semua siswa bisa mengikuti ujian secara online.

Hari Jumat, 26 Maret 2022, setelah ujian selesai datanglah seorang siswa menemui saya di lab bahasa.

“Selamat siang,” saya menyapa.

“Selamat siang, pak”, balasnya.

“Apakah maksud kedatangannya, nak?”

“Bisakah saya mengikuti ujian susulan di lab bapak?” “Saya sudah minta izin ke panitia ujian dan pengawas ruang.”

“Apakah ada kendala kamu sehingga mengikuti ujian susulan hari ini?”

“HP saya rusak pak, jadi saya tidak bisa mengikuti ujian. Saya diminta ke sini pak.”

“Apakah kamu sudah mencoba melakukan hal lain agar bisa mengikuti ujian sebelum ke sini?”

“Saya sudah melapor ke panitia ujian dan pengawas ruang. Saya juga sudah mencoba meminjam HP lain untuk ikut ujian, tapi tidak ada pak. Tapi, saya bisa ikut ujian di lab kan, pak?”

“Baiklah, silahkan masuk. Lalu, bagaimana kamu bisa memaksimalkan waktu ujian, mengingat waktu telah berjalan sementara kamu baru akan memulainya dan terdapat empat mata ujian yang akan kamu kerjakan?”

“Saya akan konsentrasi memahami setiap soal dan mengupayakan agar bisa menjawab semua soal dengan baik tepat waktu.”

“Adakah strategi lainnya?”

“Saya akan percaya diri dan optimis bahwa saya bisa menuntaskan ujian hari ini di lab bahasa.”

“Seperti apa gambaran keberhasilanmu mengikuti ujian susulan hari ini?”

Menurut saya pak, saya akan sukses ujian ketika saya bisa menyelesaikannya dengan baik.”

“Lalu, seperti apa komitmen kamu terhadap ujian susulan ini?”

“Saya akan menuntaskan ujian saya hari ini dan tidak akan menundanya.”

“Siapakah yang paling berperan membantu kamu mengikuti ujian susulan ini?”

“Teman-teman saya pak, guru-guru mata pelajaran yang tidak saya ikuti, ketua panitia ujian dan terutama bapak yang bersedia memberikan saya fasilitas untuk ikut ujian.”

Dari percakapan saya dengan siswa secara singkat, saya terkesan dengan respon siswa. Ternyata siswa bisa memiliki prinsip yang baik ketika dilayani dengan pendekatan coaching model TIRTA. Sekilas ini terlintas di pikiran saya ketika siswa menemui saya. Siswa lebih jelas dan terukur penjelasannya terkait dengan kendalanya mengikuti ujian.

Ini tentulah hal yang sangat baru dan sangat membantu dalam menyelesaikan permasalahan siswa. Sederhana dan seolah-olah terjadi secara refleks dalam tindakan sehari-hari. Khususnya model TIRTA ini menjadi panduan yang sangat baik dalam menuntun pembelajaran yang berfokus pada siswa. Jelas bahwa coaching berbeda dengan mentoring dan konseling. Pada coaching saya lebih dominan bertanya dan menggali informasi dari siswa dari pada memberi nasehat dan dorongan. Siswa tertuntun untuk menyelesaikan hambatannya sendiri lewat coaching, dan saya simpulkan bahwa ini sangat berpihak pada siswa ketika dikaitkan langsung dengan konten belajarnya.

Ujian sekolah masih akan berlangsung beberapa hari lagi tapi optimis bahwa model TIRTA ini akan membantu saya memfasilitasi kendala-kendala siswa.

 


Share:

Selasa, 22 Maret 2022

COACHING DAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Pendekatan Coaching mendorong siswa lebih mandiri. Sumber: Dok. Pribadi

Sebagai pendidik yang mulia, kita sepakat bahwa setiap peserta didik bukanlah selembar kertas kosong dengan kepolosannya. Setiap anak memiliki keunikan, karakteristik dan latar belakangnya masing-masing. Elemen-elemen inilah yang harus kita jadikan sebagai bahan untuk membentuk pondasi mereka yang kokoh dalam pendidikan. Menjadi daya dukung untuk menemukan jati diri dan melejitkan potensi belajar mereka. Terlebih untuk menuntun setiap anak didik kita tiba pada masanya yang bahagia, yakni mewujudkan cita-cita luhurnya.

Dalam rangka mewujudkan penemuan jati diri dan melejitkan potensi belajar siswa, maka seorang guru diharapkan memiliki keterampilan. Salah satu keterampilan tersebut adalah keterampilan coaching. Ini merupakan bentuk pendekatan komunikasi yang diperlukan karena kita melihat bahwa para siswa adalah insan merdeka. Mereka adalah pribadi yang mampu menentukan arah, tujuan pembelajarannya dan meningkatkan potensinya sendiri. Tugas guru adalah memberikan dorongan dan tuntunan; menjadi pemimpin pembelajaran yang melejitkan potensi mereka.

Guru yang memiliki keterampilan coaching dalam berkomunikasi akan membuat siswa lebih terarah dalam belajarnya. Siswa mampu menemukan solusi atas permasalahannya secara mandiri. Inilah yang kemudian akan dapat meningkatkan potensi siswa. Tentunya ini tidak mudah, tapi pemimpin pembelajaran yang berpegang pada prinsip Tut Wuri Handayani akan mampu melakukannya.

Pada kaitannya dengan pembelajaran sosial dan emosional, keterampilan komunikasi lewat pendekatan coaching membantu guru untuk menerapkan kompetensi sosial emosional siswa dalam pembelajaran. Siswa tertuntun untuk memiliki kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan kemampuan dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

Motivasi untuk selalu belajar dan berupaya melakukan perubahan-perubahan positif yang dimulai pada diri guru, kemudian lingkungan sekolahnya adalah perasaan yang seyogyanya menghiasi tindakan layanan pendidikan dari seorang guru. Seperti inilah yang perasaan saya setelah mengetahui, dan mencoba menerapkan pendekatan coaching dalam melakukan interaksi pembelajaran dengan siswa.

Ketika siswa kelas 10 dan 11 di SMAN 5 Tana Toraja menjalani Penilaian Tengah Semester genap minggu ini, serta kelas 12 yang mengikuti Penilaian Akhir Semester genap, tak terlepas dari hadirnya hambata-hambatan bagi siswa dalam mengikutinya. Bukan hanya ada pada siswa melainkan juga hadir pada guru.

 

Pelaksanaan Penilaian Tengah Semester bagi siswa kelas 


Seperti yang terjadi pada mata pelajaran Kimia kelas 12, terjadi kegaduhan bagi sebagian besar siswa kelas 12 program IPA. Insiden yang terjadi adalah mereka tidak bisa mengakses soal. Saya yang saat itu mengawas di ruang 16 dipanggil salah seorang panitia untuk membantu penyelesaiannya. Saya melihat ke lantai 2 di mana lab bahasa berada,siswa telah berkerumun di sana. Bahasa kepanikan siswa pun bermunculan, seperti waktu telah berjalan lama, link soal tidak terbuka, bagaimana cara mengikuti ujian, dll.

Saya bertanya pada mereka seperti apa kondisi link soal ketika diakses. Salah seorang siswa memperlihatkan status soal di smartphone-nya. Ada pemberitahuan yang intinya soal hanya bisa diakses setelah ada izin dari pengguna atau dari pembuat soal.

Pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa siswa lakukan dengan kondisi tersebut? Apa tindakan siswa agar bisa mengakses soal tes? Apakah mereka bisa bersabar beberapa saat? Dapatkan mereka membantu guru mata pelajaran bersangkutan untuk menyampaikan informasi terkait kondisi soal?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memandu saya memberikan alternatif penyelesaian kepada siswa dan juga termasuk guru bidang studi bersangkutan. Dengan menerima respon dari pertanyaan yang saya ajukan ke siswa, saya berhasil memperbaiki pengaturan form tes sehingga siswa bisa melanjutkan untuk mengerjakannya.

Berdasarkan pendekatan coaching yang saya terapkan ternyata di sini siswa mampu mengelola diri dan mengendalikan diri mereka untuk segera mencari informasi. Nampak bahwa mereka mampu mengelola emosinya dengan baik yang ditunjukkan dengan mencari solusi. Selain itu mereka telah mencoba menjalin kolaborasi dengan orang lain untuk mendapatkan solusi yang selanjutnya keputusan mereka adalah buah dari kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Pendekatan coaching dalam merespon kebutuhan siswa ini perlu dibiasakan dalam kelas. Satu hal penting lainnya adalah coaching membuat guru untuk menghindari pemberian nasehat jika siswa memiliki masalah. Coaching justru menuntun siswa untuk menyelesaikan setiap permasalahannya secara mandiri. 


Share:

Selasa, 15 Maret 2022

Implementasi Pembelajaran Sosial Emosional - Refleksi

 

Calon Guru Penggerak pada Lokakarya 3 Pendidikan Guru Penggerak

Kompetensi Sosial Emosional

Lima kompetensi sosial emosional, kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini kemungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

Pembelajaran sosial emosional bertujuan untuk mendorong perkembangan peserta didik secara positif melalui program pembelajaran yang terkoordinasi secara lebih baik antara berbagai pihak dalam komunitas sebuah sekolah. Artinya, setiap pengambilan kebijakan oleh pemangku kepentingan di sekolah seyogyanya mempertimbangkan 5 kompetensi sosial emosional di dalamnya sehingga keputusan-keputusan tentang program pembelajaran di sekolah benar-benar berpihak kepada siswa lewat proses yang terkoordinir dan terukur bukan instan.

Implementasi pembelajaran sosial dan emosional dapat dilakukan dengan 4 cara, yaitu  (1) mengajarkan kompetensi sosial emosional secara spesifik dan eksplisit, (2) mengintegrasikan kompetensi sosial emosional ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan siswa, (3) mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap siswa, (4) mempengaruhi pola pikir siswa tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan.

Adapun pendekatan yang bisa digunakan untuk menerapkan pembelajaran sosial emosional ini salah satunya melalui konsep SAFE, yaitu:

  1. Sequential/berurutan:   aktivitas yang terhubung dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan keterampilan.
  2. Active/aktif: bentuk pembelajaran aktif yang melibatkan murid untuk menguasai keterampilan dan sikap baru
  3. Focused/fokus: ada unsur pengembangan keterampilan sosial maupun personal
  4. Explicit/eksplisit: tertuju pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional tertentu secara eksplisit.

Pada pelaksanaan Ujian Praktik Kelas XII tahun pelajaran 2021/2022 saya mengambil topik yang dipelajari siswa selama tiga tahun di SMA, yaitu Song Lyric. Sejak awal semester ganjil di kelas XII saya telah melakukan sosialisasi terkait materi ujian praktik nantinya. Terdapat dua kegiatan utama dalam ujian praktik, sing an English song dan find the message/story/interpretate the song lyric. Adapun aspek yang dinilai dalam ujian praktik, antara lain: pengucapan (pronounciation), kelancaran (fluency), ketepatan makna (accuracy), kreatifitas (creativity: penggunaan alat musik, menghafal lirik), dan menafsirkan lirik lagu (English).

Perasaan

Ketika saya mendapati siswa kelas XII, secara khusus kelas XII IPS 2 dan XII IPS 3 begitu antusias mengikuti ujian praktik, saya sangat bahagia. Mengapa? Kedua kelas tersebut tidak pernah saya ajar. Tetapi mereka bisa memahami petunjuk dan indikator ujian praktik. Mereka antusias bertanya kepada saya seperti apa ujian praktiknya. Ada dua laki-laki yang pertama tampil di ujian praktik dari kleas XII IPS 2. Awalnya mereka ragu, oleh karena kurang percaya diri. Tapi saya membalas bahwa santai saja, nikmati materi ujiannya, semua akan berjalan dengan baik. Mereka membuktikannya, ujian praktik menyanyikan lagu Bahasa Inggris dan presentasi makna lagu mereka selesaikan dengan baik. Selanjutnya saya berpesan kepada mereka bahwa beginilah metode ujian praktik itu.

Saya bangga, Bahagia dan sekaligus terpelihara motivasi mengajar saya untuk melakukan proses yang lebih baik dan lebih berpihak kepada siswa di tahun-tahun mendatang.

Implementasi

Pembelajaran Bahasa Inggris yang telah saya lakukan selama hampir satu tahun di kelas XII saya kaitkan dengan konsep SAFE untuk mengidentifikasi implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas.

  1. Sequential/berurutan: sosialisasi materi di awal semester ganjil, kaitan antara materi di kelas X, XI dan materi yang akan dipelajari di kelas XII. Sejak awal semester saya telah meminta siswa untuk menguasai pengucapan, bisa menyanyikan dan mampu menjelaskan makna lirik lagu bahasa Inggris yang terkait dengan kehidupan mereka dan paling mereka senangi.
  2. Active/aktif: topik pelajaran saya sesuaikan dengan miant siswa, dalam hal ini lagu bahasa Inggris favorit siswa. Agar siswa mampu menjelaskan makna lirik lagu, maka siswa belajar berpikir kritis dengan menggunakan sumber-sumber pelajaran lainnya, seperti berdiskusi dengan guru, sesame siswa dan melakukan eksplorasi di internet. Dalam kaitannya dengan kompetensi sosial emosional, siswa belajar untuk mengembangkan kompetensi keterampilan berelasi.
  3. Focused/fokus: siswa fokus menguasai lirik lagu favoritnya, fokus pada pengucapan, intonasi dan cara penyampaian lirik lagu. Jika ada kendala, siswa membangun komunikasi dengan guru dan teman sekelas, baik secara langsung maupun secara tidak langsung mengunakan media komunikasi dan media sosial.
  4. Explicit/eksplisit: Siswa mampu menyajikan kemampuannya menyanyikan dan menjelaskan makna lagu bahasa Inggris. Ketika siswa tampil secara berkelompok, siswa telah mengembangkan kemampuan berelasi dengan orang lain dan mampu mengelola emosi positif dalam dirinya ketika mampu berdiri di depan orang lain, dalam hal ini presentasi di depan gurunya.

Terkait dengan konsep pembelajaran sosial emosional, di sini siswa mampu menyadari keadaan dan potensi mereka, mampu mengelola emosi untuk tampil dengan baik di ujian praktik, mampu memetakan kelebihan dan kekurangan penampilan mereka yang selanjutnya mereka sampaikan kepada teman sekelas, mampu membangun relasi dengan orang lain yakni guru selaku penguji dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab dengan memilih tampil pertama dari kelasnya.

Rencana

Konsep pembelajaran sosial emosional secara bertahap dan berkelanjutan akan saya terapkan dalam setiap tindakan pengajaran saya di sekolah. Poin utama yang akan rutin saya kembangkan adalah kemampuan siswa saya dalam melakukan kolaborasi. Dimulai dengan kolaborasi dengan teman sebangkunya, teman sekelas, orang tua, lingkungan tempat tinggal dan masyarakat secara luas. Adapun metode optimalisasi kolaborasi siswa ini akan saya kembangkan dari apa yang telah saya lakukan sebelumnya. Kolaborasi siswa terintegrasi dalam setiap penugasan proyek siswa. Model penugasan ini lebih menekankan kerjasama dan kolaborasi dalam merencanakan, melakukan eksekusi dan finalisasi.

Share:

Kamis, 10 Maret 2022

Lirik Lagu Mars Guru Penggerak

 

Mars Guru Penggerak

Pendidikan Guru Penggerak, Lokakarya 2

Pendidikan Guru Penggerak (PGP) selain terkait dengan materi diklatnya juga tidak terlepas dari lagu. Dalam hal ini Guru Penggerak juga memiliki lagu mars yang bernama Mars Guru Penggerak.

Berikut ini lirik Mars Guru Penggerak.

Bulatkan tekad kuatkan hati

Neg'ri ini memanggilmu kawan

Belajar bergerak berbagi untuk neg'ri

Guru penggerak majukan pendidikan

Guru penggerak menghamba pada murid

Kreatif rancang pembelajaran

Hargai potensi tingkatkan prestasi

Lahirkan profil pelajar Pancasila

Belajar bergerak berbagi untuk neg'ri

Kita menjalin kolaborasi

Belajar bergerak berbagi untuk neg'ri

Demi bakti pada Ibu Pertiwi



Share:

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia