PROFIL

Yulius Roma Patandean, S.Pd., lahir di Tana Toraja, 6 Juli 1984. Menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Indonesia Toraja (2003-2007). Saat ini sementara melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Kristen Negeri Toraja.

MENGENALI PLATFORM PENDUKUNG BELAJAR ONLINE

Belajar dari rumah (BDR) merupakan salah satu tindak lanjut anjuran pemerintah untuk memotong rantai penyebaran COVID-19. Sekolah menyelenggarakan BDR artinya sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Bagaimanapun opsi mengumpulkan siswa di sekolah untuk proses pembelajaran masih menjadi pertimbangan serius. Terutama untuk wilayah dengan zona orange, merah hingga hitam pandemi COVID-19.

BDR dan PJJ di Masa Pandemi Covid-19

Di awal tahun 2021, tepatnya pada awal bulan Februari ini, program Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi opsi pemerintah dalam memberikan pelayanan pendidikan. BDR dilaksanakan dalam dua acara, yakni Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) daring (online) dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) luring (offline). PJJ daring mengutamakan ketersediaan sumber daya internet, smartphone dan paket data. Sementara PJJ luring memanfaatkan layanan radio, TV Edukasi, modul, hingga pemanfaatan video pembelajaran dan sumber belajar lainnya di lingkungan peserta didik.

Cara Memanfaatkan Video Pembelajaran di Kelas Digital dan Kelas Terbalik

Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) harus diakui sangat mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis digital. Digitalisasi turut pula mendorong lahirnya konten-konten video pembelajaran yang berkualitas. Tak bisa dipungkiri bahwa di masa akan datang, video pembelajaran akan banyak memuat bahan ajar berbasis real life, seperti video praktik Biologi berbasis virtual reality (VR). Jika saat ini pembelajaran di laboratorium sebatas mempraktekkan teroti yang siswa peroleh di ruang kelas, maka teknologi VR akan menghadirkan kondisi nyata ayng lebih mempermudah eksplorasi siswa.

MENGEFEKTIFKAN BELAJAR JARAK JAUH: MENGENALI MASALAH DAN MENEMUKAN SOLUSI

Mengajar secara jarak jauh telah menjadi salah satu kegiatan utama banyak pendidik saat ini. Seperti yang sementara berlangsung di berbagai negara, dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19, sekolah-sekolah di Indonesia, lewat kebijakan pemerintah, telah memilih aktifitas pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan secara umum pembelajaran berlangsung online.

Senin, 28 Februari 2022

Refleksi-Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Pembentukan Komunitas Praktisi. Sumber: Dok. Pribadi

Memahami kebutuhan belajar setiap siswa tentunya menjadi sebuah tantangan sekaligus pengalaman menarik bagi guru. Bagaimana tidak, jika saya mengajar kurang lebih 300 siswa, maka setidak-tidaknya saya perlu mengenal seperti apa cara belajar mereka. Tidak semua siswa memiliki cara belajar yang persis sama. Kebutuhan belajar dan cara belajar yang identik kemungkinan yang ada di dalam kelas.

Kegiatan di Kelas

Kegiatan belajar mengajar pada minggu ini, khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa & Sastra Inggris hanya saya lakukan di kelas X IBB dan XI IBB. Kelas XII sementara menjalani Penilaian Tengah Semester Genap. PTS ini dipercepat demi mendukung persiapan siswa menghadapi Ujian Praktek dan Ujian Akhir Sekolah.

Pada pelajaran Bahasa & Sastra Inggris di kelas X IBB pada hari Senin yang lalu, saya memulai kelas dengan membangun kesepakatan dengan siswa. Kesepakatan ini, antara lain siswa sepakat tidak menggunakan HP selama jam pelajaran selama tidak diminta oleh guru dan siswa saling menghargai ketika beberapa diantara mereka mengambil peran dalam pembelajaran.

Selanjutnya siswa menyepakati bahwa mereka lebih senang belajar dalam kelompok kecil secara berpasangan, ada pula yang meminta kelompok dengan isi tiga siswa. Selaku guru, saya mengiyakan keinginan mereka. Kemudian ada beberapa siswa yang langsung saja menyebut konten pelajaran yang akan mereka pelajari. Saya membenarkan dan meluruskannya.

Di sini saya merasa bahagia karena siswa telah mempersiapkan sedikit informasi terkait pembelajaran. Mereka pun menunjukkan sikap saling menghormati di dalam kelas. Tidak ada olokan ketika ada yang berbicara, membaca atau menulis kalimat bahasa Inggris di papan tulis yang keliru.

Menurut pandangan saya, kondisi ini sangat penting terwujud dan terpelihara di dalam kelas. Ini adalah pertanda baik kelangsungan pembelajaran berdiferensiasi. Dengan kehadiran budaya positif dalam belajar, maka berbedanya cara belajar pada siswa akan tertolong. Saling menghargai akan mendorong siswa yang cerdas dengan senang hati menuntun temannya yang mengalamai kendala. Seperti yang dilakukan oleh Esy Florensia atau Dirgayanti Samada dalam memberikan tawaran bekerja kelompok kepada Diva Allorerung. Diva mengalami gangguang ketika belajar di kelas. Gangguan itu adalah penglihatan dan kemampuan menulis. Kedua temannya saling bergantian menawarkan bantuan. Ketika Diva menulis di papan dan salah, tidak ada satupun siswa yang menertawkannya, Mereka justru melakukan tepuk tangan dan memberikan semangat, “ayo Diva kamu pasti bisa.”

Besar harapan saya, kondisi ini akan bertahan di kelas ini dan juga terwujud di kelas lainnya. Sungguh bahagia saling mendukung di tengah keterbatasan dan perbedaan cara belajar.

Komunitas Praktisi

Pada minggu ini pula, saya bersama bapak Santu R. Patioli dan ibu Nurlianti selaku CGP, membentuk Komunitas Praktisi di sekolah kami. Kegiatan diresmikan oleh kepala UPT dan dihadiri sekitar 20 orang guru. Luar biasa respon rekan-rekan disekolah untuk bersama-sama dengan kami melakukan perubahan dalam pendidikan.



Share:

Sabtu, 19 Februari 2022

Pembelajaran Berdiferensiasi-Sebuah Refleksi

 

Pembelajaran berdiferensiasi seperti ragam bangunan. Sumber: Dok. Pribadi

Pembelajaran berdiferensiasi tidak bermaksud bahwa setiap siswa harus dilayani kebutuhan belajarnya secara pribadi. Diferensiasi belajar justru mengajak guru untuk merancang pembelajaran yang bisa menjembatani kebutuhan belajar siswa yang beragam.

Sebagai upaya memaksimalkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, satu hal penting yang menjadi pokok perhatian saya adalah mempertimbangkan minat siswa. Menurut Tomlinson (2001), untuk membantu guru mempertimbangkan pilihan yang mungkin dapat diberikan pada siswa, guru dapat mempertimbangkan area minat dan moda ekspresi yang mungkin digunakan oleh siswa-siswa mereka.

Tips Menarik Minat Siswa

Terdapat sejumlah tips yang bisa dilakukan oleh guru untuk menarik minat siswa antara lain: (1) menciptakan situasi pembelajaran yang menarik perhatian siswa, misalnya guru menyajikan humor atau menciptakan kejutan-kejutan di sela-sela pembelajaran; (2) menciptakan konteks pembelajaran yang dikaitkan dengan minat individu siswa, misalnya pada awal semester genap tahun ajaran saya mengajak siswa membuat teks prosedur, siswa sepakat mengangkat cooking dengan tema makanan yang terkait dengan budaya lokal. Adapun teks prosedur yang dihasilkan disepakati dalam bentuk video pendek berdurasi 3-5 menit; (3) guru mengkomunikasikan nilai dan manfaat dari apa yang dipelajari siswa, misalnya pada teks prosedur berbentuk video, selain mengembangkan kemampuan bahasa Inggris, siswa akan mendapatkan manfaat mengembangkan skill sebagai editor video sekaligus memanfaatkan smartphone sebagai sarana positif dalam pembelajaran dan; (4) guru menciptakan kesempatan-kesempatan belajar di mana murid dapat memecahkan persoalan (problem-based learning).

Saya mendapati bahwa pada pembelajaran berdiferensiasi ini, guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki minatnya sendiri. Artinya, minat setiap siswa tentunya berbeda-beda.  Bahkan minat siswa  pada topik tertentu bisa berbeda pada setiap tahun pelajaran. Tantangan yang saya hadapi sepanjang minggu ini terkait minat siswa ini adalah bagaimana saya bisa menghubungkan setia minat siswa pada konten pelajaran agar minat mereka tetap terjaga. Minat siswa yang tetap tinggi, tentunya dapat meningkatkan kinerjanya di kelas. 

Menjaga dan Menemukan Minat

Selain itu, sebagai guru saya sadar bahwa ketika saya memahami minat siswa saya, maka minat mereka harus dikembangkan pula. Pembelajaran berdiferensiasi berbasis minat selain menarik dan memperluas minat siswa yang sudah ada, juga dapat membantu siswa menemukan minat baru. Faktanya adalah tidak semua siswa tertarik pada bahasa Inggris, maka untuk membangun minatnya, saya menggunakan tiga bahasa berbeda sebagai bahasa pengantar untuk memahami bahasa Inggris. Saya paham bahwa siswa saya sebagian berasal dari daerah pedesaan, sehingga saya sering kali pula menggunakan bahasa Toraja sebagai pengantar secara bergantian dengan bahasa Indonesia. Ini saya lakukan untuk menarik minat mereka belajar bahasa Inggris. Pada konten-konten pembelajaran saya juga mengaitkan tugas dengan kehidupan keseharian siswa. Tujuannya tidak lain untuk membangun, menjaga dan mempertahankan minat siswa.

Pengalaman di Kelas

Minggu ini saya memiliki kegiatan yang agak padat. Hari Senin mengajar Bahasa dan Sastra Inggris di kelas X Bahasa. Ketika masuk di kelas, siswa meminta lagi ada kuis. Hmmm.... sepertinya siswa saya telah mulai terbiasa dengan kelas terbalik yang saya terapkan. Saya merespon permintaan mereka dengan menyiapkan 10 kosakata bahasa Inggris yang berasal dari materi yang telah saya sampaikan kepada mereka sebelumnya. Saya bahagia di sini. Mengapa? Siswa saya secara tidak langsung telah terbangun minatnya pada bahasa Inggris lewat strategi yang saya jalankan selama ini. Setelah memberikan kuis dan menilainya, saya melanjutkan pembelajaran. Saya tawarkan kepada siswa, “How will you study this session, individual or in a small group?” Respon siswa adalah belajar berkelompok, ada yang meminta 2 siswa per kelompok dan ada pula yang mengusulkan 3 siswa per kelompok. Semua saya terima dan siswa menjalankan masukan mereka. Di kelas ini saya bisa menyimpulkan bahwa minat siswa terhadap bahasa Inggris telah terbangun dan tugas saya selanjutnya adalah menjaga minat itu pada pembelajaran akan datang.

Mengikuti Konferensi Kerja Ke 2 PGRI. Sumber: Dok. Pribadi.

Hari berikutnya saya harus mengikuti Konferensi Kerja PGRI Sulawesi Selatan yang berlangsung di LPMP. Kegiatan ini saya lakoni selama 3 hari. Setelah komunikasi dan minta izin ke pimpinan saya mengatur 4 kelas yang akan saya tinggalkan. Saya meminta bantuan kepada rekan guru bahasa Inggris untuk memantau kelas selama saya di Makassar. Satu hal penting yang rutin saya lakukan saat ada tugas di luar jam mengajar adalah menyiapkan konten pelajaran untuk kelas online. Materi saya siapkan di tiga tempat yakni di channel YouTube, blog dan Google Classroom. Untuk memelihara kepercayaan dengan siswa, saya juga meminta kesediaan satu hingga dua siswa per kelas untuk menjaga ketertiban dan ketenangan kelas saat saya tidak ada. Luar biasanya, ada siswa yang menawarkan diri. Sekali lagi saya bahagia. Pengaruh dari penerapan budaya positif dan kesepakatan kelas selama ini telah membuahkan hasil, walaupun dari hal-hal yang sederhana.

RPP Berdiferensiasi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi adalah topik utama minggu ini baik di LMS maupun dalam diskusi online di Google Meet.

Saya mendapatkan pengetahuan baru terkait RPP berdiferensiasi ini. Sebelum membuat RPP, guru perlu mengetahui profil belajar siswa. Ini mengacu pada cara-cara bagaimana guru memahami siswanya sebagai individu paling baik dalam belajar. Dengan kata lain, guru perlu mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar siswa berdasarkan profil belajar. Ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara natural dan efisien.

Setiap siswa memiliki profil belajarnya sendiri. Guru harus memiliki kesadaran untuk dapat melakukan variasi metode dan pendekatan mengajar mereka. Mungkin saja sebagai guru, kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Tidak peduli pada kebutuhan belajar siswa. 

Profil belajar siswa terkait dengan banyak faktor, diantaranya: (1) preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur,  dsb. Contohnya, mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu terang, dsb; (2) Pengaruh budaya, seperti santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal – impersonal, humoris-serius, dll; (3) preferensi gaya belajar. Ini terkait dengan gaya belajar, bagaimana siswa memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru.  Terdapat tiga gaya belajar yaitu: visual, yakni belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer); auditori, belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat  saat berdiskusi, mendengarkan musik); dan kinestetik, belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb). Pada bagian ini guru harus selalu mengingat bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk selalu berusaha melakukan inovasi dan menggunakan kombinasi gaya mengajar.

Selain ketiga faktor di atas, faktor lainnya adalah preferensi berdasarkan kecerdasan  majemuk (multiple  intelligences) yang terkait dengan aspek visual-spasial, musical, bodily-kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logic-matematika.

RPP berdiferensiasi pada pembelajaran moda online yang saya coba buat mengacu pada salah satu faktor di atas. Berdasarkan kondisi siswa, saya membuat RPP yang mengacu pada profil belajar siswa yang terkait dengan gaya belajar. Wah, saya diajak untuk memetakan gaya belajar siswa yang cenderung pada visual, auditori dan kinestetik. RPP yang saya rancang merupakan integrasi dari ketiganya. Misalnya, pada kegiatan pra kelas yang menggunakan kelas terbalik, siswa akan belajar dengan gayanya sendiri di rumah untuk memahami konten yang saya kirimkan. Kemudian di kelas tatap online, dengan cara mereka sendiri, meraka akan memberikan respon atas pembelajaran. Ada yang raise hand, mengetik di kolom chat Zoom atau memberi komentar di YouTube. Demikian halnya dengan instrumen penilaian, sebisa mungkin mengacu pada gaya belajar siswa, sehingga setiap siswa akan terlayani kebutuhan belajarnya.

Adaptasi RPP Berdiferensiasi

Merujuk pada RPP berdiferensiasi moda online, saya mencoba menerapkannya di kelas tatap muka terbatas. Kelas terbalik tetap saya jalankan untuk memaksimalkan waktu belajar yang durasinya hanya satu jam. Di kelas XII MIA 4, XII IIS 1, XII MIA 2 dan XII IBB, setelah apersepsi, saya melakukan listening sederhana sebagai feedback terhadap materi yang telah siswa pelajari di rumah atau sesaat sebelum pembelajaran. Sepanjang semester ini, saya melakukan strategi ini. 10 kosa kata bahasa Inggris saya diktekan kemudian siswa menulisnya.


Pada tahap ini, saya dan siswa menyepakati untuk tidak mengakses YouTube atau alat bantu lainnya selain buku catatan mereka. Dengan menggunakan kartu bernomor, saya mencabutnya secara acak dengan panduan nomor urut daftar hadir siswa. 10 siswa terpilih secara bergantian maju ke papan tulis menuliskan apa yang mereka dengarkan. Lalu saya beri nilai. Ternyata, lewat strategi ini terdapat peningkatan dari waktu ke waktu. Artinya semakin banyak siswa yang mendapat nilai 100. Dengan demikian siswa telah belajar di rumah atau mereka telah belajar sebelum masuk di kelas. Sehingga di masa akan datang, strategi ini masih akan saya lakukan. Selain bisa menjadi penerapan pembelajaran berdiferensiasi, strategi ini turut andil membangun minat belajar siswa.

Selain di dalam kelas, pembelajaran berdiferensiasi saya coba terapkan di pengayaan sore hari. Sebelum memulai kelas, saya dan siswa sepakat bahwa selama kelas berlangsung, HP tidak boleh mereka operasikan karena akan mengganggu konsentrasi. Saya sampaikan, jika mereka nyaman maka saya senang dan sebaliknya. Kesepakatan berikutnya adalah belajar sambil bermain. Kartu bernomor dengan kartu merah berisi konten-konten tak terduga yang lucu ikut menemani kelas pengayaan.

Kartu sakti saya dalam mengajar. Sumber: Dok. Pribadi

Kartu bernomor yang saya gunakan sukses membuat siswa serius menyimak dan mengerjakan setiap soal. Mereka boleh berdiskusi dengan ketentuan tetap mematuhi protokol kesehatan. Tambahan pula, jika ada siswa yang salah, maka kartu merah yang saya siapkan menjadi “hadiah” baginya. Terasa singkat waktu 90 menit selesai oleh karena siswa belajar tanpa kantuk. Saya masih akan menggunakan strategi ini. Adapun kartu-kartu tersebut telah saya gunakan sejak tahun pertama mengajar, tahun 2007-sekarang.

Salam Guru Penggerak.

Share:

Rabu, 16 Februari 2022

Konferensi Kerja Ke 2 PGRI Sulawesi Selatan

 

Suasana Konferensi Kerja Ke 2 PGRI Sulawesi Selatan di aula LPMP Sulawesi Selatan


Hari kedua pelaksanaan Konferensi Kerja Ke 2 PGRI Sulawesi Selatan dilanjutkan pada sejumlah agenda. Pukul 09.00 wita ketok palu sidang membuka rapat pleno IV. Pembahasan dimulai dari pemaparan bendahara PGRI Sulsel terkait progres iuran dari setiap kabupaten yang disertai dengan tanggapan dari beberapa kabupaten.

Sekitar 40 menit berlalu, dilanjutkan dengan pemaparan dari pengurus Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Provinsi Sulawesi Selatan.
Susunan dan Personalia LKBH PGRI Prov. Sulsel

Terdapat agenda rapat pleno lainnya, yakni paparan dari Ketua Umum PB PGRI, Dirjen GTK Kemendikbudristek dan Kapolda Sulawesi Selatan.

Rapat langsung menuju rapat pleno VI, tanggapan pengurus provinsi PGRI Sulawesi Selatan atas Laporan dan Pandangan Umum Pengurus kabupaten/kota.

Rapat lanjutan berikutnya adalah rapat komisi, rapat pleno VII (Laporan hasil rapat komisi dan pengesahan hasil komisi; dan acara penutupan.

Share:

How to Give Examples - Exercise

A. Analyze the following sentence, whether it correct of wrong (T/F). Write the right sentence if you find it wrong.


B. Complete the following sentences by using your own ideas. Use the phrase to give example provided to connect your ideas.

Example:
Noer bought some sports kit (such as) ....
Answer: 
Noer bought some sports kit, such as shoes, socks, balls, rackets, and nets.

  1. We had different breakfast this morning (such as) ....
  2. There are some important subjects in Language Class (for example) ....
  3. Mr. Roma has asked us to follow the health protocol today (e.g.) ... in order to make us stay safe at school.


Share:

Selasa, 15 Februari 2022

Refleksi Terbimbing 2.1.a.6

Pendidikan Guru Penggerak


Saya dapat melakukan praktik pembelajaran berdiferensiasi secara lebih efektif melalui pengkategorian  kebutuhan belajar siswa melalui aspek pemetaan kesiapan belajar, minat siswa dan profil siswa. Siswa akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya, hal inilah yang terkait dengan kesiapan belajar. Kemudian, jika tugas-tugas tersebut mendorong mereka untuk memiliki keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang siswa untuk mengetahui lebih banyak lagi hal tentang sebuah objek, ini terkait dengan minat. Lau, jika tugas itu memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dan bekerja dengan cara yang mereka suka, maka inilah aspek yang terkait dengan profil belajar.

Pendekatan yang seharusnya saya ubahsuaikan adalah pendekatan terhadap pemetaan profil belajar siswa saya. Ini penting karena saya masih memiliki keterbatasan dalam mendeteksi cara belajar yang paling sesuai pada setiap materi yang saya ajarkan.

Terkait sikap  saya tetap dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini, saya memilih untuk banyak menjalin komunikasi dengan siswa saya.

Hal ini harus konsisten saya lakukan agar saya bisa mendapatkan preferensi yang tepat terhadap pengaruh lingkungan belajar siswa-siswa saya, misalnya kondisi rumah, kamar, linkgungan alam sekitar, dll. Disamping itu saya juga harus mengetahu sejauh mana pengaruh budaya local pada siswa. Selain itu, preferensi gaya belajar siswa saya sebisa mungkin terdeteksi dari sejak dini seperti gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.

Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari sepanjang minggu ini, materi yang menurut saya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran di kelas saya adalah pemetaan profil belajar siswa. Sesuai pengalaman saya, jika ini terdeteksi dengan baik, sangat membantu guru dalam mengarahkan siswa belajar secara berkelompok, terutama dalam pembelajaran berbasis proyek.

Menurut saya yang agak sulit untuk diterapkan adalah pendekatan pembelajaran menggunakan kesiapan belajar siswa. Hal ini terkendala kondisi di mana guru sering mengabaikan pendekatan ini di awal pembelajaran. Guru hanya fokus menyelesaikan materi sesuai tuntutan kurikulum.

Jika saya harus menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan yang saya perlukan adalah adanya komunitas praktisi sebagai tempat berbagi pengalaman mengajar di kelas.  Untuk dapat mengakses dukungan tersebut, saya perlu membentuk komunitas praktisi di sekolah dan menggalang teman-teman guru untuk bergabung dan kita sama-sama berbagi pengalaman mengajar di kelas. Termasuk mencari masalah dan memetakan solusinya.

Share:

Minggu, 13 Februari 2022

Contoh RPP Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa.
Sumber: Dok. Pribadi.

Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
Berikut ini satu contoh RPP Berdiferensiasi:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

                                                MATA PELAJARAN : EKONOMI

                                                KELAS                       : 12

I.         Kompetensi Dasar

  • 3.6. Menganalisis titik siklus akuntansi pada perusahaan dagang tahap pencatatan buku besar
  • 4.6. Menyajikan hasil analisis siklus akuntansi pada perusahaan dagang tahap pencatatan buku besar

II.         Tujuan Pembelajaran

Setelah selesai kegiatan pembelajaran siswa dapat: Mengidentifikasi, menjelaskan, menentukan dan menganalisis serra menyajikan hasil analisis siklus akuntansi perusahaan dagang pada tahap posting ke buku besar dalam pembangunan ekonomi melalui pengamatan, tanya jawab, kajian pustaka serta dapat berpikir kritis, kreatif, dan mengkolaborasi memahami ide dengan sikap teliti, bertanggungjawab, mandiri, jujur, dan disiplin serta bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

III.         Kegiatan Pembelajaran

    Kegiatan Awal

  • Kegiatan Apersepsi
  • Membuat kesepakatan kelas
  • Melakukan pretest menggunakan aplikasi quizziz
  • Melakukan pemetaan siswa berdasarkan kesiapan belajar
  • Berdasarkan pemetaan tersebut, siswa sikelompokkan berdiferennsiasi, agar siswa dengan kelebihan dapat menjadi tutor sebaya dengan siswa lainnya.

K Kegiatan Inti

  • Guru memberikan stimulus berupa tayangan video lewat LCD terkait dengan materi yang akan dipelajari (tayangan video terkait buku besar.)
  • Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanggapi video tersebut (secara lisan/berbicara langsung, tertulis, karikatur, pengalaman, atau bentuk deskripsi lainnya) dan mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan konten pelajaran yang bisa mereka kaitkan dengan pengalaman sehari-hari. Salah satunya kemudian dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.
  • Membuat break time untuk forum diskusi kelompok sesuai dengan tema yang sudah dibagikan oleh guru sebagai perwujudan kompetensi sosial dan emosional pengendalian sosial agar setiap siswa saling menghargai satu sama lain.
  • Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan dari berbagai sumber untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis.
  • Guru memberikan bimbingan pada saat siswa melakukan pengolahan data sebagai kompetensi sosial dan emosional pengendalian diri membimbing siswa dengan penuh kesabaran dan penuh perhatian.
  • Siswa melakukan presentasi singkat cara melakukan pengolahan data berdasarkan apa yang telah mereka diskusikan.
  • Guru memberikan apresiasi atas presentasi siswa.
  • Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan pembelajaran berdasarkan hasil verifikasi.
  • Siswa mengerjakan evaluasi lewat Google Form/Google Classroom

Kegiatan Penutup

  • Siswa melakukan refleksi
  • Guru memberikan apresiasi

Penilaian

Penilaian akan dilakukan secara berkelanjutan dengan menggunakan strategi observasi dan penilaian yang meminta siswa memberikan respon tertentu (selected response assessment). Alat penilaian untuk observasi adalah checklist dan alat penilaian untuk selected response assessment adalah tes tertulis dalam lembar kerja.

Lampiran Penilaian

1    Jurnal Penilaian Sikap

                         Nama Satuan pendidikan      : SMA NEGERI 5 TANA TORAJA

                        Tahun pelajaran                    : 2021/2022

                        Kelas/Semester                     : XII / Genap

                        Mata Pelajaran                      : Ekonomi

 

No

Waktu

Nama

Kejadian/Perilaku

Butir Sikap

Pos/Neg

Tindak Lanjut

1

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Penilaian Ketrampilan

Teknik dan Instrumen: Unjuk Kerja dan Penilaian Presentasi Hasil Diskusi Kelompok

LEMBAR PENILAIAN KETERAMPILAN

PENILAIAN UNJUK KERJA

Kelas : XII

NO

NAMA SISWA

KRITERIA PENILAIAN (SKOR MAKSIMAL

TOTAL SKOR

PENGUASAAN MATERI (40)

PENGUASAAN KELAS (30)

KOMUNIKATIF (30)

dst

 

3.       Penilaian Pengetahuan

Siswa mengerjakan tes tertulis melalui tautan: https://forms.gle/rsoXtTuvP48qMyGn7


Share:

Sabtu, 12 Februari 2022

Pembelajaran Berdiferensiasi - Sebuah Refleksi

Penulis pada Lokakarya 2 Pendidikan Guru Penggerak. Sumber: Dok. Pribadi

Memasuki bulan kedua di tahun 2022, Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 kembali dilanjutkan. Modul kali ini adalah modul 2, tepatnya pada modul 2.1. Topik utama minggu ini adalah pembelajaran berdiferensiasi. Ini adalah konsep pembelajaran yang menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi dan kebutuhan setiap siswa. Dengan kata lain, konsep ini berbicara tentang strategi pendekatan untuk memaksimalkan belajar siswa dengan memahami dan melayani apa yang dibutuhkan setiap siswa.

Seperti yang saya alami dengan hampir semua guru-guru hebat di seluruh tanah air, bahwa tak ada kelas yang homogen. Kelas yang dihadapi di sekolah selalu dengan siswa yang heterogen. Hal ini tentunya memberikan tantangan kepada guru bagaimana memaksimalkan layanan belajar kepada mereka.

Mendengar kata berdiferensiasi, awalnya saya hanya bisa menerjemahkannya secara biasa menurut pengertian saya selaku guru bahasa Inggris, yakni different:berbeda. Di sini pemikiran yang muncul adalah, setiap siswa memiliki keunikan dan kebutuhan belajarnya sendiri. Jadi, jika dalam kelas terdapat 32 siswa, maka ada 32 macam kebutuhan mereka. Sehingga diperlukan mungkin sebanyak itu strategi pelayanan belajar mereka. Saya, sempat berpikir, “alangkah capeknya nanti melayani kebutuhan belajar ratusan siswa saya.” Namun, setelah mendalami materi pada modul 2.1 ini ternyata pemikiran saya salah. Seorang guru bukanlah manusia super atau superman yang bisa memberikan layanan super kepada setiap anak didik. Akan teapi, kondisi setiap kelas yang berbeda-beda tetap menuntut guru untuk menyesuaikan diri.

Praktek pembelajaran berdiferensiasi lebih mengacu pada memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mempelajari berbagai nilai-nilai kehidupan yang pentinga, tidak semata memaksimalkan potensi yang ada pada siswa. Beberapa di antara nilai-nilai tersebut antara lain: mengenal akan indahnya perbedaan, saling menghargai sebagai makna baru dari sebuah kesuksesan, menemukan kekuatan diri, mendapatkan kesempatan yang setara, memperoleh kemerdekaan belajar, dll. Nilai-nilai ini kemudian akan berkontribusi terhadap perkembangan diri siswa secara lebih holistik.

Tantangan saya selaku guru adalah saya perlu memahami bagaimana melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana saya harus mengelolanya secara efektif. Untuk bisa mencapai hal ini, saya perlu mengaitkan teori yang saya dapatkan dengan kegiatan saya di kelas.

Praktik Baik Berdiferensiasi

Pada hari Senin, 7 Februari 2022, saya mengajar di kelas X IBB pada jam ketiga. Sekolah saya masih menerapkan pembelajaran dalam mode tatap muka terbatas oleh karena pandemi Covid-19. Pada sesi 1 saya mengajar pada jam 9 pagi, dan pada sesi 2 mengajar pada jam 12.50. Materi pembahasan adalah teks fungsional pendek, advertisement. Seperti yang telah saya lakukan pada materi-materi sebelumnya, kegiatan pembelajaran saya masih menggunakan model pembelajaran flipped classroom. Ini saya lakukan untuk memaksimalkan waktu mengajar yang hanya satu jam per mata pelajaran tiap minggunya.

Ketika saya masuk di kelas, setelah memberikan salam, beberapa siswa langsung bertanya kepada saya, “Ada kuis, pak?” “Well, baiklah, bapak ada kuis untuk kalian.”

Sebenarnya ini bukan kuis, tapi saya menyimpulkan bahwa siswa mulai menyukai model yang saya tawarkan selama ini. Dengan flipped classroom, siswa telah belajar materi yang saya kirimkan ke mereka sehari sebelumnya di channel YouTube. Untuk memastikan mereka belajar, setiap akan memulai kegiatan inti, saya menyempatkan untuk melakukan kuis sederhana dalam bentuk listening checking vocabulary. Dalam kegiatan ini saya membacakan 10 kosakata kepada siswa, kemudian mereka mencatatnya. Kesepuluh kosakata tersebut berasal dari materi yang telah saya kirimkan. Saya akhirnya menyimpulkan bahwa, kuis sederhana ini telah membuat mereka aktif belajar yang sekaligus mengajak saya untuk melakukan evaluasi atas apa yang telah mereka lakukan.

Fakta ini bukan hanya terjadi di kelas X IBB, namun juga terjadi pada kelas XI IBB  dan kelas XII lainnya dengan reaksi yang hampir sama dalam ekspresi yang beragam. Dapat saya simpulkan bahwa, flipped classroom dengan tindak lanjut kuis sederhana dalam kelas tatap muka telah membantu menyesuaikan kebutuhan belajar siswa saya yang beragam. Apalagi, flipped classroom memberi siswa kesempatan belajar lebih banyak akan konten dan teori pelajaran di rumah.

Kegiatan Online

Selain, telah ada best practice sederahana akan pembelajaran berdiferensiasi ini di kelas, minggu ini juga menjadi waktu yang baik bagi saya untuk belajar membuat rencana pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Kegiatan ini berlangsung dalam diskusi online menggunakan Google Meet dengan seorang anggota kelompok saya didampingi fasilitator. Hasilnya kami berhasil menyusun sebuah RPP sederhana yang memuat pembelajaran berdiferensiasi dan mengarah pada siswa sebagai pusat belajarnya.

Diskusi virtual dengan rekan CGP dan Fasilitator. Sumber: Dok. Pribadi.

Saya sangat berharap bahwa apa yang telah saya dapatkan minggu ini dapat saya terapkan dengan maksimal di kelas saya, terutama dalam kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi.

 

Salam Bahagia

Salam Merdeka Belajar


Share:

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia