Sabtu, 19 Februari 2022

Pembelajaran Berdiferensiasi-Sebuah Refleksi

 

Pembelajaran berdiferensiasi seperti ragam bangunan. Sumber: Dok. Pribadi

Pembelajaran berdiferensiasi tidak bermaksud bahwa setiap siswa harus dilayani kebutuhan belajarnya secara pribadi. Diferensiasi belajar justru mengajak guru untuk merancang pembelajaran yang bisa menjembatani kebutuhan belajar siswa yang beragam.

Sebagai upaya memaksimalkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, satu hal penting yang menjadi pokok perhatian saya adalah mempertimbangkan minat siswa. Menurut Tomlinson (2001), untuk membantu guru mempertimbangkan pilihan yang mungkin dapat diberikan pada siswa, guru dapat mempertimbangkan area minat dan moda ekspresi yang mungkin digunakan oleh siswa-siswa mereka.

Tips Menarik Minat Siswa

Terdapat sejumlah tips yang bisa dilakukan oleh guru untuk menarik minat siswa antara lain: (1) menciptakan situasi pembelajaran yang menarik perhatian siswa, misalnya guru menyajikan humor atau menciptakan kejutan-kejutan di sela-sela pembelajaran; (2) menciptakan konteks pembelajaran yang dikaitkan dengan minat individu siswa, misalnya pada awal semester genap tahun ajaran saya mengajak siswa membuat teks prosedur, siswa sepakat mengangkat cooking dengan tema makanan yang terkait dengan budaya lokal. Adapun teks prosedur yang dihasilkan disepakati dalam bentuk video pendek berdurasi 3-5 menit; (3) guru mengkomunikasikan nilai dan manfaat dari apa yang dipelajari siswa, misalnya pada teks prosedur berbentuk video, selain mengembangkan kemampuan bahasa Inggris, siswa akan mendapatkan manfaat mengembangkan skill sebagai editor video sekaligus memanfaatkan smartphone sebagai sarana positif dalam pembelajaran dan; (4) guru menciptakan kesempatan-kesempatan belajar di mana murid dapat memecahkan persoalan (problem-based learning).

Saya mendapati bahwa pada pembelajaran berdiferensiasi ini, guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki minatnya sendiri. Artinya, minat setiap siswa tentunya berbeda-beda.  Bahkan minat siswa  pada topik tertentu bisa berbeda pada setiap tahun pelajaran. Tantangan yang saya hadapi sepanjang minggu ini terkait minat siswa ini adalah bagaimana saya bisa menghubungkan setia minat siswa pada konten pelajaran agar minat mereka tetap terjaga. Minat siswa yang tetap tinggi, tentunya dapat meningkatkan kinerjanya di kelas. 

Menjaga dan Menemukan Minat

Selain itu, sebagai guru saya sadar bahwa ketika saya memahami minat siswa saya, maka minat mereka harus dikembangkan pula. Pembelajaran berdiferensiasi berbasis minat selain menarik dan memperluas minat siswa yang sudah ada, juga dapat membantu siswa menemukan minat baru. Faktanya adalah tidak semua siswa tertarik pada bahasa Inggris, maka untuk membangun minatnya, saya menggunakan tiga bahasa berbeda sebagai bahasa pengantar untuk memahami bahasa Inggris. Saya paham bahwa siswa saya sebagian berasal dari daerah pedesaan, sehingga saya sering kali pula menggunakan bahasa Toraja sebagai pengantar secara bergantian dengan bahasa Indonesia. Ini saya lakukan untuk menarik minat mereka belajar bahasa Inggris. Pada konten-konten pembelajaran saya juga mengaitkan tugas dengan kehidupan keseharian siswa. Tujuannya tidak lain untuk membangun, menjaga dan mempertahankan minat siswa.

Pengalaman di Kelas

Minggu ini saya memiliki kegiatan yang agak padat. Hari Senin mengajar Bahasa dan Sastra Inggris di kelas X Bahasa. Ketika masuk di kelas, siswa meminta lagi ada kuis. Hmmm.... sepertinya siswa saya telah mulai terbiasa dengan kelas terbalik yang saya terapkan. Saya merespon permintaan mereka dengan menyiapkan 10 kosakata bahasa Inggris yang berasal dari materi yang telah saya sampaikan kepada mereka sebelumnya. Saya bahagia di sini. Mengapa? Siswa saya secara tidak langsung telah terbangun minatnya pada bahasa Inggris lewat strategi yang saya jalankan selama ini. Setelah memberikan kuis dan menilainya, saya melanjutkan pembelajaran. Saya tawarkan kepada siswa, “How will you study this session, individual or in a small group?” Respon siswa adalah belajar berkelompok, ada yang meminta 2 siswa per kelompok dan ada pula yang mengusulkan 3 siswa per kelompok. Semua saya terima dan siswa menjalankan masukan mereka. Di kelas ini saya bisa menyimpulkan bahwa minat siswa terhadap bahasa Inggris telah terbangun dan tugas saya selanjutnya adalah menjaga minat itu pada pembelajaran akan datang.

Mengikuti Konferensi Kerja Ke 2 PGRI. Sumber: Dok. Pribadi.

Hari berikutnya saya harus mengikuti Konferensi Kerja PGRI Sulawesi Selatan yang berlangsung di LPMP. Kegiatan ini saya lakoni selama 3 hari. Setelah komunikasi dan minta izin ke pimpinan saya mengatur 4 kelas yang akan saya tinggalkan. Saya meminta bantuan kepada rekan guru bahasa Inggris untuk memantau kelas selama saya di Makassar. Satu hal penting yang rutin saya lakukan saat ada tugas di luar jam mengajar adalah menyiapkan konten pelajaran untuk kelas online. Materi saya siapkan di tiga tempat yakni di channel YouTube, blog dan Google Classroom. Untuk memelihara kepercayaan dengan siswa, saya juga meminta kesediaan satu hingga dua siswa per kelas untuk menjaga ketertiban dan ketenangan kelas saat saya tidak ada. Luar biasanya, ada siswa yang menawarkan diri. Sekali lagi saya bahagia. Pengaruh dari penerapan budaya positif dan kesepakatan kelas selama ini telah membuahkan hasil, walaupun dari hal-hal yang sederhana.

RPP Berdiferensiasi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi adalah topik utama minggu ini baik di LMS maupun dalam diskusi online di Google Meet.

Saya mendapatkan pengetahuan baru terkait RPP berdiferensiasi ini. Sebelum membuat RPP, guru perlu mengetahui profil belajar siswa. Ini mengacu pada cara-cara bagaimana guru memahami siswanya sebagai individu paling baik dalam belajar. Dengan kata lain, guru perlu mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar siswa berdasarkan profil belajar. Ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara natural dan efisien.

Setiap siswa memiliki profil belajarnya sendiri. Guru harus memiliki kesadaran untuk dapat melakukan variasi metode dan pendekatan mengajar mereka. Mungkin saja sebagai guru, kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Tidak peduli pada kebutuhan belajar siswa. 

Profil belajar siswa terkait dengan banyak faktor, diantaranya: (1) preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur,  dsb. Contohnya, mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu terang, dsb; (2) Pengaruh budaya, seperti santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal – impersonal, humoris-serius, dll; (3) preferensi gaya belajar. Ini terkait dengan gaya belajar, bagaimana siswa memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru.  Terdapat tiga gaya belajar yaitu: visual, yakni belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer); auditori, belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat  saat berdiskusi, mendengarkan musik); dan kinestetik, belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb). Pada bagian ini guru harus selalu mengingat bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk selalu berusaha melakukan inovasi dan menggunakan kombinasi gaya mengajar.

Selain ketiga faktor di atas, faktor lainnya adalah preferensi berdasarkan kecerdasan  majemuk (multiple  intelligences) yang terkait dengan aspek visual-spasial, musical, bodily-kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logic-matematika.

RPP berdiferensiasi pada pembelajaran moda online yang saya coba buat mengacu pada salah satu faktor di atas. Berdasarkan kondisi siswa, saya membuat RPP yang mengacu pada profil belajar siswa yang terkait dengan gaya belajar. Wah, saya diajak untuk memetakan gaya belajar siswa yang cenderung pada visual, auditori dan kinestetik. RPP yang saya rancang merupakan integrasi dari ketiganya. Misalnya, pada kegiatan pra kelas yang menggunakan kelas terbalik, siswa akan belajar dengan gayanya sendiri di rumah untuk memahami konten yang saya kirimkan. Kemudian di kelas tatap online, dengan cara mereka sendiri, meraka akan memberikan respon atas pembelajaran. Ada yang raise hand, mengetik di kolom chat Zoom atau memberi komentar di YouTube. Demikian halnya dengan instrumen penilaian, sebisa mungkin mengacu pada gaya belajar siswa, sehingga setiap siswa akan terlayani kebutuhan belajarnya.

Adaptasi RPP Berdiferensiasi

Merujuk pada RPP berdiferensiasi moda online, saya mencoba menerapkannya di kelas tatap muka terbatas. Kelas terbalik tetap saya jalankan untuk memaksimalkan waktu belajar yang durasinya hanya satu jam. Di kelas XII MIA 4, XII IIS 1, XII MIA 2 dan XII IBB, setelah apersepsi, saya melakukan listening sederhana sebagai feedback terhadap materi yang telah siswa pelajari di rumah atau sesaat sebelum pembelajaran. Sepanjang semester ini, saya melakukan strategi ini. 10 kosa kata bahasa Inggris saya diktekan kemudian siswa menulisnya.


Pada tahap ini, saya dan siswa menyepakati untuk tidak mengakses YouTube atau alat bantu lainnya selain buku catatan mereka. Dengan menggunakan kartu bernomor, saya mencabutnya secara acak dengan panduan nomor urut daftar hadir siswa. 10 siswa terpilih secara bergantian maju ke papan tulis menuliskan apa yang mereka dengarkan. Lalu saya beri nilai. Ternyata, lewat strategi ini terdapat peningkatan dari waktu ke waktu. Artinya semakin banyak siswa yang mendapat nilai 100. Dengan demikian siswa telah belajar di rumah atau mereka telah belajar sebelum masuk di kelas. Sehingga di masa akan datang, strategi ini masih akan saya lakukan. Selain bisa menjadi penerapan pembelajaran berdiferensiasi, strategi ini turut andil membangun minat belajar siswa.

Selain di dalam kelas, pembelajaran berdiferensiasi saya coba terapkan di pengayaan sore hari. Sebelum memulai kelas, saya dan siswa sepakat bahwa selama kelas berlangsung, HP tidak boleh mereka operasikan karena akan mengganggu konsentrasi. Saya sampaikan, jika mereka nyaman maka saya senang dan sebaliknya. Kesepakatan berikutnya adalah belajar sambil bermain. Kartu bernomor dengan kartu merah berisi konten-konten tak terduga yang lucu ikut menemani kelas pengayaan.

Kartu sakti saya dalam mengajar. Sumber: Dok. Pribadi

Kartu bernomor yang saya gunakan sukses membuat siswa serius menyimak dan mengerjakan setiap soal. Mereka boleh berdiskusi dengan ketentuan tetap mematuhi protokol kesehatan. Tambahan pula, jika ada siswa yang salah, maka kartu merah yang saya siapkan menjadi “hadiah” baginya. Terasa singkat waktu 90 menit selesai oleh karena siswa belajar tanpa kantuk. Saya masih akan menggunakan strategi ini. Adapun kartu-kartu tersebut telah saya gunakan sejak tahun pertama mengajar, tahun 2007-sekarang.

Salam Guru Penggerak.

Share:
Lokasi: Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia