PROFIL

Yulius Roma Patandean, S.Pd., lahir di Tana Toraja, 6 Juli 1984. Menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Indonesia Toraja (2003-2007). Saat ini sementara melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Kristen Negeri Toraja.

MENGENALI PLATFORM PENDUKUNG BELAJAR ONLINE

Belajar dari rumah (BDR) merupakan salah satu tindak lanjut anjuran pemerintah untuk memotong rantai penyebaran COVID-19. Sekolah menyelenggarakan BDR artinya sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Bagaimanapun opsi mengumpulkan siswa di sekolah untuk proses pembelajaran masih menjadi pertimbangan serius. Terutama untuk wilayah dengan zona orange, merah hingga hitam pandemi COVID-19.

BDR dan PJJ di Masa Pandemi Covid-19

Di awal tahun 2021, tepatnya pada awal bulan Februari ini, program Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi opsi pemerintah dalam memberikan pelayanan pendidikan. BDR dilaksanakan dalam dua acara, yakni Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) daring (online) dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) luring (offline). PJJ daring mengutamakan ketersediaan sumber daya internet, smartphone dan paket data. Sementara PJJ luring memanfaatkan layanan radio, TV Edukasi, modul, hingga pemanfaatan video pembelajaran dan sumber belajar lainnya di lingkungan peserta didik.

Cara Memanfaatkan Video Pembelajaran di Kelas Digital dan Kelas Terbalik

Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) harus diakui sangat mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis digital. Digitalisasi turut pula mendorong lahirnya konten-konten video pembelajaran yang berkualitas. Tak bisa dipungkiri bahwa di masa akan datang, video pembelajaran akan banyak memuat bahan ajar berbasis real life, seperti video praktik Biologi berbasis virtual reality (VR). Jika saat ini pembelajaran di laboratorium sebatas mempraktekkan teroti yang siswa peroleh di ruang kelas, maka teknologi VR akan menghadirkan kondisi nyata ayng lebih mempermudah eksplorasi siswa.

MENGEFEKTIFKAN BELAJAR JARAK JAUH: MENGENALI MASALAH DAN MENEMUKAN SOLUSI

Mengajar secara jarak jauh telah menjadi salah satu kegiatan utama banyak pendidik saat ini. Seperti yang sementara berlangsung di berbagai negara, dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19, sekolah-sekolah di Indonesia, lewat kebijakan pemerintah, telah memilih aktifitas pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan secara umum pembelajaran berlangsung online.

Senin, 13 April 2020

KUNCI SUKSES JADI GURU BERPRESTASI



Agenda menulis kali ini diawali dengan tautan di https://youtu.be/FWBFNVvHi-8 yang merupakan link Youtube Encon Rahman, akrab disapa Kang Haji Encon. Beliau adalah guru berprestasi nasional dari Majalengka, Jawa Barat tahun 2016.



Nah sebelum masuk materi dari beliau, mari mengecap biodata Kang Encon berikut ini.

Penulis memiliki nama lengkap Encon Rahman. Ia lahir  di Majalengka pada tanggal 5 April 1972. Ia merupakan anak tunggal dari Ibu Ecoh (almh) dan Bapak Darmin (alhm). Encon Rahman sekolah di SD Negeri Cikampek XV kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Negeri Cigasong. Setelah lulus ia melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Majalengka.

Setelah itu ia merantau ke Bandung. Sambil bekerja Encon Rahman melanjutkan kuliah di Universitas Pasundan Bandung Fakultas Pendidikan dan Keguruan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikan di Unpas selanjutnya pada tahun 2002 ia menjadi santri karya di pesantren Daarut Tauhiid pimpinan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Enam tahun lamanya Encon Rahman mondok di pesantren  Daarut Tauhiid. Ia berkarya pada program Misykat Lembaga Dompet Peduli Umat (DPU) DT.

Pada saat mondok, Encon Rahman berhasil menjadi Juara II Tingkat Nasional tahun 2005 pada Sayembara Menulis Karya Ilmiah dengan judul “Distribusi Zakat Produktif sebagai Alternatif dalam Mengatasi Problem Masyarakat Prasejahtera”. Keberhasilan Encon Rahman dalam dunia tulis menulis mendorongnya pula menjadi pembicara, trainer, dan konsultan ekonomi mikro bersama Iwan Saktiawan di berbagai lembaga BUMN. Tercatat, ia pernah menjadi trainer di PT Arutmin Indonesia Kalimantan, PT Antam Bogor, PT PNM Cabang Jakarta, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka, PT Indonesia Power UBP Suralaya Banten, PT Indonesia Power UBP Merica Jawa Tengah, PT Indonesia Power UBP Saguling Jawa Barat, PT Pertamina UBP balongan Indramayu, PT Pelindo II, PT Jasa Raharja, PT Semen Gresik Jawa Timur, PT Bio Farma (persero) Bandung, dan Bank BRI cabang Bandung.

Kecintaannya pada bidang sosial-pendidikan mendorongnya untuk berkiprah pada tenaga pendidik dan kependidikan. Pada tahun 2006 Encon Rahman tercatat sebagai Guru berstatus PNS yang ditempatkan di Kabupaten Majalengka. Sebagai guru muda Encon Rahman terus berkarya dan berkarya. Pada tahun 2012 ia menjadi Juara III Kreativitas Guru tingkat Nasional dan juara II “Simposium Nasional Program BERMUTU” tingkat Nasional. Pada tahun 2013 Ia menjadi Juara Harapan I Forum ilmiah guru (FIG) SD Tingkat Provinsi Jawa Barat. Selanjutnya, tahun 2014 ia menjadi Finalis  Inovasi pembelajaran (INOBEL) tingkat nasional untuk jenjang SD. Pada Tahun 2015 Finalis “Anugerah Mahkamah Konstitusi Guru PPKn” Kelompok SD Tingkat Nasional dan juara I tingkat Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2016 Juara I guru berprestasi tingkat nasional dan Guru Inspiratif Jawa Barat “Anugerah Een Sukaesih Awards 2016”. Pada tahun 2017 Encon Rahman mendapat penghargaan sebagai guru internasional dari Princess Maha Chakri Awards (PMCA) Kerajaan Thailand. Pada tahun 2018 ia pun mendapat penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI, Joko Widodo sebagai guru berprestasi di bidang Pendidikan. 

Adapun karya yang sudah dipublikasikan antara lain, (1) Menulis 500 berupa cerita pendek, artikel pendidikan dan puisi ke surat kabar / majalah lokal dan nasional. (2) Menulis 6 buku pelajaran untuk Sekolah Dasar, (3) Menulis 2 buku sosial (4) Menggambar 150 kartun di surat kabar/majalah (5) Menulis Penelitian Tindakan Kelas setiap tahun dan dipubliksikan di jurnal ilmiah.

Dari berbagai prestasi yang diperoleh Encon Rahman bisa keliling ke luar negeri dengan gratis, yakni bisa melaksanakan ibadah Umroh, Mekkah tahun 2015, Studi Singkat ke Melbourne, Australia tahun 2016, Perjalanan ke Singapura tahun 2017, Melaksanakan Ibadah Umroh kedua kalinya, Mekkah tahun 2017, dan Menerima  Penghargaan Princess Maha Chakri Awards dari Kerajaan Thailand, Bangkok tahun 2017.

 
Well….Baiklah para pengunjung kuliah online yang rindu membaca, lanjut ya.... Kuliah kali dipandu oleh pak Bambang yang lebih ngeunah  disapa Mr. Bams;  beliau tak lupa menyapa Omjay  sebagai insan yang selalu luar biasa dan energinya yang tidak pernah habisnya. 

Kang Encon memulai dengan menyampaikan akan pengalaman dan trik bagaimana agar menjadi Guru Berprestasi tingkat nasional juga sekaligus menjadi Guru Berprestasi internasional mewakili bangsa Indonesia di kancah internasional. Menurut beliau, lomba guru berprestasi bukan hanya ada di Indonesia tetapi lomba ini juga diterapkan di negara-negara lain termasuk di Asia tenggara. Itulah sebabnya pemerintah setiap tahun selalu mengadakan lomba Guru Berprestasi. Lomba Guru Berprestasi termasuk ajang berprestasi dan bergengsi bagi seorang guru. Kenapa dikatakan demikian karena penilaian Guru Berprestasi lebih komprehensif dan menyeluruh dari berbagai faktor. Sebagaimana kita ketahui di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 jabatan guru itu adalah profesi. Seorang guru harus memiliki jabatan profesional di mana jabatan ini mencakup 7 M. Adapun yang dimaksud dengan 7 M adalah:
1.      Mendidik
2.      Membimbing
3.      Mengarahkan kan
4.      Melatih
5.      Menilai
6.      Mengajar
7.      Mengevaluasi
Apabila guru tidak memiliki ranah 7M ini maka akan menjadi pertanyaan besar karena guru adalah seorang profesional.

Pada sisi lain pemerintah selalu mengadakan lomba Guru Berprestasi baik dari tingkat jenjang satuan pendidikan TK, SD, SMP, SMA diantaranya memiliki tujuan, yakni:
  1. Mengangkat guru sebagai profesi terhormat mulia bermartabat dan terlindungi
  2. Meningkatkan motivasi dan profesionalisme guru dalam pelaksanaan tugas profesionalnya
  3. Meningkatkan persaingan yang sehat selalu pemberian penghargaan di bidang pendidikan
  4. Membangun komitmen mutu guru dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran menuju standar nasional pendidikan.
Selanjutnya Kang Encon berujar, “Dengan mengacu kepada  tujuan pemilihan Guru Berprestasi di atas maka kegiatan ini rutinitas diselenggarakan setiap tahunnya dengan izin Allah saya menjadi Guru Berprestasi Tingkat Nasional Juara 1 tahun 2016 dan  terpilih mewakili bangsa Indonesia untuk tampil di ajang internasional sebagai  guru terbaik Indonesia pada tahun 2017 dari negara Thailand, yakni penghargaan Princess Maha Chakri Awards (PMCA).”

Untuk menjadi Guru Berprestasi tidak mudah dan juga  tidak mustahil. Kenapa dikatakan demikian? Sebagaimana disampaikan di awal, menjadi Guru Berprestasi merupakan ajang prestasi dan prestise tertinggi bagi karir seorang guru. Jika dalam lomba lomba sejenis yang diadakan oleh  Kemendikbud seperti INOBEL, LKG, OGN dan sejenisnya itu baru bagian terkecil dari komponen Guru Berprestasi. Berdasarkan kondisi itu, bagi rekan rekan guru yang tertarik akan mengikuti ajang lomba Guru Berprestasi harus dipersiapkan sejak dini. Nah, apa saja persiapan Kang Encon untuk menjadi juara 1 Guru Berprestasi tingkat nasional?

Kang Encon, “Pada kesempatan ini saya akan membongkar rahasianya  kenapa saya menjadi juara Guru Berprestasi dan menjadi guru inter nasional mewakili Indonesia tahun 2017 seperti yang beliau ceritakan di https://youtu.be/FWBFNVvHi-8. Ini adalah video penghargaan dari PMCA ketika saya menjadi penerima guru internasional di Thailand. Adapun rahasia sukses menjadi Guru Berprestasi hanya dua saja. Satu memiliki amalan batiniah. Kedua memiliki amalan lahiriyah.

Lanjut…… di bawah ini adalah beberapa kutipan isi diskusi yang menghiasi meeting kali ini. Yuk…nyimak!!

Setelah saya membuka youtube pak haji encom Rahman saya sangat termotivasi dengan cara mengajar yang menyenangkan kan. Yang ingin saya tanyakan bagaimana trik trik untuk mendapatkan penghargaan maha cakri award (Edi Syahputra.H dari Aceh)

Namun, sebelum ke jawaban Kang Encon, tiba-tiba Mr. Bams menyelia chattingan para guru super yang setia memandangi uraian chat yang mengalir tiada henti di WA Group untuk  mengisi daftar hadir di  bit.ly/absenkmg8   sambil menunggu jawaban dari Kang Haji Encon. Mr. Bams  menyambung, “Pengalaman menjadi guru prestasi sepertinya tidaklah mudah. Bila kita semua membaca apa yang disampaikan. Buat saya justru ada hal yang menarik.”

Menurut Kang Encon, untuk mendapatkan penghargaan Princess Maha Chakri Award dari PMCA tidaklah mudah. Dikatakan tidak mudah karena kita akan mewakili atas nama bangsa Indonesia di forum kancah internasional. Kemendikbud selaku regulator dalam menyeleksi calon penerima penghargaan internasional tentu harus mengikuti persyaratan yang sesuai dengan acuan yang disampaikan oleh PMCA dari kerajaan Thailand. Salah satu indikatornya harus menjadi  Guru Berprestasi. Utusan dari negara lain pun sama mereka adalah para Guru Berprestasi di negara asalnya.

Rusmin dari Kab. Barito Kuala Kalimantan Selatan: Guru Berprestasi apa saja unsur-unsur yang dinilai, dan untuk ikut seleksi Guru Berprestasi apa saja yang harus dipersiapkan?”

Kang Encon menguraikan demikian, “Unsur-unsur yang dinilai untuk seleksi Guru Berprestasi adalah empat kompetensi yaitu kepribadian sosial profesional dan pedagogik. 4 unsur komponen tadi harus dibuktikan dalam bentuk portofolio, wawancara, tes, presentasi dan sikap kita pada saat mengikuti ajang Guru Berprestasi. Memiliki tulisan yang dibukukan atau artikel di surat kabar merupakan salah satu penilaian dari pihak juri dari unsur profesional. Itulah sebabnya rekan-rekan yang ingin menjadi Guru Berprestasi harus memiliki modal diantaranya tulisan-tulisan atau artikel yang pernah di di muat di surat kabar. Kumpulkan dari sekarang buku tulisan piagam dan sejenisnya untuk dijadikan salah satu bukti pada portofolio. Saya sendiri pada waktu mengikuti ajang Guru Berprestasi tingkat nasional  menyodorkan sekitar 150 lebih tulisan artikel yang dimuat di surat kabar dan buku-buku yang dicetak dan diterbitkan oleh penerbit mayor sehingga dengan ijin Allah saya berhasil menjadi juara.”

Nah, bagaimana dengan trik memotivasi diri untuk menjadi Guru Berprestasi. Jawaban Kang Encon, “Motivasi utama saya menjadi Guru Berprestasi adalah ingin menjadi contoh kebaikan dan menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Dengan wasilah Guru Berprestasi saya mendapat banyak nikmat dari Allah selain uang popularitas juga karir di bidang keguruan. Mudah-mudahan takdir ini menjadi jalan saya lebih taat kepada Allah. Dari ajang Guru Berprestasi juga alhamdulilllah saya bisa berangkat ke Tanah Suci dan ke beberapa negara dengan biaya gratis.

Next, untuk mengemban tugas 7 M.... salah satunya mendidik, kadang-kadang  terkendala dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, bagaimana mengatasinya? Menurut kang Encon, cara mendidik agar tidak bentrok dengan undang-undang perlindungan anak, maka yang harus kita lakukan adalah mengikuti norma dan adat kebiasaan di daerah tersebut selain tentunya sekolah dan masyarakat melalui ketua komite sekolah melakukan MOU terkait pola pendidikan anak di sekolah.

Menu utama dari Kang Encon, yakni proses menjadi Guru Berprestasi sebagai berikut:
Persiapkan dengan baik apa yang dibutuhkan dalam lomba tersebut dengan berdasar kepada pedoman lomba Guru Berprestasi yang selalu disampaikan pemerintah setiap tahunnya.

  1. Jangan mau menjadi peserta Guru Berprestasi karena desakan pihak luar misalnya PGRI atau kepala sekolah padahal kita belum siap karena jika kita tetap memaksakan untuk ikut ajang Guru Berprestasi padahal kita tidak siap hanya akan menghabiskan biaya tenaga pikiran dan waktu saja.
  2. Karya tulis untuk bekal Guru Berprestasi adalah buku-buku karangan sendiri atau keroyokan / antologi dan tulisan kita yang pernah dimuat berbagai media cetak. Itulah sebabnya pada tanggal 1-30 Mei saya akan  membuka kursus menulis artikel untuk konsumsi surat kabar dan majalah. Saya berharap pengalaman saya  selama ini menjadi penulis freelance di berbagai surat kabar dan majalah hingga mencapai 500 tulisan yang pernah dimuat di media cetak  bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang akan ikut kursus menulis artikel.
  3. Persiapkan juga media pembelajaran, bimbingan kepada rekan guru, dan bimbingan kepada anak-anak kita hingga menjadi juara.”

Rahasia besar menjadi Guru Berprestasi adalah Satu memiliki amalan batiniah
Kedua memiliki amalan lahiriyah. Apa saja contoh konkrit yang dilakukan dari kedua  amalan tersebut?

 “Salah satu amalan batiniah ketika kita akan mengikuti lomba Guru Berprestasi adalah jangan dengki kepada orang lain sesama peserta Guru Berprestasi. Kedua jangan sombong dan rasa bakal jadi pemenang karena kita merasa paling bnyk karya misalnya. Perlu saya katakan sejujurnya kalau pada ajang Guru Berprestasi ada rasa dengki sombong dan bakal menang malah akan terjadi sebaliknya. Itulah sebabnya hilangkan seluruh penyakit hati pada saat kita mengikuti ajang Guru Berprestasi baik mulai dari Kecamatan hingga nasional. Adapun amalan lahiriahnya adalah isi seluruh komponen portopolio dgn benar.”

Adakah bentuk perhatian yang diberikan pemerintah terhadap Guru Berprestasi, apa saja?
 “Selanjutnya bentuk perhatian yang diberikan pemerintah terhadap Guru Berprestasi, selain uang tunai 30 juta, laptop dan juga bisa  studi banding ke luar negeri juga kita sering diundang menjadi pembicara di berbagai tempat dari Kemendikbud.”

Kisah paling kelam/dukanya saat mencoba meraih guru berprestasi? Terus bagaimana kang Encon bisa bangkit? Punya kata mutiara ‘nggak?

  1. Kisah paling sedih saat menjadi guru berprestasi diantaranya jangan ketergantungan kepada dinas perihal biaya dalam proses mengikuti ajang Guru Berprestasi. Kita harus mandiri. Menjadi Guru Berprestasi butuh modal, kesabaran, dan ketawakalan yang yang luar biasa.
  2. Saya selalu bangkit Dan terpacu untuk menjadi yang terbaikmu karena selalu berdoa kepada Allah dan fokus dalam bekerja. Man Jadda wajada.
  3. Kata mutiara, jangan takut berbuat salah tapi takutlah tidak bisa memperbaiki kesalahan
Untuk menciptakan cara belajar yang menyenangkan, masih menjadi masalah bagi saya.... kadang sudah jalan, namun beriktunya berhenti lagi...bagaimana kita Kang Encon untuk menciptakan produktivitas dan konsistensi terhadap penciptaan cara belajar kreatif.
“Untuk menciptakan produktivitas dan konsistensi diri yang kreatif modalnya adalah pembiasaan secara Istiqomah. Kemudian banyak belajar dari orang lain dan jangan merasa lebih hebat dari orang lain. Itulah sebabnya saya selalu bertanya dan menyimak pembicaraan orang lain dgn maksud untuk menambah ilmu.”

Sarastiana yang hadir bersama pendampingya, yakni laman yang identik dengan nama beliau http://www.sarastiana.com/2020/02/profil.html?m=1. Ia berkata, “Saya sebatas Guru Berprestasi maksimal baru tingkat propinsi.... beberapa kali tingkat kabupaten, mentok di propinsi hehe... yang kemudian jadi pertanyaan saya, saya rasakan hanya sebatas mengumpulkan portofolio saja saat pelasanaannya.

 “Guru Berprestasi secara cara fisik akademis dan profesional dinilai dari sudut portofolio. Namun untuk aspek pedagogik kepribadian dan sosial itu dinilai dari gesture wawancara cara presentasi dan performen pada saat kita ikut lomba.”

Upsss….Mr. Bams membunyikan sirene, “Karena waktu yang tersisa 12 menit lagi, di belakang masih ada lebih dari 20 pertanyaan. Ijinkan bila waktu habis saya kirin ke Kang Haji dalam bentuk apa? Email atau WA lagi?” Kang Encon meminta agar pertanyaan tersisa dikirimkan melalui WA pribadi beliau di 081313178979.

Menjelang kapal berlabuh, ibu Eva  dari NTT mengutarakan unek-uneknya: “Sebagai seorang guru sangat ingin meningkatkan kompetensi dengan mengikuti ajang perlombaan perlombaan yang banyak diadakan, namun terkadang dukungan dari lingkungan sekitar terutama lingkungan sekolah tempat kita bekerja, terkadang justru tidak memberikan ruang untuk kita bisa berkembang, terasa ada sekat ketika melihat prestasi yang kita peroleh,   Sekolah tidak menghususkan memberikan apresiasi secara langsung kepada guru, sebai bentuk motivasi bagi peserta didik. Bukan tujuan untuk mendapatkan pujian atas prestasi itu, sebagai manusia kita tentunya butuh motifasi lebih agar semangat itu terus ada. Bagaimana  menurut bapak. Kira-kira apakah ini merupakan salah satu bagian dari ranah amalan batiniah. Amalan-amalan apa saja yang perlu dilakukan untuk menetralisir rasa kecewa ketika terabaikan.”

Kang Encon pun membalas, “Sebagaimana saya sampaikan bahwa motivasi saya mengikuti ajang lomba bukan mengejar hadiah 30 juta dari kementrian atau yang lainnya, niat awal saya adalah menjadi jalan kebaikan dan menjadi contoh kebaikan. Dengan niat ini insya Allah banyak jalan.... dan Allah ridho sehingga apa yang saya inginkan tercapai dengan izin Allah.”

Sumarjiyati, Gunungkidul: Rahasia sukses untuk menjadi guru prestasi adalah memiliki amaliah batiniah dan amaliah lahiriyah. Untuk amaliah batiniah mungkin melalui doa-doa tertentu atau amalan apa?
Sedangkan untuk lahiriyah, menjaga kesehatan dan mempersiapkan adminitrasi tertentu atau bagaimana?

“Benar sekali 2 amalan lahiriyah dan batiniyah ini menjadi modal saya agar menjadi sukses. Terus terang saya sampaikan di sini semua orang sukses dalam bidang apapun kuncinya cuma dua yakni amalan lahiriyah dan batiniyah. Ada juga doa-doa yang saya amalkan pada saat mengikuti Guru Berprestasi. Insya Allah jika Allah berkenan saya ingin mengupas lebih detil dua amalan ini  sekaligus juga saya ingin menjelaskan bagaimana cara melakukan wawancara, presentasi dan persiapan tes pada saat kita akan mengikuti lomba Guru Berprestasi. Tentunya dalam bentuk buku, mudah-mudahan tidak lama lagi buku ini akan hadir khusus bagi teman-teman yang berminat menjadi Guru Berprestasi, karena satu hal yang perlu diketahui bersama yakni pendidikan dan gelar seseorang bisa dikejar namun jam terbang seseorang tidak bisa dikejar. Jam terbang seseorang hanya bisa dikejar dengan cara belajar dan bergaul dengan orang yang bersangkutan.”

WONDERFUL!


Yulius Roma Patandean
(SMAN 5 Tana Toraja)
Share:

Minggu, 12 April 2020

MELURUSKAN NIAT MENERBITKAN BUKU

Edisi kali ini, pemateri adalah Founder Belajar Menulis di WA Group PGRI, Wijaya Kusumah, yang akrab disapa Omjay (sekiranya di Toraja, mungkin akan saya ubah panggilannya menjadi Pong Jay.... hehehe). Beliau seorang guru yang menurut pribadi saya begitu sensasional. Dibalik penampilan, gaya bahasa dan tutur katanya yang sederhana, tersimpan sebongkah mutiara yang sangat mulia nilainya bagi pertumbuhan dan perkembangan profesionalisme guru-guru di Indonesia. Seandainya di tiap provinsi yang ada di Indonesia terdapat kembaran-kembaran dari beliau (tapi bukan KW ya...hihihi), saya yakin masalah ketidakmampuan menulis sejumlah besar guru akan mulai teratasi,  terutama dalam menulis karya tulis ilmiah, makalah, artikel, Penelitian Tindakan Kelas, dan menulis buku yang diterbitkan dalam rangka menunjang angka kredit untuk kenaikan golongan bagi guru ASN. Berikut ini sekilas info tentang biodata Omjay:


1. Nama                          : WIJAYA KUSUMAH
2. Tempat/tgl lahir        : Jakarta, 28 Oktober 1970
3. Pendidikan                 :
  • S1-Elektro IKIP Jakarta 1990
  • S2-Teknologi Pendidikan UNJ 2007
  • S3 – Teknologi Pendidikan 2009

4. Prestasi :
  • JUARA I LKT Imtak (2005)
  • FINALIS PLB (2006)
  • FINALIS IT (2007)
  • FINALIS LKGDP(2008)
  • PEMENANG I BUKU PUSBUK (2009)
  • JUARA I BLOG PUSAT BAHASA (2009)
  • PEMAKALAH SIMPOSIUM (2010/2011)
  • JUARA II GURARU ACER AWARD (2011)
  • Guru Paling Ngeblog Kompasiana (2012)
  • Terfavorit III BSM Edu Award 2012
  • Juara II Lomba Pidato Nasional OJK (2013)

5. Pekerjaan: GURU TIK & Dosen STMIK Muh. Jakarta

Kembali ke materi Belajar Menulis di WA Group PGRI, Omjay mengawali materinya dengan live di channel Youtube-nya dengan link http://youtube.com/wijayalabs . Dalam materi live tersebut, Omjay menampilkan sejumlah dokumentasi tentang hari-hari bersejarah dalam hidupnya sebagai guru, diantaranya pernah jadi narasumber di Berita Satu secara live; bertemu Mendikbud saat itu, Anies Baswedan; merilis buku berjudul Blogger Ternama, Aku Bangga Jadi Guru Blogger dan Catatan Harian Seorang Guru Blogger; tak lupa pula ditampilkan sekilas beliau pernah bertemu bapak presiden Joko Widodo di Istana Negara, Wakil Presiden Jusuf Kalla, memperoleh beasiswa ke Tiongkok sebagai pengurus PGRI, dan .... kunjungi Youtube Omjay deh.
Selepas live di Youtube, beliau melanjutkan materinya. Tak lupa mengawalinya dengan  ucapan terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah ikut berkumpul di WA Group PGRI dan mengajak untuk meluruskan niat dari sekarang untuk mulai menulis dan menerbitkan buku. Semua peserta wajib menyelesaikan bukunya di akhir pertemuan kuliah online dan sudah mulai fokus untuk mencicil sedikit demi sedikit. Kurikulum materi dan narasumber Omjay sudah buat di blog https://omjaylabs.wordpress.com/. Dalam blog ini, terdapat sejumlah materi inspiratif, yakni Semua Orang Bisa Menjadi Penulis Buku Best Seller, Belajar Menulis dan Ngeblog Bersama Omjay, Menulis 3 Alinea (dijelaskan dengan video Youtube, https://youtu.be/G-FRM8CXCxo ),  Belajar Menulis Gratis Lewat WA Group, https://youtu.be/BYHUERbaQdM (Jangan lupa klik tanda merah dan Subscribe...hehehe), Membangun Personal Branding, and.....let’s visit Omjay’s blog .
Di samping itu kita diajak untuk tamasya ke laman blog https://omjaylabs.wordpress.com/2020/03/05/bisakah-belajar-menulis-di-wa-group/ dan sejumlah laman blog lainnya yang tertuang dalam tulisan ini, yang ilmunya bisa kita terapkan dalam menulis.
Omjay mengingatkan bahwa kita akan menghasilkan dua buah buku, pertama buku hasil resume kuliah online dari para nasasumber dan kedua, buku bebas dari apa yang kita suka dan kuasai, bisa buku fiksi atau buku non fiksi.
Selain itu, Omjay memberi pesan, “Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya dan posting di blog agar banyak orang yang membaca karya tulis kita di internet. Materi yang diberikan oleh para narasumber akan bagus sekali bila dibagikan kepada guru-guru yang belum sempat mengikuti program belajar menulis gratis dari PGRI. Kita biasakan berbagi ilmu dan pengalaman dalam bentuk tulisan. Sebaik baik manusia adalah yang mau belajar dan mengajarkannya.”
Tak lupa Omjay mengingatkan semua peserta untuk mengisi daftar peserta di http://bit.ly/dafkelasmenulis, dengan penekanan bahwa peserta yang belum pernah mengisi silahkan mengisi dan buat peserta yang sudah pernah, tidak perlu mengisi lagi agar tidak double. Kecuali ada kesalahan dalam pengisian data.
Selanjutnya, Omjay memberi pesan untuk berkolaborasi dengan kawan-kawan peserta lainnya di WA Group, berinisiatif untuk menjadi pemimpin dan guru penggerak di wa groupnya karena kita semua adalah guru penggerak. Kolaborasi artinya kita tak hanya mementingkan diri sendiri tapi juga mengajak peserta lain yang kesulitan untuk menulis menjadi terbantu untuk menerbitkan bukunya.
Kurang banyak membaca membuat tulisan kita kurang berkualitas dan di belajar menulis inilah kita ditantang untuk berlatih menulis. Kita belajar bersama untuk menerbitkan buku. Nara sumber yang baik hati telah memberikan semua ilmunya kepada kita dan disinilah kita perlu meluruskan niat menerbitkan buku.
Sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta, “jika menulis sebuah buku biasanya ada bagian daftar pustaka, sementara jika hasil resume pembelajaran selama kelas online ini dibukukan, berarti buku yang terbit, tanpa daftar pustaka, apakah boleh? Ataukah resume harus dilengkapi dengan buku-buku dari para narasumber?” Omjay menjawab, “Buku-buku dari para narasumber bisa kita jadikan daftar pustaka dan juga tulisan kawan-kawan peserta yang bagus dan keren di blog bisa dijadikan daftar pustaka. Itulah mengapa saya mengajak kawan-kawan untuk saling berkunjung dan berkomentar ke blog peserta lainnya. Blog walking itu penting agar kita menemukan gaya menulis diri sendiri. Sebab setiap orang punya gaya menulis yang berbeda beda.”
Untuk membuat tulisan menjadi buku, dibutuhkan outline atau kerangka tulisan, termasuk tema. Terkadang ketika sudah muncul ide menulis ternyata buku-buku sejenis sudah banyak yang terbit dan penulisnya pun orang-orang hebat, bagaimana menyikapinya dengan ide sendiri dan tema yang berbeda? Pada poin ini, Omjay berujar, “inilah yang saya sebut kita harus mampu mengembangkan kreativitas dan imajinasi. Saat kita menulis, usahakan jangan copy paste tulisan orang lain. Sehingga apapun yang kita tuliskan menghasilkan informasi baru bagi pembaca. Buatlah setiap pertemuan kuliah online kita bermakna dan membuat kita menemukan ide segar dalam menulis. Selain itu Omjay menganjurkan untuk perlu membeli buku karya Akbar Zainudin dan Buku Menulis Tanpa Ide karya Budiman Hakim. Omjay membari gambaran bahwa dari resume yang dikirimkan peserta ke email beliau, ditemuka banyak peserta yang sudah menemukan idenya dan telah berhasil membuat tulisannya enak dibaca. Seperti tulisan ibu Tere yang setiap hari bisa mendapatkan 8000 orang netizen berkunjung ke blognya.
Jika kita seorang guru yang mengajar teknik sepeda motor, apakah memungkinkan kalau menulis buku materi pembelajaran, tapi sumber materi diambil dari beberapa sumber (bukan bersumber dari pribadi kita selaku guru)? Apa kata Omjay? Beliau menjawab, “Sangat memunngkinkan. Orang bijak bilang pengalaman adalah guru yg terbaik. Cobalah meramu semua bahan bacaan menjadi tulisan yang lebih bermutu dan mencerahkan pembaca.”
Seorang peserta kuliah online, Sumarjiyati mengutarakan pertanyaan historis seperti ini, “Dari awal om nulis di blog, tulisan apa yang om tulis hingga mengantarkan om menjadi blogger ternama? Bagaimana menumbuhkan kreatifitas kita sebagai guru om?”  Omjay replied, “Terus terang saya bingung mau menulis apa ketika bikin blog. Hari itu saya buat blog dan hari itu pula saya meninggalkannya.” Namun saya kemudian terinspirasi dengan blog pak Agus dan pak Dedi. Dua orang kakak beradik ini menuntun saya menjadi blogger ternama. Saya banyak belajar dari blog http://gurukreatif.wordpress.com dan http://dedidwitagama.wordpress.com. Akhirnya saya menemukan mantra ajaib menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Sebagai guru yang belajar ngeblog, kita dapat mengunduh bukunya, gratis di http://wijayalabs.wordpress.com.
Pengalaman tidak menyenangkan selama jadi guru blogger adalah saat tulisan kita diambil orang lain tanpa mencantumkan nama kita. Menulis di blog adalah cara saya berbagi ilmu dan pengalaman. Saran Omjay menulislah dari hatimu agar engkau dapat bertemu pembaca setiamu blog yang anda kelola dan anda akan konsisten menulis di blog.
Omjay mengajak para guru untuk memanfaatkan momentum ini, abadikan dalam bentuk tulisan. Tulisan itu akan menjadi penanda sejarah bahwa kita pernah melakukan pembelajaran dari rumah dan siswa belajar di rumah. Pembelajaran ini disebut dengan pembelajaran daring. Ingin menjadi bagian dari penanda sejarah? Baca tautan ini http://kelaskuonline.id/antologi-penanda-sejarah/.
Terakhir, jika blog kita belum memiliki domain, agar bisa dibaca oleh banyak orang, maka solusinya adalah  kita kirimkan alamat blog kita ke media sosial. Misalnya, http://omjaylabs.blogspot.com  dapat dikirimkan ke semua media sosial yang diikuti oleh Omjay atau http://romadean.blogspot.com dicantumkan linknya di pesan WA atau status di Facebook, pesan Messanger, Instagram, Twitter, dll yang penulis gunakan.
Eitss, hampir lupa, ayo mampir ke blog sahabat kita https://rianiastt.blogspot.com/, tentang pisang cokelat.....



Yulius Roma Patandean
(Guru di SMAN 5 Tana Toraja, Sulawesi Selatan)




Share:

Sabtu, 11 April 2020

Bagaimana Mencari Ide dalam Menulis dan Bagaimana Melipatgandakan Pembaca


Materi pada pertemuan ini dibawakan  oleh bapak Agus Sampurno. Beliau adalah salah satu pemenang Guru Era Baru Acer Award tahun 2012 dan pernah bersama Omjay  (Bpk. Wijaya Kusumah) untuk mengelola blog http://guraru.org.

Menurut bapak Agus Sampurno, ide sebenarnya mudah dicari dan ditemukan, yang sulit adalah cara melakukan eksekusi hingga menjadi sebuah tulisan. Dalam menulis banyak hal yang menarik dan bisa dinikmati prosesnya. Dalam mencari ide menulis ada banyak pemicu yang bisa berujung pada terbitnya sebuah tulisanKita bisa memulai dari hal yg biasa dilakukan oleh seorang yang baru belajar menulis dan bisa berujung pada kebosanan

Beberapa kesalahan yang biasa dilakukan oleh seseorang yang belajar menulis adalah 1) Ia menulis dengan menjadikan dirinya sebagai peran utama, ia sibuk menceritakan dirinya sendiri. Tulisannya bukan fokus pada bagaimana menuntaskan pertanyaan atau sebuah solusi permasalahan; 2) Tulisannya tidak dibaca ulang sebelum diposting. Tidak ada yang namanya self-checking; 3) Tulisannya terlalu panjang dan mengandung banyak ide besar di dalamnya

Ketiga hal ini adalah hal yang mesti dihindari dalam konteks blog di internet yang punya banyak keterbatasan. Keterbatasan yang saya maksud adalah saat di internet anda ada di lautan informasi yang benar benar tanpa positioning yang pas, tulisan anda tidak akan dibaca orang.

Salah satu hal yang menjadi trending topic sekaran ini adalah mengenai Pembelajaran Jarak Jauh. Menyikapi situasi ini ada beberapa hal yang bisa seorang bisa menulis dari beberapa perspektif, yakni:

1. Persepektif sebagai pendidik yang merasa dirinya sukses; ia akan menceritakan bagaimana dirinya sukses mengampu pembelajaran online, dengan menceritakan kesehariannya dalam mengajar secara online. Ia lupa banyak pendidik diluar sana yang masih berjuang mengatasi kendala.

2.  Perspektif sebagai pendidik yang menyalahkan orang tua siswa yang kurang sigap mendampingi anaknya dalam pembelajaran jarak jauh.

3.     Perspektif pendidik yang mencoba memberikan jalan keluar berdasarkan pengalamannya. Ia berperan memberikan pertimbangan, tips dan trik bagi kedua belah pihak, bagi orang tua siswa dan guru.

Dalam dunia informasi yang deras saat ini, cara mengajar online kemudian banyak dicari orang. Di google setelah diketik kata kunci 'cara mengajar online' maka langsung timbul beberapa prediksi dari google:

Ini berarti memang ada kebutuhan dari pengakses google mengenai topik diatas.

Sejumlah saran dan masukan serta pendapat muncul dalam diskusi seperti yang terangkum di bawah ini.

Cara mengatasi kelemahan pembelajaran jarak jauh,  terutama bagi siswa atau orang tua yang tidak memiliki media Teknologi Informasi dan Komunikasi yang memadai, padahal pembelajaran harus tetap berjalan adalah jika berkenan guru bisa memberikan penugasan seminggu sekali. Secara terjadwal setiap hari dalam seminggu, guru berikan penugasan yang terstruktur. 

Untuk kemudian ada kewajiban, guru mengambil atau siswa dan orang tua setorkan tugas siswa bersangkutan.

Dikatakan penulis menjadikan dirinya sebagai peran utama itu kurang bagus karena fokus pada dirinya, maksudnya adalah ini adalah ketika kita menulis tentang diri sendiri, harapan kita pasti ada yang membaca dan berikan tanggapan. Sayangnya jika tidak ada yang menanggapi pasti si penulis jadi malas menulis lagi. Padahal sebagai orang dewasa kita tidak terlalu suka membaca (semata mata) kisah orang lain. 

Orang lebih senang mencari sesuatu yang ada hubungannya dengan keuntungan atau kebutuhan dirinya. Hal ini sering dilakukan bagi penulis pemula karena belajar menulis ide berdasar diri sendiri. Dimulai dari yang mudah, yang bisa, yang dialami.

Ketika ingin sekali menulis, namun judul yang ditemukan sudah tertuang oleh orang lainm, maka cara menyikapi hal ini adalah mencermati tulisan orang lain lalu lakukan ATM (Amati Tiru dan Modifikasi).

Cara terbaik memberikan ‘roh’ pada tulisan adalah sebagai penulis, kita sudah tahu dalam satu kalimat, hal apa yang ingin kita sampaikan kepada pembaca. Sebuah buku yang tebalnya berlembar-lembar pun pada akhirya punya satu tema besar yang ingin disampaikan.

Jika ingin lebih semangat menulis karena mendapatkan tanggapan, tulislah dan berikan lah sumbang saran bagi sebuah hal yang sedang menjadi kegelisahan orang banyak.

Menulis di blog, kita bisa mengukur berapa orang yang sudah membaca tulisan kita.

Rahasia kreativitas Agus Sampurno adalah menggunakan media sosial untuk mengamati, bertemanlah di media sosial dengan orang yang tepat sesuai dengan bidang anda, maka akan banyak ide yang mengalir disitu.

Cara membangun konsistensi dalam menulis ide di blog adalah memilih topik yang dikuasai kemudian lakukan  riset kecil-kecilan di google, kemudian tampilkan tulisan anda sudah dengan solusi dari sebuah masalah, tuliskan di bagian apa anda merasa nyaman dan menguasai (tidak harus ahli atau menguasai sekali).

Terkait Pembelajaran Jarak Jauh, membuat penugasan mingguan. Kegunaan pembelajaran jarak jauh bukan untuk menggantikan pembelajaran yang ada di kelas (tatap muka), tapi sekedar menghangatkan otak dan ingatan siswa agar tidak kosong sama sekali, saat wabah Covid-19 sudah berakhir dan masuk sekolah kembali.

 Bagaimana melibatkan Facebook dalam membuat kita bersemangat menulis. Menurut pak Agus, semua dari kita pasti punya laman di Facebook, entah itu aktif atau tidak namun sepanjang pengalamannya, banyak sekali penulis yang menjadi viral hanya bermodalkan tulisan/status di facebook. 

Terdapat eksperimen mengenai bagaimana facebook bisa melipatgandakan pembaca tulisan kita. Beliau mengambil perspektif nomor 3 yang telah dipaparkan pada bagian awal di atas. 

Contoh eksperimen yang beliau berikan adalah tulisan dengan judul: 5 Cara Menghindari Kesalahan dalam Memberikan Penugasan di Kelas Online. Adapun pengembangan tulisannya seperti di bawah ini:

1.     Paragraph pembuka: Menjadi viral baru baru ini status dari para orang tua siswa yang kelelahan saat mesti mendampingi anaknya belajar secara online. Hampir semua orang tua mengeluh betapa kewajiban mendampingi anaknya menjadi hal yang luar biasa berat. Pihak yang mencoba bijak pasti akan mengatakan bahwa saatnya orang tua siswa menyadari bahwa mendidik itu tidak mudah. Sebuah hal yang tidak akan laku dimata orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta di kota besar yang bayarannya pastinya lumayan. Hal yang sama juga tidak akan berlaku bagi orang tua yang mungkin punya banyak halangan dalam mendampingi anaknya, mulai dari dirinya yang mesti bekerja sampai tingkat pendidikan yang kurang menunjang.

2.     Paragraph isi: Ada beberapa kesalahan yang dilakukan pendidik ketika menyelenggarakan kelas online ditengah wabah Covid 19 ini:

a.   Guru berniat sekali menggantikan kelas tatap muka nya dengan kelas online. Ini akan menimbulkan masalah baru karena pastinya waktunya akan panjang dan materinya berat. Solusinya: memberikan penugasan mingguan yang disitu sudah ada deadline atau batas waktu yang terjangkau dan terukur. Hal ini akan menghindari kerumitan bagi orang tua siswa.

b. Guru belum melakukan pembagian antara mana siswa yang lebih cocok diberikan tugas online dan offline. Jika ini terjadi maka guru kerap hanya berfokus pada penugasan yang online saja.  Saat yang sama ia akan bingung mengapa ada siswa yang responnya lambat. Solusinya: Saatnya berikan pilihan pada ortu siswa apakah ingin tugas yang online atau yang offline. Jika online berarti orang tua sudah mengetahui mesti tugas menggunakan platform apa dan kapan mesti dikumpul. sementara untuk tugas offline mesti ada perjanjian pengumpulan tugas yang disetujui guru dan orang tua siswa.

c.    Guru hanya sibuk memberikan tugas kepada siswanya, namun tidak menemani orang tua siswanya dalam situasi krisis ini. Semua orang tua siswa menyadari bahwa tinggalnya anak mereka di rumah adalah keputusan diluar kemauan sekolah. Untuk itu solusi terbaik adalah luangkan waktu untuk satu hari diadakan diskusi antara guru dan orang tua siswa, caranya bisa macam macam bisa lewat grup chat atau menyebarkan survey mengenai keinginan dari orang tua siswa.

d.   Guru memberikan penugasan yang bertipe High Order Thinking Skills atau HOTS. Ada juga guru yang menyuruh siswanya melakukan sesuatu yang memerlukan persiapan . Sebagai contoh ada orang tua siswa yang mengeluh anaknya diminta berpakaian adat kemudian di foto dan fotonya dikirim ke gurunya. Solusinya: berikan tugas yang memerlukan pendampingan minim dari orang tua siswa. Saat memberikan tugas, guru juga bisa menyelipkan panduan singkat bagi orang tua. Guru juga bisa memberikan estimasi waktu pengerjaan, sehingga orang tua yang sibuk bisa memperkirakan kapan ia mesti membantu, menyesuaikan estimasi waktu yang diberikan oleh guru anaknya

e. Guru cenderung ingin menghabiskan target kurikulum. Hal ini bukanlah sebuah hal yang salah. Namun yang harus diingat bahwa kecenderungan tadi membuat seorang guru menjadi tidak fleksibel. Solusinya: Guru mesti menerima situasi bahwa saat ini adalah saat krisis yang terjadi diluar kehendak dirinya sebagai seorang guru. Untuk itu ketika seorang guru sudah menerima situasi ini maka ia akan lebih terbuka pada masukan sambil terus menerus mencari dan belajar dengan cara terbaik dalam mencari bentuk kelas online yang sesuai, atau jika beberapa minggu kemarin kelas online justru banyak menimbulkan masalah saatnya dicarikan skenario lain yang penting siswa tetap fokus dan siap belajar pada saat wabah telah selesai.

3.    Paragraph Penutup: Banyak sekali prediksi yang beredar mengenai kapan situasi pandemi ini akan berakhir. Di banyak kota di Indonesia, waktu belajar di rumah terus diperpanjang oleh pemerintah setempat. Ini berarti sebagai seorang praktisi perlu punya banyak ide agar kemitraan sekolah (guru) dan rumah tetap selaras.

Selanjutnya dilanjutkan dengan diskusi tentang cara melipatgandakan pembaca di facebook. Salah satunya melalui cara menulis judul, dengan menggunakan beberapa kata misalnya: 5 Persuasive Words That Controls Minds : You, Free, New, Now, and Secret.

Di akhir sesi bapak Agus Sampurno menekankan beberapa hal tentang melipatgandakan pembaca di facebook, yaitu:

ü Menulis ide bisa datang dari mana saja.  
ü Saatnya kita fokus pada cara mengemas ide tersebut.
ü Hal yang beliau praktekan saat ini adalah membuat tulisan lalu diletakkan didalam halaman Facebook.
ü Pada saat yang sama di postingan Facebook tadi kita letakkan link blog kita.
ü Dengan demikian blog kita akan semakin dikenal.

Sekian.


Share:

Jumat, 10 April 2020

5 CARA MENGHINDARI KESALAHAN DALAM MEMBERIKAN PENUGASAN DI KELAS ONLINE

Tulisan ini merupakan sebuah resume dari pemaparan bapak Agus Sampurno tentang bagaimana menyikapi situasi Pembelajaran Jarak Jauh di masa pandemi Covid-19, ditinjau dari perspektif pendidik yang mencoba memberikan jalan keluar berdasarkan pengalamannya. Pendidik berperan memberikan pertimbangan, tips dan trik bagi kedua belah pihak, bagi orang tua siswa dan guru.


Menjadi viral baru baru ini status dari para orang tua siswa yang kelelahan saat mesti mendampingi anaknya belajar secara online. Hampir semua orang tua mengeluh betapa kewajiban mendampingi anaknya menjadi hal yang luar biasa berat. Pihak yang mencoba bijak pasti akan mengatakan bahwa saatnya orang tua siswa menyadari bahwa mendidik itu tidak mudah. Sebuah hal yang tidak akan laku di mata orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta di kota besar yang bayarannya pastinya lumayan. Hal yang sama juga tidak akan berlaku bagi orang tua yang mungkin punya banyak halangan dalam mendampingi anaknya, mulai dari dirinya yang mesti bekerja sampai tingkat pendidikan yang kurang menunjang.

Ada beberapa kesalahan yang dilakukan pendidik ketika menyelenggarakan kelas online di tengah wabah Covid-19 ini.
  1. Guru berniat sekali menggantikan kelas tatap muka nya dengan kelas online. Ini akan menimbulkan masalah baru karena pastinya waktunya akan panjang dan materinya berat. Solusinya: memberikan penugasan mingguan yang disitu sudah ada deadline atau batas waktu yang terjangkau dan terukur. Hal ini akan menghindari kerumitan bagi orang tua siswa.
  2. Guru belum melakukan pembagian antara mana siswa yang lebih cocok diberikan tugas online dan offline. Jika ini terjadi maka guru kerap hanya berfokus pada penugasan yang online saja.  Saat yang sama ia akan bingung mengapa ada siswa yang respon nya lambat. Solusinya: Saatnya berikan pilihan pada ortu siswa apakah ingin tugas yang online atau yang offline. Jika online berarti orang tua sudah mengetahui mesti tugas menggunakan platform apa dan kapan mesti dikumpul. sementara untuk tugas offline mesti ada perjanjian pengumpulan tugas yang disetujui guru dan orang tua siswa.
  3. Guru hanya sibuk memberikan tugas kepada siswanya, namun tidak menemani orang tua siswanya dalam situasi krisis ini. Semua orang tua siswa menyadari bahwa tinggalnya anak mereka di rumah adalah keputusan diluar kemauan sekolah. Untuk itu solusi terbaik adalah luangkan waktu untuk satu hari diadakan diskusi antara guru dan orang tua siswa, caranya bisa macam macam bisa lewat grup chat atau menyebarkan survey mengenai keinginan dari orang tua siswa.
  4. Guru memberikan penugasan yang bertipe High Order Thinking Skills atau HOTS. Ada juga guru yang menyuruh siswanya melakukan sesuatu yang memerlukan persiapan. Sebagai contoh ada orang tua siswa yang mengeluh anaknya diminta berpakaian adat kemudian di foto dan fotonya dikirim ke gurunya. Solusinya: berikan tugas yang memerlukan pendampingan minim dari orang tua siswa. Saat memberikan tugas, guru juga bisa menyelipkan panduan singkat bagi orang tua. Guru juga bisa memberikan estimasi waktu pengerjaan, sehingga orang tua yang sibuk bisa memperkirakan kapan ia mesti membantu, menyesuaikan estimasi waktu yang diberikan oleh guru anaknya.
  5. Guru cenderung ingin menghabiskan target kurikulum. Hal ini bukanlah sebuah hal yang salah. Namun yang harus diingat bahwa kecenderungan tadi membuat seorang guru menjadi tidak fleksibel. Solusinya: Guru mesti menerima situasi bahwa saat ini adalah saat krisis yang terjadi diluar kehendak dirinya sebagai seorang guru. Untuk itu ketika seorang guru sudah menerima situasi ini maka ia akan lebih terbuka pada masukan sambil terus menerus mencari dan belajar dengan cara terbaik dalam mencari bentuk kelas online yang sesuai, atau jika beberapa minggu kemarin kelas online justru banyak menimbulkan masalah saatnya dicarikan skenario lain yang penting siswa tetap fokus dan siap belajar pada saat wabah telah selesai.

Banyak sekali prediksi yang beredar mengenai kapan situasi pandemi ini akan berakhir. Di banyak kota di Indonesia, waktu belajar di rumah terus diperpanjang oleh pemerintah setempat. Ini berarti sebagai seorang praktisi perlu punya banyak ide agar kemitraan sekolah (guru) dan rumah tetap selaras.


*Disadur dari pemaparan bapak Agus Sampurno (Salah satu pemenang Guru Era Baru Acer Award tahun 2012) pada kuliah online #BelajarMenulis_Gel.9; Binaan Omjay (Wijaya Kusumah) & PB PGRI.

Share:

AKTIVITAS DI TENGAH PANDEMI COVID-19


Terdapat kiat-kiat sederhana yang bisa diterapkan agar terhindar dari paparan Covid-19. Tetap di rumah saja dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif. Menggunakan masker ketika terpaksa harus bepergian dan selalu menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara lainnya. Senantiasa jaga stamina dengan istirahat yang cukup juga dapat dilakukan untuk menjaga imun tetap baik sehingga tidak rentan tertular.

Pendemi corona virus mengubah pola orang dalam bersosialiasi, bekerja, dan belajar di Indonesia. Melakukan social distancing atau jaga jarak ketika berinteraksi dengan orang lain di luar rumah. Work From Home dipilih sebagai opsi untuk tetap aktif bekerja dari rumah tanpa harus berkumpul di tempat kerja. Menjalankan metode, Learn From Home bagi para pelajar dan mahasiswa.


BPS Gereja Toraja berpartisipasi dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan tujuan menghindari berkumpulnya warga jemaat. Ibadah-ibadah rutin tiap hari Minggu dipindahkan ke rumah menjadi Worship From Home. Ibadah hari Minggu bisa dilaksanakan oleh pendeta jemaat dan sejumlah majelis gereja kemudian disiarkan secara live melalui media sosial facebook, instagram, YouTube dan layanan TV Kabel. Seperti ibadah Jumat Jumat Agung hari ini, BPS Gereja Toraja melakukan ibadah live dari Gereja Toraja Jemaat Elim Rantepao melalui TS Channel di YouTube. Selain itu, ibadah rutin rumah tangga dan OIG juga ditiadakan pelaksanaannya. Sementara itu, pelayanan ibadah insidentil seperti ibadah kedukaan juga dibatasi hanya sekali pelayanan yaitu ibadah pelepasan jenazah.


#RomaPatandean
Share:

Kamis, 09 April 2020

MENULIS, SEDERHANA DAN MISTERIUS

Menulis itu sederhana dan penuh misteri. Sederhana karena terdiri dari hanya satu kata dan tujuh huruf. Sederhana karena kita hanya perlu menggerakkan tangan untuk membentuk huruf demi huruf untuk merangkai kata. Akan tetapi, menulis juga penuh misteri. Mengapa demikian? Huruf demi huruf yang telah dirangkai membentuk kata-kata, kata-kata dirangkai membentuk kalimat, dan rangkaian kalimat menjadi sebuah paragraf, ternyata paragraf yang terbentuk tidak memiliki makna yang jelas. Ketidakjelasan makna ini muncul oleh karena tidak adanya topik yang termuat di dalamnya. Tidak ada topik yang dibahasakan. Sebelum memulai sebuah tulisan, pikiran dipenuhi dengan beragam ide yang indah, namun ketika mulai dituliskan, tiap ide mulai sulit untuk dibahasakan..... Di sinilah muncul kemisteriusan menulis. Menulis layaknya sebuah bongkahan batu besar, dipandang sejenak, gampang dipindahkan, tinggal digelindingkan, pindah tempat, tetapi ketika akan diangkat untuk dipindahkan, terasa berat. Demikianlah menulis, misterius. Pembaca pun bertanya-tanya, apa yang ada dalam tulisan ini? Seperti tulisan ini.........................................................

Salam.

Yulius Roma Patandean
SMAN 5 Tana Toraja
Share:

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia