PROFIL

Yulius Roma Patandean, S.Pd., lahir di Tana Toraja, 6 Juli 1984. Menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Indonesia Toraja (2003-2007). Saat ini sementara melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Kristen Negeri Toraja.

MENGENALI PLATFORM PENDUKUNG BELAJAR ONLINE

Belajar dari rumah (BDR) merupakan salah satu tindak lanjut anjuran pemerintah untuk memotong rantai penyebaran COVID-19. Sekolah menyelenggarakan BDR artinya sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Bagaimanapun opsi mengumpulkan siswa di sekolah untuk proses pembelajaran masih menjadi pertimbangan serius. Terutama untuk wilayah dengan zona orange, merah hingga hitam pandemi COVID-19.

BDR dan PJJ di Masa Pandemi Covid-19

Di awal tahun 2021, tepatnya pada awal bulan Februari ini, program Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi opsi pemerintah dalam memberikan pelayanan pendidikan. BDR dilaksanakan dalam dua acara, yakni Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) daring (online) dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) luring (offline). PJJ daring mengutamakan ketersediaan sumber daya internet, smartphone dan paket data. Sementara PJJ luring memanfaatkan layanan radio, TV Edukasi, modul, hingga pemanfaatan video pembelajaran dan sumber belajar lainnya di lingkungan peserta didik.

Cara Memanfaatkan Video Pembelajaran di Kelas Digital dan Kelas Terbalik

Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) harus diakui sangat mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis digital. Digitalisasi turut pula mendorong lahirnya konten-konten video pembelajaran yang berkualitas. Tak bisa dipungkiri bahwa di masa akan datang, video pembelajaran akan banyak memuat bahan ajar berbasis real life, seperti video praktik Biologi berbasis virtual reality (VR). Jika saat ini pembelajaran di laboratorium sebatas mempraktekkan teroti yang siswa peroleh di ruang kelas, maka teknologi VR akan menghadirkan kondisi nyata ayng lebih mempermudah eksplorasi siswa.

MENGEFEKTIFKAN BELAJAR JARAK JAUH: MENGENALI MASALAH DAN MENEMUKAN SOLUSI

Mengajar secara jarak jauh telah menjadi salah satu kegiatan utama banyak pendidik saat ini. Seperti yang sementara berlangsung di berbagai negara, dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19, sekolah-sekolah di Indonesia, lewat kebijakan pemerintah, telah memilih aktifitas pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan secara umum pembelajaran berlangsung online.

Kamis, 07 Mei 2020

MOTIVASI MENULIS BUKU DAN BERPRESTASI: JURUS SAKTI 3P

Selamat Hari Raya Waisak 2564 buat seluruh guru-guru luar biasa Indonesia yang merayakannya. Damai Waisak tahun ini membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi kita, secara khusus dunia pendidikan di Indonesia.

Tanggal di kalender boleh MERAH, namun semangat untuk belajar menulis di grup WA didikan guru blogger ternama Indonesia, bapak Wijaya Kusumah (Omjay), tetap hitam, sehitam tinta printer EPSON.

Mungkin karena tanggal 7 Mei 2020 ini statusnya RED sehingga materi kali ini memiliki sedikit perbedaan dengan mater-materi sebelumnya. Saya mengatakan sedikit, karena sebenarnya semua materi memberikan motivasi yang luar biasa untuk menjadi topangan pendukung lahirnya penulis-penulis dari guru-guru seluruh Indonesia.  Motivasi menulis buku adalah inti dari sharing hari ini. Lebih lengkapnya Motivasi Menulis Buku dan Berprestasi oleh bapak Imron Rosidi.

Imron Rosidi adalah seorang penulis buku, yang diawali dengan menulis LKS. Dari LKS ini justru ia mendapatkan semuanya, di mana saat itu LKS wajib dimiliki semua siswa. Ia menulis buku-buku umum untuk dilombakan di tingkat nasional. Ia 2 kali juara nasional. Selanjutnya menulis buku pelajaran dan sekarang aktif menulis buku perkuliahan dan umum.

Ia mulai menulis waktu masuk menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia dan mengikuti kegiatan HMP, Himpunan Mahasiswa Penulis. Banyak menulis puisi dan cerpen serta artikel populer di majalah kampus. Sejak menjadi guru 1989, pada tahun 1990 baru ada 1 buku yang terbit. Motivasinya muncul karena hinaan salah satu guru yang mengatakan mana ada guru D3 tulisannya diterbitkan. Sejak saat itu bukunya diterbitkan oleh penerbit YA3 Malang dan mulai saat itulah gairah menulisnya muncul.

Tahun 1990 membuat LKS yang banyak flowchart dan menyediakan cara mengisinya. LKS-nya setiap diterbitkan sebanyak 25rb eks dengan royalti 30 juta rupiah. Saat ini ia akan menulis buku MEWUJUDKAN SEKOLAH PARA PENELITI.

Sebenarnya tidak ada orang yang tidak memiliki kemampuan menulis buku. Semua orang bisa melakukannya. Tapi fakta yang ada adalah orang yang tidak mau menulis buku.

Mengapa demikian? Menulis itu menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan, dan kita semua pasti memilikinya. Sama halnya dengan seseorang yang bisa lancar berbicara. Setiap bertemu orang lain, langsung berbicara spontan, tanpa pikir. Seharusnya demikian pula dengan menulis. Baik berbicara dan menulis, keduanya sama, yaitu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan.

Bagaimana dengan KITA selaku guru? Yakinlah bahwa KITA juga pasti BISA menulis. Dari seorang guru menjadi seorang penulis.

Kita sebagai para guru hebat, seyogyanyalah kita memotivasi diri untuk menjadi guru penulis dan menjadi guru yang visioner. Menjadi seorang guru yang menghasilkan karya tulisan dalam bentuk buku.

Marilah kita mengepakkan sayap wawasan kita seperti rajawali. Membangun motivasi kita untuk menulis. Perlu diingat bahwa seseorang tidak menulis karena:
  1. Ia belum menemukan alasan mengapa harus menulis.
  2. Ia tidak tahu atau bahkan belum tahu bagaimana caranya menulis.
Sementara, menulis bisa terjadi karena adanya motivasi, dan ini tergantung pada motivasi yang ada pada setiap orang. Motivasi dalam menulis diantaranya:
  1. Menulis sebagai identitas diri
  2. Menulis untuk mendapatkan uang/royalty
  3. Menulis untuk mendapatkan popularitas
  4. Menulis karena terpaksa, misalnya diwajibkan menulis karena tugas.
  5. Menulis karena ingin berbagi inspirasi
  6. Menulis karena ingin menyuarakan kebenaran
  7. Menulis karena ingin menyebarkan ilmu
Selanjutnya, buku apa yang akan kita tulis? Jawabannya sederhana, jika ada buku yang sangat ingin kita baca tapi buku itu belum ada, maka TULISLAH buku tersebut.

Lalu, kemudian? Mari membangun fondasi mimpi kita untuk sukses menulis dengan memiliki syarat-syarat ini:
  1. Kita harus memiliki kemauan
  2. Kita harus memiliki ketekunan
  3. Kita harus memiliki kenekatan
  4. Kita harus rajin membaca, dengan banyak membaca maka kita akan siap untuk menjadi seorang penulis. Boleh jadi sebaiknya kita tidak usah menulis jika kita tidak mau membaca.
  5. Kita harus terus menulis dan jangan takut salah.
Di samping itu, pastikan memegang teguh prinsip menulis ini:
  1. Menulislah dengan jelek dan jangan takut salah, karena orang yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa. Dan kita harus setuju dengan prinsip ini.
  2. Menulis itu keterampilan, jadi harus terus berlatih.
  3. Diantara otak kita yang berjalan lancar dengan tangan kita yang mengetik, jauh lebih cepat otak kita.
Saat menulis anggaplah sedang berbicara. Kalau ada yang salah saat mengetik, mungkin salah huruf, kurang huruf, kalimatnya kurang baik. Biarkan saja. Terus menulis jangan takut salah.

Setelah dianggap selesai, mungkin  4 s.d. 6 paragraf, dibaca lagi sambil membenahi yang salah.

NON-FIKSI
Menulis buku fiksi mungkin merupakan proses menulis yang agak mudah karena bisa berdasarkan dunia imajinasi kita, namun bagaimana jika menulis buku non-fiksi? Menulis buku jenis ini memiliki kriteria kemampuan tersendiri. Nah, bagi kita yang ingin mewujudkan mimpi menghasilkan sebuah karya buku non-fiksi, maka kita perlu menerapkan kiat-kiat ini:
  1. Bacalah beberapa buku untuk menentukan layout buku dan gaya beberapa penulis
  2. Buatlah judul dan kerangka buku!
  3. Kumpulkan berbagai literatur yang mendukung!
  4. Lakukan pendalaman materi!
  5. Mulailah menulis dari bab yang sudah dikuasai!
  6. Apabila terjadi kemandekan, lakukan lagi pendalaman materi. Masalah kemandegan, belum selesai berhenti, itu karena kurangnya motivasi dalam menulis. Kalau menulis artikel populer, cerpen, puisi harusnya sekali duduk. Malamnya sebelum menulis, penuhi dulu wawasan kita tentang apa yang akan ditulis.
  7. Menulislah dengan tidak takut salah
  8. Setelah selesai, lakukan editing dari segi bahasa dan tanda baca!
  9. Terbitkan!

Tambahan pula, menulis buku non-fiksi bisa tidak berurutan. Bisa mulai bab 3 atau bab 5 atau bab 1. Tergantung pada materi mana yang telah kita pahami dan literaturnya lengkap. Beda dengan menulis novel yang harus dikerjakan secara berurutan.

Biarlah tulisan kita awalnya tidak terlalu bagus. Yakinlah, dengan terus berlatih akan ada peningkatan, baik dari segi kedalaman isi maupun bahasa.

Menulis bisa diawali dengan menulis buku kumpulan puisi, atau buku kumpulan cerpen. Setelah mahir bisa menulis buku umum, atau buku-buku motivasi dan buku pelajaran.

Mari kita mulai merealisasikan niat kita menulis dan menerbitkan buku dengan menggunakan jurus sakti dari Imron Rosidi, yaitu jurus 3 P: Paper, Person, dan Place.
  1. Paper, yaitu mengumpulkan literatur bacaan untuk mendukung sumber informasi dan memperdalam pengembangan ide kita. Sebagaimana pemain sepak bola. Dia bukan hanya harus terus berlatih. Tetapi dia juga perlu vitamin. Vitaminnya seorang penulis adalah buku-buku tentang teori menulis dan hal-hal lain yang berhubungan dengan menulis. Seorang penulis harus memiliki segudang buku. Saat akan menulis, penuhi meja dengan buku-buku yang akan ditulis, misalnya akan menulis buku penelitian, maka kumpullah buku-buku terkait itu.
  2. Person, yaitu berdiskusi dengan orang-orang yang mengerti tentang apa yang akan kita tulis.
  3. Place, yakni mendatangi tempat yang aakan ditulis. Misalnya menulis guru blogger Indonesia, maka tentunya harus datang ke kediaman Omjay.

Selanjutnya lanjutkan membuat kerangka buku dan mulai menentukan jenis buku. Tentukan jenis buku yang akan ditulis, apakah buku: buku pelajaran, antologi cerpen, antologi puisi, novel, buku agama, buku pendidikan, buku motivasi, buku umum/remaja, dstnya.

Berikut ini tersaji sejumlah kiat, saran, dan masukan untuk memperkaya ilmu kita dalam berlatih menulis.

Teknis menulis buku pelajaran yang menarik di era siswa milenial
Terlebih dahulu lihat siapa pembacanya. Masalah siswa sekarang lebih suka YouTube karena memang peradabannya sudah seperti itu. Setiap hari dan detik siswa membuka handphone, bukan membuka buku.

Paragraf
Paragraf itu gabungan kalimat yang koheren atau padu. Tiga cara agar tulisan kita padu:
  • Mengulang kata yang sebelumnya disebutkan,
  • Mengganti dengan kata lain yang sama maknanya, dan
  • Memberi konjungsi antar kalimat.
Paragraf itu terdiri atas 3 s.d. 5 kalimat, bisa 1 kalimat utama dengan 2 kalimat penjelas.

Paragraf bisa dimulai dari kalimat utama, yaitu kalimat yang perlu dijelaskan dan masih bersifat umum. Misalnya,  Pandemi Corona menyengsarakan banyak orang. Kalimat selanjutnya adalah penjelas dari kalimat tersebut. Jadi, berakhir apabila dianggap penjelasnya sudah cukup. Usahakan maksimal 5 kalimat.

Waktu Wajib
Penulis itu harus mau mengorbankan waktu. Sebagai contoh, Imron Rosidi, selain sekarang jadi kepala sekolah, ia juga mengajar di 2 pondok pesantren dan 1 perguruan tinggi dan masih sempat melatih pencak silat. Kapan menulis. Setiap malam dan setiap ada waktu luang. Harus ada waktu wajib, misalnya malam hari jam berapa s.d. berapa. Tanpa ada waktu wajib menulis, pasti sulit untuk menjadi penulis.

Menerbitkan buku di penerbit mayor
Untuk bisa ke mayor, usahakan kita sudah terkenal dulu. Untuk mengetahuinya bagaimana? Buka google, ketik nama dan asal. Kalau ada berarti sudah terkenal. Untuk mengetahui visi misi penerbit, buka google, atau datang ke toko buku. Cari buku yang selaras dengan buku yang ditulis.

Kenaikan Pangkat
  • Buku ber-ISBN nilai 3 dan kalau tidak nilai 1.5
  • Kalau puisi lebih dari 20 nilai 2, kalau lebih dari 40 nilai 4. Kalau cerpen lebih dari 10 nilai 2 dan kalau lebih dari 20 nilai 4
  • 1 artikel populer bisa dinilai asal diterbitkan.
  • Buku yang dinilai adalah buku pendidikan dan pembelajaran serta buku pelajaran.
  • Yang diseminarkan hanya laporan penelitian, misalnya PTK saja. PKB lainnya tidak diseminarkan.
  • 1 ijazah yang setingkat yang dinilai, ijazah lainnya pada tingkatan yang sama tidak dinilai.
  • LKS tidak bisa dinilai untuk syarat naik pangkat.
Kalau menulis buku dan digemari penerbit (buku umum), maka perlu menulis hal-hal yang saat ini sudah hit. Seperti tulisan tentang kiat belajar di rumah di saat pandemi virus corona atau tulisan yang berisi pengalaman orang-orang sukses, bagaimana saat dia menjadi siswa juga menarik. Jangan takut bukunya jelek dan jangan takut tidak laku.

Daftar pustaka hanya di akhir tulisan. Bisa juga dengan memberi footnote

Biasanya penerbit mayor tidak menerbitkan buku antologi yang royoan

Sebagai penulis pemula, ke penerbit indie atau menerbitkan sendiri dulu. Misalnya, satu buku selesai dan diterbitkan sendiri. Banyak orang beri apresiasi. Akhirnya tambah bergairah untuk menghasilkan buku-buku selanjutnya. Artinya dengan biaya sendiri, nanti kalau dirasa tulisan kita bagus, baru kirim ke mayor. Ingat lihat visi penerbit.

Seorang penulis itu harus selalu mempersenjatai dirinya denga sebuah pena. Sekarang bisa dengan HP untuk mencatat ide yang muncul tiba-tiba. Jangan menunda. Terus tentukan, tulis dalam bentuk yang paling sederhana, misalnya artikel populer. Ini hanya 3 s.d. 5 halaman. Baca terus dan kirim ke majalah atau surat kabar. Misalnya ke radar dulu. Satu kali terbit maka nama jenengan akan dicatat oleh tim redaktur.

Setiap orang berbeda. Gairah dan motivasi, keduanya sejoli dan berjodoh. Misalnya, ketika ada motivasi aku harus menulis agar siswaku bangga, saat itu bisa muncul gairah. Gairah ini akan terus bertambah ketika tulisan kita terbit. Waduh, akhirnya terus menulis dan menulis.

Jika ada penilaian negatif, jadikan sebagai cambuk untuk membuktikan bahwa tulisan selanjutnya akan lebih bagus. Artinya jadikan sebagai motivasi.

Passion yang terkait keahlian atau kesenangan dalam menulis bentuk tulisan tertentu, bisa memotivasi untuk jenis tulisan lainnya.

Motivasi diri untuk menulis jenis lainnya dengan mempelajari dulu bentuk tulisan tsb.

Saya menutup tulisan ini dengan frase berikut: 
  1. Menulis itu keterampilan. 
  2. Maka harus terus berlatih. 
  3. Berlatih menulis, bukan belajar menulis.

SELAMAT MENULIS


Mau asik, yuk gabung sama Omjay di link ini.


Bagi bapak/ibu yang ingin menambah wawasan seputar Kenaikan Pangkat guru ASN, silahkan kunjungi link berikut yang berisi materi dari bapak Dr. Imron Rosidi pada kegiatan webinar PGRI

Salam,

Pong_Owen_SMAN 5 Tana Toraja
Share:

Rabu, 06 Mei 2020

TERBITKAN BUKU, CATATKAN SEJARAH

Farrah Dina adalah seorang pendidik, pelatih guru dan penulis. Beliau adalah pendiri Tangga Edu, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Tema hari ini adalah Terbitkan Buku, Catatkan Sejarah. Membaca buku sama saja berbicara dengan orang-orang bijak di masa lalu, dan pastinya setiap manusia ingin dikenang dalam sejarah. Karena itu yang bisa kita tinggalkan sebagai sejarah adalah sebuah buku. Menerbitkan buku adalah salah satu jalan untuk agar pikiran kita, atau perasaan kita bisa abadi sepanjang masa. Menerbitkan buku dan membuat buku adalah dua hal yang berbeda. Membuat dan menerbitkan buku bisa dilakukan oleh siapa saja saat ini. Tapi menerbitkan buku di penerbit-penerbit besar adalah sebuah akibat dari buah karya yang baik. Menerbitkan buku, jangan dijadikan sebagai sebuah tujuan atau rencana. Jadikan itu tantangan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita menulis dan menuangkan pikiran kita untuk diingat sepanjang masa.

Penerbitan adalah sebagai sebuah akibat dari tulisan yang berkualitas. Sebagai sebuah tulisan yang ingin diterbitkan, saat ini caranya banyak sekali, dan sangat mudah. Namun yang paling penting bagi seorang penulis buku adalah hadirnya pembaca dan pembaca tidak selalu dalam bentuk buku. Tulisan bisa dimuat di mana saja, media sosial, majalah, surat kabar, penerbit indi, intinya sangat mudah. Kalau karya itu baik, dibutuhkan, dan menjawab masalah yang ada saat ini, maka bukunya sangat mudah di terbitkan.

Bagaimana membuat karya lalu mengasahnya? Membuatnya menjadi sebuah intan berlian yang nantinya sangat bermanfaat bagi masyarakat dan sebagai akibatnya, buku diterbitkan. Mari berbagi pengalaman dari ibu Farrah Dina, seorang penulis yang awalnya menulis buku-buku pendidikan ini akhirnya menemukan passion sendiri sebagai penulis buku anak.


Menulis Lewat Metode 4R

1. Renjana
Renjana, gairah (passion) adalah sesuatu yang amat sangat menarik buat kita, sesuatu yang menjadi pemikiran kita, hal-hal yang jika dilakukan terasa nyaman dan menyenangkan. Nguenah, kata Inces Nabati. Jadi, mulailah dengan sesuatu yang memang menjadi renjana kita. Kalau kita suka terhadap novel, maka tulisan akan cenderung ke fiksi dan kalau tulisan kita dominan penelitian akan cenderung ke non fiksi. Apapun itu, mulailah dari sesuatu yang menyenangkan kita, yang dikuasai dengan baik karena akan mengalir kata-katanya dengan mudah. Cara paling mudah agar kita termotivasi terus menulis adalah bagaimana kita merasa sukses untuk melakukan sesuatu. Kegagalan menulis itu lumrah. Namun jika tidak pernah menghasilkan tulisan maka itu adalah sebuah masalah. Jangan menulis sesutatu yang tidak mudah bagi kita. Jadi carilah renjana yang sesuai dengan kita, termasuk penelitiannya harus merupakan sesuatu yang populer. Tentukan renjana yang paling mudah dengan kita. Misalnya menyenangi buku anak, maka renjana kita adalah menulis tentang anak.

Dari ide-de sederhana bisa menjadi besar dan membawa dampak besar kepada masyarakat.

2. Rutin
Inilah kunci menulis, rutin membaca dan rutin menulis. Ketika kita banyak membaca, kita ada keinginan untuk membuat bentuk tulisan yang lain. Setelah itu kita akan rutin menulis, dengan menyiapkan waktu dan tempat khusus untuk menulis. Menulis bisa di mana saja, kapan saja dan tentang apapun. Setiap melihat sesuatu yang menarik maka itu bisa menjadi sumber ide. Gunakan catatan, note di HP, rekam dengan recorder tool. Kita harus mengumpulkan bahan-bahan cerita. Jangan menunda menuliskan ide yang telah didapatkan. Dan segera dapatkan emosi dari tulisan kita. 

Orang yang memendam akan kalah dengan orang yang mengungkapkan, dan orang yang menunggu akan kalah dengan orang yang melakukan.

Penulis yang baik tidak memendam, tapi mengungkapkan. Tidak menunggu, tetapi melakukan.

Dengan rutinitas ini kita akan banyak sumber ide tulisan untuk digunakan.

3. Review
Setelah kita punya kumpulan tulisan, maka waktunya mereview secara berulang-ulang. Inilah proses terpanjang dalam menulis. Pada saat menulis draft, maka tulis semua yang ingin ditulis. Tidak perlu diedit, tidak perlu dilihat nama tokohnya, waktunya, scenenya, skenario, logikanya, alurnya. Tulis saja, biarkan mengalir. Nanti di tahap review, baru kita melihat, misalnya tokohnya, alurnya logikanya dan sebagainya.

Review juga penting untuk melihat market kita. Apa yang mau ditulis? Siapa audiencenya? Apa yang dibutuhkan? Misalnya background dan alasan menulis. Hasil penelitian bisa dibukukan menjadi tulisan yang populer.

4. Ruang bagi Pembaca
Ketika telah melakukan review, jangan berhenti di sini jika dirasakan review kita sudah bagus. Namun, yang penting adalah review dari pembaca buku yang kita tuju. Jika bukunya tentang guru, maka pembacanya adalah guru, dan jika buku itu untuk orang tua, maka pembacanya dalah orang tua. Ruang bagi pembaca di sini adalah bukan kita meminta mereka untuk membaca buku, kemudian kita mengharapkan respon positif dari mereka. Namun, yang kita harapkan adalah tanggapan-tanggapan negatif dari pembaca agar kita bisa memperbaiki yang masih kurang. Perlu diingat, ini penting, jangan sampai ruang bagi pembaca ini menghilangkan jati diri kita sebagai penulis. Kadang ada review berasal dari hal-hal yang tidak terpikirkan oleh kita, tidak kita perkirakan. Hal ini karena pola pikir dan daya tangkap setiap pembaca berbeda.

Seorang penulis tidak berarti tanpa hadirnya pembaca. Maka hadirnya pembaca menjadi penting. Karena itu, share di medsos dan meminta orang-orang terdekat kita membacanya. Ketika ada yang membaca tulisan kita, akan membawa kepuasan tersendiri bagi kita.

Demikianlah sekelumit inspirasi tak ternilai dari ibu Farrah Dina. 

Nah, untuk memperkaya wawasan kita tentang menulis, mari kita lanjutkan menyimak pembicaraan tatap maya di bawah ini. Selamat menikmati.

CAMERA. 3-2-1. ACTION!

Apakah kita harus melalui tahapan 4R itu agar buku yg diterbitkan berkualitas? Nani. Bogor Jawa Barat

Jawaban:
Bu Nani yang bersemangat, tidak selalu seperti itu. Ini dirangkum dari pengalaman2 penulis yg hebat yg sudah menerbitkan banyak buku dan disukai. Mereka akan menulis yg betul2 sesuai dgn renjananya lalu terbiasa menulis (rutin). Pada awal menulis buku, jangan kita dipusingkan dengan editing & lain2nya yg nanti justru akan menghambat jadinya sebuah naskah. Tapi setelah itu, baru dilakukan review berulang (dan ini proses panjang). Seringkali bahkan naskah final sangat berbeda dr naskah awalnya... Kekuatannya di review ini. Untuk ruang pembaca, tujuan kita menulis adalah untuk dibaca jadi perlu mendengar masukan dari pembaca juga.... Tapi jangan sampai kita juga hanyut menulis hanya untuk memenuhi kebutuhan pembaca, nanti tidak timbul kebahagiaan. Selamat terus menulis...

Ini Bu Beni Bojonegoro, tanya bagaimana teknis / langkah mengubah tulisan dari best practice menjadi tulisan populer?  Terima kasih.

Jawaban:
Ibu Beni dari Bojonegore yang saya hormati, pertanyaan yang sangat menarik. Banyak buku-buku yang sekarang best seller adalah buku2 ilmiah tapi disajikannya dalam bentuk populer tidak penuh dengan data-data yang memusingkan. Sebaiknya ibu membaca contoh buku2 populer yang berdasarkan pendekatan ilmiah... Dari buku-buku ini yang saya perhatikan mereka akan membahas "Permasalahan" lalu "jawabannya" dgn sedikit2 memasukkan teori2 pendukung. Jadi yang dibahas bukan teroinya, ada unsur emosi kuat yang dibangun sehingga ada konektivitas dengan pembaca.
Beberapa contoh buku ilmiah dibuat populer (maaf yang terbayang saat ini buku2 terjemahan), seperti: Good to Great (penelitian dari 500 perusahaan sukses dunia, The Miracle of Endorphin (pendekatan psikologis untuk metode pengobatan), The Leader in Me (praktik-praktik di sekolah yang menerapkan 7 Habit).

Bagaimana menampilkan "voice" pada buku populer atau membangun emosi, misalnya dengan memasukkan isi wawancara, atau data-data non formal yang lebih hidup.

Assalamualaikum. Saya Siti Fatimah dari Mojokerto.
Sebagai pemula saya masih bingung menentukan passion saya dimana. Bagaimana kita mengetahui passion kita dengan mudah.

Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb..
Ibu Fatimah, tidak sedikit orang yang merasakan hal yang sama dengan ibu. Memang ada orng-orang yang dari awal sudah tau apa bidang menulis yang akan digelutinya dan ada juga yang butuh waktu. Cara paling ampuh adalah dengan terus menulis, nanti akan kelihatan kecenderungan kita. Bahkan, dengan mengumpulkan bank tokoh, situasi, pengalaman ke dalam bentuk rekaman/tulisan pun nanti akan terlihat apa yang menjadi renjana kita. Kita bisa lihat dari bank yang sudah kita kupulkan, apa sih yang menarik untuk kita yang mendorong kita untuk mengungkapkannya, nah itulah renjana kita. Cara lain paling mudah mengetahuinya adalah dengan melihat mana tulisan yang paling cepat saya selesaikan dan kita merasa mudah.

Assalamualaikum, saya Warsih dari Kota Tangerang. Mau menanyakan tentang pembuatan buku anak-anak. Misalnya kita menulis berdasarkan apa yang kita lihat, kemudian kita tambahkan dengan khayalan dan imajinasi kita boleh tidak. Jadi tidak pure fiksi. Nah yang sperti itu termasuk kategori buku apa Bu. Trima kasih

Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb....
Ibu Asih pecinta buku anak, boleh sekali memasukkan imajinasi ke dalam buku anak. Justru imajinasi itu kekuatan dari buku anak. Seperti binatang berbicara, anak pergi ke ruang angkasa, berteman dengan robot, itu adalah imajinasi.
Yang tidak boleh adalah takhayul dan imajinasi yang mengandung kekekrasan. Saya pribadi keberatan dengan anak durhaka menjadi batu, siasat membuh raksasa seperti dalam legenda asal usul Danau Batur, dll. Sikap jahat akan ada akibatnya, dan bisa dalam bentuk imajinasi tapi sebisa mungkin berkaitan dengan perbuatannya & tidak berlebihan.

Assalamualaikum... Saya ika siswati dari kota tangerang mau bertanya apa yang ibu  lakukan sehingga dapat  menemukan passion ibu yaitu menulis buku anak?

Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb... Saya menemukan renjana saya berawal dari pendidikan sy di Amerika & Jepang yang di mana mereka sangat serius memikirkan buku anak. Tidak halnya di Indonesia. Sebenarnya ini juga berawal dari kebutuhan, saat di Jepang anak saya masih TK dan akan kembali ke Indonesia masuk SD. Jadi saya harus mengajarkan membaca. Sy minta dikirimkan buku2 dari Indonesia tapi saya tidak puas. Lalu saya menulis buku sendiri dan ternyata itu menyenangkan buat saya dan saya merasa bisa memberi solusi pada permaslaahan yang ada.
Selanjutnya saya juga melakukan penelitian di bidang membaca usia SD, dan salah satu hal yang dibutuhkan adalah buku anak berkualitas. Di pasar, buku anak berkualitas itu biasanya harganya mahal. Ini yang menjadi motivasi besar, menciptakan buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau. Ini yang menjadi motivasi terbesar dan itulah passion saya... Walaupun saya tetap memaksakan diri untuk terus menulis genre lain.
Karena rutinnya saya menulis buku anak dan pendidikan, saya agak meninggalkan bentuk tulisan ilmiah. Pada saat saya mengalami ini, saya "memaksa" diri saya untuk mengirimkan rencana penelitian utk mendapat beasiswa. Denagn tenggat yang jelas akan jadi motivasi untuk kita. Ini juga perlu dilakukan. Alhamdulillah dengan research plan yang saya buat, saya bisa diterima di univ di Jepang.

Pertanyaan buat Bu Farrah
Ibu masih muda sekali...dan tentunya bersemangat, apa yang melatarbelakangi ibu mendirikan Tangga Edu dan juga bisa menjadi penulis
Terima kasih
Rachmi Banyuwangi

Jawaban:
Ibu Rachmi yang juga pastinya bersemangat, jawabannya sama dengan pertanyaan kelima ya bu.... Yang menjadi motivasi saya adalah bagaimana memberi manfaat sebesar mungkin untuk negri Indonesia tercinta ini... Sama dengan Bapak & Ibu semua...

Slmt siang ibu Farrah, Bagaimana memanage 4 R ini agar menjadi sebuah kesatuan utuh untuk saling melengkapi dalam menulis? Yulius Roma-Tana Toraja. Tks

Jawaban:
Pak Yulius dari Toraja, LAKUKAN... itu kunci utamanya pak... Dengan melakukan maka saya yakin Bapak akan menemukan polanya tersendiri. Yang perlu diingat adalah di awal, tulis dulu apa yang mudah untuk kita, tapi perlu dipaksakan juga agar menjadi rutinitas. Dengan begitu kita akan sangat terbiasa.... Saat ingin dipublish ke orang lain, maka perlu dilakukan review berulang-ulang. Jangan lakukan review saat menulis di awal, karena nanti tidak akan jadi karya krn kita berkutat dengan banyak hal. Selamat menulis.

Assalamualaikum Bu Dina,,, saya Candra dr Langkat Sumatera Utara...trmksh formula 4R..sngat mmbntu untuk sy sbgai yg br bljr untuk mnulis...prtnyaan saya Bu...mnrut ibu apakah seorang penulis harus fokus pada satu passion atau genre tulisan agar tulisannya btul2 baik...dan mmg ada tdk pngruh taste/rasa tulisan seseorang yang suka mngrjkn dua tulisan(fiksi dn non fiksi) secara bersamaan? Trmksh bu.

Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb...
Pak Candra dari Langkat yang bersemangat menulis, ini menarik sekali untuk didiskusikan... Sebagai awal, tulis dulu sesuatu yang mudah bagi kita, yang sesuai dengan renjana kita, yang kita senang saat menuliskannya. Ini gunanya untuk memberi reward terhadap diri sendiri. Dengan jadinya naskah yang kita sukai, itu akan menjadi bahan bakar bagi kita untuk terus menulis. Jika di awal kita sudah tidak cukup motivasinya, maka akan terhmbat, Tulislah sesuatu yang benatul2 isi kepala atau hati kita yang ingin disampaikan ke orang lain.
Selanjutnya, kita menyesuaikan diri dan bisa menulis dengan genre apapun, tentu dengan latihan dan pembiasaan. Bahkan kita pun harus bisa menulis sesuai dengan kebutuhan pembaca... Ini yang nantinya perlu dikuasai setelah kita menguasai sedikit hal yang menjadi kekuatan utama kita. Semangat menulis.

Nama : Munandar, Kabupaten Sumba Timur
Yth. Ibu Farrah, bagaimana cara awal untuk mengetahui passion seseorang? Terimakasih

Jawaban:
Pak Munandar dari Sumba, jawabannya sama dengan pertanyaan no. 3 ya pak.... (silahkan dilihat). Kalaupun belum mengetahui pasiion nya saat ini, yang penting adalah menuliskan sesuatu yang betul2 kita merasa menikmati dalam menuliskannya...

Assalamualaikum ibu Farrah Dina, perkenalkan sy Syukri dari SMAN UNGGUL Dharmaraya Padang,
Perkenankan saya bertanya ttg pengalaman ibuk Farrah dalam tulis menulis ibu mengatakan ada 4 R, salah satunya adalah Renjana, saya kurang pahan dari bahasa apa itu Renjana dan mengapa ibuk letakkan di poin paling atas, Sekian wasalam

Jawaban:
Pak Syukri, renjana adalah passion, ketertarikan kita pada satu hal yang kita akan mengerahkan energi kita untuk itu dengan senang hati. Menulis sesuatu yang sesuai dengan renjana kita, itu akan menjadi kekuatan di awal. Manusia memerlukan reward langsung. Saat kita menulis sesuatu yang sesuai dengan minat kita, maka kita akan menikmatinya & hasilnya pun akan cepat jadi. Hasil tulisan yang jadi ini menjadi reward sendiri untuk kita sehingga kita akan terus termotivasi untuk menulis. Setelah itu, barulah berkreasi dengan berbagai genre agar kita menguasai  menulis berbagai hal... Trm ksh

Mat sore Bu Farrah, bagaimana caranya agar dapat menerima tanggapan pembaca yang negatif pada tahap ruang bagi pembaca?  Bagaimana tips mengubah penulisan ilmiah menjadi penulisan populer? Benny Belang. Kupang-NTT.

Jawaban:
Pak Benny dari NTT, menerima tanggapan negatif memang tidak mudah. Jangan sampai juga itu medemotivasi kita dan menghilangkan jati diri kita. Saat kita mendengar tanggapan pembaca, yang perlu kita tahu sebenarnya adalah penangkapan pembaca terhadap hasil tulisan kita. Apakah sama seperti apa yang ingin kita sampaikan? Jika berbeda, apa yang berbeda (tentu perlu ada ruang imajinasi yang berbeda antara pembaca dan penulis). Kemudian "keseluruhan" atau "detail" apa yang tidak disuka. Kalau tidak suka karena selera yang berbeda, maka bisa jadi pelajaran bahwa org dgn persona seperti dia bukanlah target pembaca kita.
Jika tidak sukanya karena "persepsi" atau "terjemahan" yang berbeda dari yang sebenanrnya ingin kita sampaikan, maka mungkin ada penulisan yang perlu diperbaik.
Untuk buku ilmiah ke populer, ada pada jawaban no. 2.

Assalaamu'alaikum bu farah...td ibu menjelaskan tahapan menulis 4R. Yg pertama renjana (passion). Pertanyaan saya kalau saya merasa renjana (passion)  sy membuat buku pelajan fisika. Apakah berarti sebaiknya saya menulis buku pelajaran fisika sj? Krn sy kalau mencoba menulis buku fisika terasa lebih ringan dibanding mencoba menulis  artikel dll. Sri Indayani SMAN 1 Paciran.

Jawaban:
Bu Sri sang fisikawan, untuk tahap pertama maka sebaiknya ibu pilih buku fisika. Ini untuk menciptakan reward bagi diri kita di awal agar kita terus termotivasi untuk menulis. Namun setelah itu lebarkanlah sayap... Coba buat artikel lain yang tetap mengaitkan dengan fisika (ilmiah menjadi populer) dan berkreasilah dengan genre-genre lain... Sebagai tambahan, dapat dibaca pada jawaban pertanyaan kedelapan.

Assalamualaikum bu Fara..saya belum pernah menulis buku namun saya sering melakukan penelitian dan ada beberapa yang saya publikasikan. pertanyaan  bagaimana cara mudah menulis buku sebagai pemula seperti saya karena bebrapa kali saya coba selalu gagal. terima kasih atas pencerahannya.
fitran  _mataram

Jawaban:
Wa alaikum slaam wr wb... Pak Fitran yang suka meneliti, MULAI SAJA DULU (seperti iklan di TV yaa...). Ini yang paling penting. Jika memang tertarik dengan penelitian, coba ambil salah satu sudut dari penelitiannya untuk dijadikan artikel (bukan keseluruhan penelitian). Ambil sisi yang dapat dibangun konektivitasnya pada pembaca secara umum.

Saya M. Rasyid Nur dari Karimun
Pertanyaan:
Sebelum menentukan R(uang) pembaca apakah kita perlu meneliti atau survey untuk calon pembaca buku kita. Lalu, bagaimana sebaiknya jika kita berharap pembacanya tidak terlalu spesifik?

Jawaban:
Pak Rasyid, pada tahap awal kita menulis maka sebaiknya kita menulis untuk tujuan diri kita. Apa yang ingin kita sampaikan. Agar keluar jati diri kita sambil kita melihat yang cocok dengan tulisan kita itu pembaca yang bagaimana. BAru kemudian kita berkembang, mulai menulis berdasrkan "pesanan" artinya kita tentukan dulu sasaran pembacanya. Misalnya menulis untuk remaja maka ada bahasa2 yang perlu disesuaikan, maka kita menulis dengan "frame" pembaca di kepala kita... Nanti kita minta pendapat dari pembaca yang dituju sesuai sasaran.

Salam sejahtera ibu Farah
Menulis buku anak itu tentu untuk membangkitkan minat maka perlu gambar. Apakah ibu menggambar sendiri atau menggunakan jasa? Atau adakah cara lain mendapatkan gambar.
Buku Anak bagi saya itu suatu kesulitan. Saya sudah mencobanya. Terbentur pada gambar, termasuk bila harus meminta izin.
Terima kasih bila ada tips yang berbeda.
Salam Literasi dari Timor  (Roni Bani)

Jawaban:
Salam Bapak Roni, saya membuat buku anak dengan desai berjenjang di awal. Mulai dr pembaca pemula yang hrs penuh dengan gambar. Untuk ini tentu saya bekerja sama dengan ilustrator. Byk komunitas2 ilustrator saat ini, termasuk di medsos. Tapi pada jenjang yang lebih tinggi, buku anak akan lebih sedikit gambarnya bahkan tidak bergambar (novel anak). NAnti bapak tentukan saja di jenjang mana BApak ingin menuliskannya. JIka tertarik lebih lanjut, akan ada workshopnya oleh Tangga Edu, silahkan ikuti media sosialnya IG @tanggaedu & FB Tangga Edu untuk info terkini.

Salam Sehat Ibu Farrah
Ini adalah hari ke-8 saya mengikuti pelatihan menulis. Kiat2 untuk menulis diantaranya menulis setiap hari, apa saja yg terlintas akan saya tulis. Jenis tulisan sya masih bersift bebas dg kata2 yg mengalir begitu saja di dlm otak saya tulis. Yg ingin sy tanyakn bgmn cara menulis secara ilmiah  seperti PTK, Best Practice dengan baik
Elly Mahayani - Jembrana Bali

Jawaban:
Salam Ibu Elly, selamat... dengan ibu sudah rutin menulis maka ibu sudah MEMULAI... Nanti dari kumpulan tulis itu, pilih beberapa yang ingin direview dengan serius hingga menjadi tulisan yang siap publikasi... Untuk tulisan ilmiah ke populer, ada di jawaban no. 2.

Assalamualaikum Ibu Farah ,
Sesuai materi tadi  bahwa Pembaca itu sangat dibutuhkan oleh penulis. Bagaimana cara menjadikan PD pada diri sendiri untuk tidak malu tulisannya dibaca orang lain
Saya sering menulis, tapi selesai menulis saya simpen. Pernah saya menulis di blog dulu sekali ( baru ttg RPP dan pembelajaran sih, sedikit) tapi  kok temen aku langsung copas semuanya dan dijadikan administrasi nya dan dijadikan atas namanya untuk mendapatkan ttd pimpinannya. Padahal saya nulis itu mikir setengah mati.
Dari situ saya jadi males share lagi.
Mungkin pikiran itu salah. Mohon pencerahannya. Terimakasih
Santi~ Jayapura

Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb.
Ibu Santi, saat tulisan dipublikasikan maka hak penulis terhadap interpretasi terhadap tulisan itu menjadi hilang. Interpretasi dan tanggapan pembaca tidak bisa kita kontrol.... Maka perlu kebesaran hati, krn bisa saja tanggapan yang tidak baik yang kita terima. Nah kalau tentang hak cipta yang dikopi, maka pada saat kita membaginya di dunia maya, maka kita harus siap bahwa itu menjadi milik publik. Walaupun itu salah, tapi di dunia maya kita sulit mengkontrolnya.

Saya Sri Budi Handayani dari Gresik
Mau bertanya tentang proses kreatif mbak Farrah menulis buku anak , berikan contohnya,
Terima kasih.

Jawaban:
Bu Sri, karena saya menulis buku berjenjang maka banyak pakem yang harus saya perhatikan. Biasanya saya memulai dr sesuatu value yang ingin saya kenalkan pada anak tapi tidak dengan cara doktrin tapi tertangkap. Agar dapat banyak ide, maka saya banyak menonton film anak, bergaul dengan anak2 & membaca buku2 anak. Contohnya buku "Sihdeh & Robot" yang intinya mengenalkan cara menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Kecenderungan anak laki-laki agak sulit untuk menenangkan diri saat marah, maka diambillah tokoh robot agar relate dengan anak laki. Setelah itu dibuat prosesnya, termasuk membuat story board.... Dibaca anak-anak, lalu review & revisi lagi dst... Dr masukan anak, bahkan judulnya pun ada perubahan.

Assalamualaikum wr wb.
Saya Safitri dari TK N Pembina Bobotsari Purbalingga.
Mohon izin bertanya :
Saya ingin menulis tentang buku ajar apakah sebelum menulis kita tentukan ide-ide atau semacam kerangka tulisan barulah kita mencari isinya?

Saya sudah mengumpulkan buku-buku sbg sumber.Tapi rasanya masih buntu untuk menulis..kadang berpikir mana dulu yang mau ditulis?
Pikiran2 seperti itu yg akhirnya menghambat untuk mulai menulis..Bagaimana mengatasi seperti ini supaya menjadi sebuah tulisan?

Jawaban:
Bu Safitri,
Betul sekali untuk buku non fiksi qta perlu kerangka, paling tidak poin2 penting yang ingin kita sampaikan. Tidak bisa memulai karena kita berpikir "keseluruhan" dulu maka ini akan menghambat di awal. Dari poin2 yang sudah…

Sri Sulastri dari Bojonegoro, pertnyaan saya cara apa agar bisa menghasilkan buku dengan cepat bagi penulis pemula?

Jawaban:
Bu Sri, mulai dari yang mudah menurut Ibu... Topik yang paling ibu kuasai. Tapi tidak ada yang instan, semua harus ,elalui proses. Proses itu akan semakin cepat jika segera dimulai.

Selamat Sore Ibu. Terkait R ke-4. Menurut pengalaman Ibu, berapa persen dari ruang pembaca dapat ditampung masukannya dan bagaimana sikap kita dalam menerima semua kritikan itu agar tidak terbawa amarah. Trima Kasih- Bernad. Toraja

Jawaban:
Pak Bernard,
Tidak ada rumus baku. Kita siapkan diri kita untuk terbuka terhadap berbagai masukan. Tapi kita lihat, kalau dia tidak suka karena berkaitan dengan selera yang berbeda, maka dia bukan target pembaca kita dan ini informasi berharga bagi kita. Tulisan kita akan memiliki target pembacanya sendiri. Tapi kalau pembaca tidak suka karena interpretasi yang salah dari hasil karya kita, maka mungkin cara kita menuliskannya perlu diperbaik...

Selamat siang Ibu Farrah, saya Grefer dari kupang, NTT. Apakah review buku yang dimaksudkan adalah sebelum buku kita diterbitkan, maka buku itu kita berikan kepada pembaca tertentu untuk membacanya lalu memberikan masukan positif atau negatif dari buku yang kita tulis. Lalu, dikembalikan dan kita revisi setelah itu baru diterbitkan? Terima kasih.

Jawaban:
Betul pak, tapi bahkan apapun hasil tulisan kita, kita hadirkan pada pembaca & melihat tanggapannya -- ini bahkan sebelum proses penerbitan, usaha individu penulis untuk mendapat masukan. Kalau sudah ke penerbit, maka ada mekanismenya lagi tapi kita pun sudah bisa jelaskan targetnya siapa, tanggapannya bagaimana kira hingga buku kita itu bisa dibilang layak terbit.

Kesimpulan:

Jangan memendam ide, tapi ungkapkan dan jangan menunggu tapi lakukan.

Mari menulis dengan 4R. Jangan lupa nonton lagi channel berikut ini. Klik. like and subscribe, serta berikan komentar anda.


Dan jangan lupa memiliki buku inspiratif ini. Buku karya seorang guru blogger Indonesia, bapak Wijaya Kusumah, yang populer dipanggil Omjay.


Selamat Menulis. Salam Literasi




@pong_owen_sman5_tana_toraja
Share:

Covid-19: Dicaci, Ditakuti, Menyadarkan dan Mentransformasi

Tak pernah dibayangkan semua kisah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) ini akan terjadi dan saya yakin akan meninggalkan jejak di memori dunia, bahkan hingga dunia ini tiada, kisah Covid-19 akan tetap ada. Kehadirannya jauh mengalahkan kemegahan Perang Dunia Kedua, bom Nagasaki dan Hiroshima, gol Tangan Tuhan Diego Armando Maradona, tandukan Zinedine Zidane ke Marco Materazzi, menghapus sejenak kisah tsunami Aceh hingga kisah drama melankolis panggung politik kita di Pemilu Presiden lalu. Semua kisah-kisah dunia ini telah ditenggelamkan oleh pandemi Covid yang begitu fenomenal.

Kalau kita mencoba merenungkan,  pada awal kehadiran virus ini sejak akhir tahun 2019 lalu, sebagian dari masyarakat, menganggapnya sebagai hal yang biasa. Bahkan ada segelintir pemikir cerdas yang justru berpendapat Covid-19 ini adalah karma dan hukuman buat ekspansi negara Tiongkok yang telah menguasai dunia. Secara khusus dalam negeri kita, hampir setiap hari di berbagai media sosial, media online dan stasiun televisi menghadirkan berita-berita miring tentang Tiongkok. Bukan hanya karena sukses menguasai dunia dengan produk-produknya yang memenuhi kebutuhan kalangan menengah ke bawah, namun juga sukses menyuplai angkatan kerja murah ke berbagai proyek-proyek dan perusahaan ke seluruh dunia. Termasuk negara kita yang menurut liputan media juga sangat disukai oleh para pekerja dari Tiongkok.

Memasuki tahun 2020, Covid-19 telah mulai melakukan imigrasi ke berbagai belahan dunia, mulai dari negara-negara di sekitar Tiongkok, Asia Tenggara, Timur Tengah dan paling fenomenal di wilayah Eropa dan Amerika. Di negerinya sendiri penyebarannya begitu cepat, secepat perkembangan informasi di media sosial. Mayat-mayat bertumbangan hingga ribuan orang tiap hari. Rumah-rumah sakit sudah tidak mampu menampung pasien yang terus bertambah. Maka mulailah ketakutan menghampiri semua orang, apalagi hingga kini tidak ada vaksin dan obat untuk mengalahkan virus ini.

Ketakutan yang datang ini mulai menyadarkan semua orang, betapa pentingnya bersatu, betapa pentingnya berkumpul, betapa pentingnya saling membantu, betapa pentingnya berdiam diri. Tak ada lagi kesombongan, tak ada lagi saling mencaci maki, tak ada lagi perebutan kekuasaaan. Semua fokus mencari jalan keluar.

Covid-19 ini datang memperingatkan kita bahwa dunia ini sedang letih dan sakit. Letih karena banyaknya penduduk di atasnya yang saling menjatuhkan, capek melihat manusia selalu berkompetisi menjadi yang terbaik tanpa pernah peduli dengan lingkungan. Dunia ini juga sakit karena tidak pernah diberi waktu untuk beristirahat. Covid-19 telah membuat bumi kita masuk dalam istirahat panjangnya, memperbaiki sendi-sendinya yang rusak.

Covid-19 menyadarkan kita bahwa untuk mengalahkannya kita harus mulai kembali untuk hidup sehat dan higienis. Menyadarkan kita untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Mengkonsumsi bahan makanan yang ada di sekitar rumah. Ia mengajak keluarga-keluarga mulai membangun harmonisasi dengan tinggal di rumah. Ibadah di rumah, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, belanja dari rumah dan segala kegiatan lainnya diupayakan dari rumah.

Satu hal kecil juga diajarkan Covid-19 dibalik kehadirannya. Ia mengajak kita menghargai usaha kita dengan melarang kita mudik. Hampir setahun kita tak kenal lelah mengumpulkan rupiah, bahkan ada diantara kita yang menantang maut. Sudah menjadi tradisi, setiap ada hari raya kita akan mudik membawa semua hasil keringat kita. Tidak semua orang, namun biasanya mudik membuat kita boros, karena prestise, status sosial dan penghargaan duniawi. Covid-19 mengajak kita untuk tinggal di tempat kita bekerja dan menyisihkan rupiah kita untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu.

Covid-19, walaupun virus mematikan, meminta kita menghargai setiap hasil atas usaha dan pekerjaan kita. Entah gaji, pesangon atau keuntungan bisnis. Dia bukan imam, pendeta atau presiden yang berkuasa memerintah dan mengarahkan. Namun ,kehadirannya mengajak kita untuk mengurangi pesta dan banyak beramal.

Covid-19 juga mengajak kita untuk kreatif. Saat ini banyak karyawan dirumahkan. Namun bukan berarti saudara-suadara kita yang dirumahkan tidak  bisa hidup. Ia mengajak kita untuk hidup mandiri, tidak tergantung orang lain.

Covid-19, kini memberi kita pilihan jalan baru. Pilihan ada pada kita apakah tetap pada pola hidup lama atau mau mengubah pola pikir memasuki era baru yang sudah lama menanti kita. Sebuah era yang telah bertahun-tahun menunggu untuk dinikmati. Sekiranya seorang gadis, era ini telah lama menanti pinangan untuk disahkan sebagai pasangan hidup. Ya, sudah waktunya kita memasuki era baru, waktunya kita bertransformasi. Mengubah yang lama menjadi baru.

Terlepas dari semua mitos dan sejarah kehadiran virus mematikan, dibalik kehadiran Covid-19 yang mengguncang hidup kita, yang meminta kita berdiam diri, dia ingin mengajak kita untuk meninggalkan ego kita, meninggalkan zona nyaman kita. Secara khusus memberi kita wawasan tentang pentingnya menggunakan semua karya teknologi yang telah diciptakan manusia. Pentingnya memanfaatkan teknologi canggih yang bisa membantu bumi kita istirahat sejenak.

Covid-19 telah memulai pentingnya mengubah mindset kita untuk bertransformasi dari hidup konvensional ke dalam kehidupan digital. Telah digaungkan tentang Revolusi Industri 4.0, kita belum bergeming, hanya sebatas tahu dan tidak memanfaatkannya. Kita enggan menggunakannya karena terbelit pemikiran kita. Menggunakan teknologi menyusahkan, saya gaptek, biayanya mahal, perawatannya mahal, dsbnya. Kini Covid-19 memaksa kita untuk menggunakan semua jenis teknologi digital yang ada. Tanpa mengesampingkan maksimal atau tidaknya penggunaan teknologi saat ini, namun kita telah memulai transformasi kita.

Covid-19 secara pelan-pelan menuntun kita untuk hidup menyesuaikan dengan kehadirannya menggunakan teknologi. Apakah kita tinggal di rumah tanpa teman? Apakah kita tinggal di rumah tanpa penghasilan? Apakah kita tinggal di rumah tanpa mendapatkan siraman kebutuhan rohani kita? Apakah kita tinggal di rumah kita kelaparan? Kita kelaparan jika kita terbiasa meminta. Apakah kita tinggal di rumah tanpa mendapatkan ilmu pengetahuan? Apakah tinggal di rumah kita tidak bisa ujian skripsi? Apakah tinggal di rumah para hakim tidak bisa memutus perkara? Apakah tinggal di rumah kita tidak merdeka? Bukankah selama ini kita menginginkan bekerja dari rumah dan mendapat gaji, sekarang Covid-19 telah membuktikannya.

Ibadah live streaming, semua orang kini bisa menikmati ibadah bersama keluarga dari rumah tanpa mengurangi esensi ibadah itu. Bekerja dari rumah, meeting dari rumah secara live menggunakan aplikasi-aplikasi canggih. Belanja, tidak perlu berpanas-panas mengantri, cukup mengelus gadget, barang belanja segera mendarat di depan rumah. Pendidikan pun berjalan dengan baik, belajar tak perlu lagi tatap muka di kelas. Guru dan siswa kini diajak berkolaborasi menggunakan teknologi untuk saling memperlengkapi ilmu pengetahuan. Guru belajar menggunakan teknologi untuk mengajar sementara siswa menanti ilmu yang disampaikan.

Memaknai pandemi ini, berpikir positif adalah hal yang utama. Dibalik mematikannya virus ini, kita diajak untuk mengingat sang Pencipta kita, mengingat hangatnya romantisme keluarga kita, merendahkan diri kita, kita diajak untuk mandiri, hemat, kreatif, produktif, mau mengubah diri dan memperkuat keayakinan kita untuk menyesuaikan diri dengan segala perkembangan yang ada saat ini.

Salam sehat.
Share:

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia