Rabu, 04 Mei 2022

Refleksi Minggu Ke-20 Pendidikan Guru Penggerak

 

Contoh pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah. Sumber: Dok. Pribadi.

Waktu terus berjalan, tanpa terasa Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 telah memasuki minggu ke-20. Sudah berbulan-bulan, sekiranya induk ayam yang sedang mengerami telur, maka tidak lama lagi akan menetas. Ada rasa bangga, bahagia, dan haru, bercampur aduk dengan rasa penasaran seperti apa tahapan akhir dari program ini bagi diri saya dan sekolah saya.

Pada minggu sebelumnya, melalui komunitas praktisi di sekolah, saya dan teman-teman CGP telah mendukung sekolah dalam merumuskan visi, misi dan tujuan sekolah yang berpihak pada murid. Kegiatan ini telah selesai dalam tiga pertemuan. Secara umum kendala yang saya alami dalam kegiatan tersebut adalah ketersediaan waktu, oleh karena kami melaksanakannya setelah jam pelajaran selesai, atau sore hari. Sejumlah rekan mengusulkan bagaimana kalau kegiatannya dilakukan sehari penuh, mengingat pikiran lebih jernih dan konsentrasi di pagi hari. Saya usulkan ke pimpinan rapat dan kepala sekolah dan diterima. Adapun solusi agar pembelajaran kelas tidak terganggu, maka disepakati untuk membentuk tim 20. Diberi nama tim 20 sesuai usulan guru Sosiologi agar lebih memiliki makna historis karena titik awal perumusan visi dan misi sekolah dimulai tanggal 20 April. Tim 20 beranggotakan calon guru penggerak, kepala sekolah, komite sekolah, pengurus OSIS, wakasek, dan perwakilan dewan guru.

Terbentuknya tim 20 menjadi solusi keterbatasan waktu yang dihadapi. Satu hari penuh digunakan untuk menyelesaikan rumusan misi dan tujuan sekolah. Saya sangat bangga  dan bahagia dengan kondisi ini. Rekan-rekan di sekolah begitu antusias dalam merumuskan misi dan tujuan sekolah. Hasil rumusan ini kemudian akan diplenokan pada pertemuan yang akan datang.

Sambil mengikuti kegiatan komunitas praktisi, saya juga harus mempersiapkan diri saya mengikuti yudisium program pascasarjana. Saya bersyukur bisa menyelesaikan pendidikan. Bagi saya ini adalah bagian kecil dari pengelolaan sumber daya nantinya. Proses perkuliahan tentunya telah banyak membekali saya untuk mengambil peran sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.

Sumber daya di sekolah ditandai dengan adanya sarana  dan prasarana pendukung, ketersediaan SDM yakni guru dan murid, biaya, dll. Semua sumber daya tersebut harus berada dalam sebuah ekosistem yang dibangun oleh sekolah denga tujuan bisa memberikan stimulus agar sekolah lebih kreatif dan inovatif untuk menunjang keberhasilan tujuan pendidikan. Satuh hal baru yang saya dapatkan di sini adalah cara pandang sekolah melihat ekosistemnya ternyata menjadi tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran.

Pada kegiatan belajar di kelas, mengidentifikasi potensi dan dukungan sumber belajar pada murid perlu dilakukan pada setiap jam pelajaran. Kekuatan belajar murid saat itu tergantung pada sejauh mana mereka mengetahui konsep dasar yang akan dibahas dan seperti apa dukungan alat dan sumber belajar yang mereka miliki. Melakukan kegiatan belajar di luar kelas merupakan implementasi pemanfaatan sumber daya di sekolah.

Kegiatan komunitas praktisi sebelumnya saya pandang sebagai salah satu pemanfaatan sumber daya di sekolah dalam sebuah ekosistem. Keterlibatan guru-guru, komite dan siswa di dalamnya menandai pemanfaatan ekosistem di sekolah dengan optimal. Saya sangat berharap kondisi ini akan terus terjaga di sekolah di masa mendatang sehingga setiap potensi dan sumber daya yang ada dapat menjadi satu kesatuan yang saling mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.

Share:
Lokasi: Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia