Refleksi Minggu ke-22, Sabtu 14 Mei 2022
Upacara Hardiknas 2022 bersama Bupati dan Wakil Bupati Tana Toraja
Tanggal 13 Mei 2022 penuh makna bagi saya. Betapa tidak upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022 dilangsungkan pada hari itu. Saya mendapatkan undangan dari Bupati Tana Toraja untuk mengikuti upacara di tingkat kabupaten melalui organisasi profesi PGRI dan YPLP PGRI.
Upacara kali ini sangat berkesan. Pertama, ini kali pertama saya duduk di kursi undangan selaku pengurus YPLP PGRI. Kedua, peserta upacara mengenakan busana khas daerah kain tenun Toraja. Ketiga, saya mendapat kesempatan berfoto bersama Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, SE dan Wakil Bupati Tana Toraja, dr. Zadrak Tombeg, S.pA.
Sumber daya telah menjadi bagian penting dalam proses kelangsungan sebuah organisasi dan institusi. Pemanfaatan secara maksimal ragam sumber daya akan membuat institusi berjalan dengan optimal dan memberi manfaat. Demikian halnya dengan pengelolaan sumber daya di lingkungan sekolah. Sumber daya yang bisa diorganisir oleh seorang pemimpin di sekolah terdiri atas Modal Manusia, Modal Fisik, Modal Sosial, Modal Lingkungan Alam, Modal Finansial, Modal Politik dan Modal Agama/Budaya. Dalam mempelajari pengelolaan sumber daya ini, kendala yang saya temui adalah belum terkuasainya konsep sumber daya yang dimaksud.
Pada satu pagi minggu ini saya ke sekolah. Di depan lab
bahasa saya mendapatkan genangan air. Para murid harus melangkah dengan
hati-hati di pinggiran tembok agar sepatu tidak basah atau sekedar terhindar
dari suasana becek. Lantai keramik saya lihat berubah seperti lantai tanah.
Ternyata pipa wastafel mengalami kebocoran, sehingga air tidak mengalir dengan
baik ke pembuangan. Saya pun mengambil inisiatif dengan meminta murid yang
lewat agar saling mengingatkan untuk tidak cuci tangan di wastafel yang rusak
tersebut. Selain itu saya juga mencetak tulisan peringatan yang saya tempel di
dekat wastafel.
Tak berselang lama, ketika saya masuk lab terdengar suara
keras air kran di wastafel mengalir. Saya menengok ke sana tidak ada murid yang
cuci tangan, tetapi air mengalir deras dari kran. Tak terhindarkan lagi air
makin menggenang di lantai keramik dan tentunya semakin menghalangi langkah
siapapun yang mau ke toilet.
Saya pun berdiri di depan pintu lab, lalu bertanya pada dua
murid perempuan yang kembali dari toilet. “Siapa yang membuka kran dan
membiarkan air mengalir begitu saja tanpa digunakan, tanpa menutup kran dan
justru membuat genangan air?” Salah satu murid membalas, “Ada dua murid
laki-laki tadi pak yang membuka kran, sambil berlari ke toilet.” Selepas tanya
jawab itu, saya menunggu murid laki-laki yang dimaksud. Sekitar 2 menit, dua
murid tersebut lewat di depan pintu lab bahasa. Saya bertanya pada mereka, “Siapa
diantara kalian yang membuka kran air di wastafel, dibiarkan begitu saya tanpa
ditutup dan sekarang air begitu banyak tergenang?” Awalnya tidak ada yang mau
mengakuinya. Saya menyambung, “Tidak ada murid laki-laki yang lewat di sini
selain kalian berdua karena toilet di sana adalah tilet untuk perempuan. Ayo
jujur siapa yang melakukan?” Akhirnya salah satu murid dengan postur tanggung
menutup wajahnya dan mengakui perbuatannya. Setelahnya saya bertanya pada murid
tersebut, “Apa manfaat yang kamu dapatkan dengan perbuatan itu? Apa tujuan yang
ingin kamu capai? Apa yang mendasari perbuatanmu?” Ketiga pertanyaan saya tidak
terjawab,selain kata maaf dari murid. Pada akhirnya murid yang melakukan
membersihkan lantai dan mengepelnya. Setelah rampung pembersihan lantai, saya
memintanya masuk kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Apa yang saya lakukan ternyata bagian dari pemimpin dalam
mengelola sumber daya pada modal manusia. Bagi saya murid adalah sumber daya yang
harus dituntun. Terlepas dari sikap usil dan kelalaian yang murid lakukan,
menyalahkan bukanlah solusi terbaik. Pertnyaan yang saya ajukan lebih mengarah
pada identifikasi kompetensi yang dimiliki murid. Dengan dasar pemikiran saya
bahwa setiap tindakan tidak terlepas dari manfaat, maksud dan tujuan. Secara
khusus pada diri saya, belajar mengontrol diri dalam menghadapi masalah
merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya. Baik saya maupun murid berada
dalam kategori yang sama sebagai modal manusia yang memberi kontribusi pada
institusi sekolah.
0 komentar:
Posting Komentar