Selasa, 17 Mei 2022

Mengelola Sumber Daya - Sebuah Refleksi

Refleksi Minggu ke-22, Sabtu 14 Mei 2022

Upacara Hardiknas 2022 bersama Bupati dan Wakil Bupati Tana Toraja


Tanggal 13 Mei 2022 penuh makna bagi saya. Betapa tidak upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022 dilangsungkan pada hari itu. Saya mendapatkan undangan dari Bupati Tana Toraja untuk mengikuti upacara di tingkat kabupaten melalui organisasi profesi PGRI dan YPLP PGRI. 

Upacara kali ini sangat berkesan. Pertama, ini kali pertama saya duduk di kursi undangan selaku pengurus YPLP PGRI. Kedua, peserta upacara mengenakan busana khas daerah kain tenun Toraja. Ketiga, saya mendapat kesempatan berfoto bersama Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, SE dan Wakil Bupati Tana Toraja, dr. Zadrak Tombeg, S.pA.

Sumber daya telah menjadi bagian penting dalam proses kelangsungan sebuah organisasi dan institusi. Pemanfaatan secara maksimal ragam sumber daya akan membuat institusi berjalan dengan optimal dan memberi manfaat. Demikian halnya dengan pengelolaan sumber daya di lingkungan sekolah. Sumber daya yang bisa diorganisir oleh seorang pemimpin di sekolah terdiri atas Modal Manusia, Modal Fisik, Modal Sosial, Modal Lingkungan Alam, Modal Finansial, Modal Politik dan Modal Agama/Budaya. Dalam mempelajari pengelolaan sumber daya ini, kendala yang saya temui adalah belum terkuasainya konsep sumber daya yang dimaksud.

Pada satu pagi minggu ini saya ke sekolah. Di depan lab bahasa saya mendapatkan genangan air. Para murid harus melangkah dengan hati-hati di pinggiran tembok agar sepatu tidak basah atau sekedar terhindar dari suasana becek. Lantai keramik saya lihat berubah seperti lantai tanah. Ternyata pipa wastafel mengalami kebocoran, sehingga air tidak mengalir dengan baik ke pembuangan. Saya pun mengambil inisiatif dengan meminta murid yang lewat agar saling mengingatkan untuk tidak cuci tangan di wastafel yang rusak tersebut. Selain itu saya juga mencetak tulisan peringatan yang saya tempel di dekat wastafel.

Tak berselang lama, ketika saya masuk lab terdengar suara keras air kran di wastafel mengalir. Saya menengok ke sana tidak ada murid yang cuci tangan, tetapi air mengalir deras dari kran. Tak terhindarkan lagi air makin menggenang di lantai keramik dan tentunya semakin menghalangi langkah siapapun yang mau ke toilet.

Saya pun berdiri di depan pintu lab, lalu bertanya pada dua murid perempuan yang kembali dari toilet. “Siapa yang membuka kran dan membiarkan air mengalir begitu saja tanpa digunakan, tanpa menutup kran dan justru membuat genangan air?” Salah satu murid membalas, “Ada dua murid laki-laki tadi pak yang membuka kran, sambil berlari ke toilet.” Selepas tanya jawab itu, saya menunggu murid laki-laki yang dimaksud. Sekitar 2 menit, dua murid tersebut lewat di depan pintu lab bahasa. Saya bertanya pada mereka, “Siapa diantara kalian yang membuka kran air di wastafel, dibiarkan begitu saya tanpa ditutup dan sekarang air begitu banyak tergenang?” Awalnya tidak ada yang mau mengakuinya. Saya menyambung, “Tidak ada murid laki-laki yang lewat di sini selain kalian berdua karena toilet di sana adalah tilet untuk perempuan. Ayo jujur siapa yang melakukan?” Akhirnya salah satu murid dengan postur tanggung menutup wajahnya dan mengakui perbuatannya. Setelahnya saya bertanya pada murid tersebut, “Apa manfaat yang kamu dapatkan dengan perbuatan itu? Apa tujuan yang ingin kamu capai? Apa yang mendasari perbuatanmu?” Ketiga pertanyaan saya tidak terjawab,selain kata maaf dari murid. Pada akhirnya murid yang melakukan membersihkan lantai dan mengepelnya. Setelah rampung pembersihan lantai, saya memintanya masuk kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

Apa yang saya lakukan ternyata bagian dari pemimpin dalam mengelola sumber daya pada modal manusia. Bagi saya murid adalah sumber daya yang harus dituntun. Terlepas dari sikap usil dan kelalaian yang murid lakukan, menyalahkan bukanlah solusi terbaik. Pertnyaan yang saya ajukan lebih mengarah pada identifikasi kompetensi yang dimiliki murid. Dengan dasar pemikiran saya bahwa setiap tindakan tidak terlepas dari manfaat, maksud dan tujuan. Secara khusus pada diri saya, belajar mengontrol diri dalam menghadapi masalah merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya. Baik saya maupun murid berada dalam kategori yang sama sebagai modal manusia yang memberi kontribusi pada institusi sekolah.

Hal penting yang menjadi pembelajaran dalam peristiwa-peristiwa tersebut adalah terjadinya coaching dan pembelajaran sosial emosional serta keterlibatan aktif di lingkungan sosial dalam mengelola sumber daya. Mengikuti himbauan pemerintah untuk menggunakan busana daerah dalam sebuah upacara adalah proses mengelola sumber daya manusia, lingkungan alam, politik dan budaya. Ini tentu hal baru bagi saya dalam menghadapi masalah tanpa mengedepankan kesan menyalahkan, menasihati dan memberi sanksi. Konsep ini sangat membantu saya saat ini dan tentunya di masa mendatang.

Salam Guru Penggerak
#MerdekaBelajar
Share:
Lokasi: Jl. Nusantara No.69A, Bombongan, Kec. Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan 91811, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia