Senin, 07 Maret 2022

Pembelajaran Sosial dan Emosional - Refleksi

“Murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan (daya lenting/resiliensi) dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab.” (McGrath & Noble, 2011)

Kesadaran Penuh (Mindfulness)

Modul 2.2 Pendidikan Guru Penggerak minggu ini ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan semua aktifitas penting tersebut. Diawali dengan konsep kesadaran penuh (mindfulness), yakni sebuah kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan. Mindfulness menghadirkan kesadaran (awareness), perhatian yang disengaja (on purpose), saat ini (present moment), rasa ingin tahu (curiosity) dan kebaikan hati (compassion). Artinya ada keterkaitan antara unsur pikiran (perhatian), kemauan (yang bertujuan), dan rasa (rasa ingin tahu dan kebaikan) pada kegiatan (fisik) yang sedang dilakukan.  Tambahan pula, mindfulness muncul saat seorang sadar sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan dengan pikiran terbuka, atau dalam situasi yang menghendaki perhatian yang penuh.

Kompetensi Sosial Emosional

Mindfulness adalah basis dari Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang terdiri atas 5 kompetensi, antara lain:

Kesadaran Diri – Pengenalan Emosi

Pengelolaan Diri – Pengelolaan Emosi dan Fokus

Keterampilan Relasi – Kerja sama dan resolusi konflik  

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Kesadaran Sosial – Empati

Aspek sosial dan emosional pada diri sendiri penting untuk terkelola dengan baik oleh guru. Selanjutnya, aspek ini terlaksana atau mengalami penerapan dalam pembelajaran pada siswa secara lebih sistematik dan komprehensif. Aspek sosial dan emosional terkait erat dengan pendidikan budi pekerti, yakni pembelajaran tentang lahir dan batin. Jika berbicara tentang pembelajaran budi pekerti, seperti yang telah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, maka ini adalah pembelajaran holistik, yaitu bersatunya (gerak pikiran, perasaan, kemauan) sehingga menimbulkan tenaga (pekerti). Kebersihan budi adalah bersatunya cipta, rasa, dan karsa yang terwujud dalam tajamnya pikiran, halusnya rasa, kuatnya kemauan yang membawa pada kebijaksanaan (Syahril, 2020).

Refleksi

Minggu ini saya menjalani sejumlah kegiatan penting yang saya kategorikan sebagai tugas wajib. Setelah pembelajaran kembali masuk moda belajar dari rumah (BDR) karena kasus pandemi Covid-19 yang meningkat di Tana Toraja, saya pun harus menyiapkan strategi pembelajaran jarak jauh. Berdasarkan edaran Bupati Tana Toraja, kegiatan BDR akan berlangsung selama 10 hari. Kelas X dan XI tentunya tidak akan terkena dampak langsung dari BDR ini. Akan tetapi kelas XII yang menjadi pokok perhatian saya, mengingat mereka akan segera mengikuti Ujian Praktik dan Ujian Sekolah.

Agar kegiatan ini dapat berjalan dengan maksimal maka saya perlu menerapkan kompetensi kesadaran sosial (empati). Saya harus peduli pada semua siswa saya. Walaupun mereka dalam proses BDR, tetapi hak mereka untuk menerima ilmu pengetahun tetap arus saya penuhi.  Di samping itu saya harus tetap menjalin komunikasi secara online untuk memberikan dorongan agar semangat belaajr mereka tetap terjaga sekaligus mendorong mereka untuk tetap mematuhi protokol kesehatan selama BDR demi keselamatan bersama.

Keputusan bertanggung jawab juga perlu saya ambil. BDR tidak hanya sekedar komunikasi online, tetapi bagaimana merancang pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Maka untuk mendukung proses BDR pada 10 kelas yangsaya ajar, saya menyiapkan materi di blog pribadi dan Google Classroom. Selain itu saya menyediakan fasilitas belajar sinkronous online menggunakan Live Zoom dan Live Streaming YouTube pada setiap jam tatap muka online. Tak lupa saya menyelipkan sesi-sesi game sederhana selama belajar online agar siswa tidak merasa bosan, misalnya vocabulary game.

Pada saat yang sama, saya menerima informasi di WhatsApp bahwa saya menjadi salah satu peserta yang lolos seleksi berkas CV dan video pembelajaran pada seleksi Guru Pembelajaran Program Smart School Provinsi Sulawesi Selatan. Saya wajib mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menjalani tes berikutnya di Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Tes yang akan saya jalani berikutnya adalah tes microteaching dan kelayakan dihadapan penguji, yang mana mereka adalah para pakar pendidikan di bidangnya, yakni profesor. Tambahan pula, bahwa jarak yang saya tempuh dari Toraja ke Makassar sejauh kurang lebih 310 km. Saya harus berangkat hari Sabtu sore mengingat ujiannya hari Minggu. Artinya, tugas di kesekretariatan gereja pada minggu ini tidak saya jalankan.

Keterampilan relasi – kerja sama dan resolusi konflik menjadi kompetensi yang coba saya ambil di sini. Terkait kesekretariatan dan rapat di gereja saya komunikasikan dengan wakil sekretaris agar hal-hal yang terkait dengan pelayanan di gereja tetap berjalan dengan optimal.

Pengelolaan diri – pengelolaan emosi dan fokus menjadi modal perjalanan saya ke Makassar di Sabtu sore. Saya wajib fokus menyetir mobil dan mampu mengelola emosi agar tidak terpancing untuk menggenjot laju kendaraan. Tentunya pengambilan keputusan sepanjang perjalanan saya adalah wujud tanggung jawab keselamatan atas diri dan keluarga saya.

Minggu yang sama, saya mendapat kepercayaan untuk menjadi sekretaris panitia pada dua acara pernikahan pada bulan Maret ini. Kedua agenda ini tidak dapat ditunda lagi. Setelah pembentukan panitia, pada pertengahan pekan, saya bersama sejumlah pengurus PGRI Kabupaten Tana Toraja dan pengurus cabang melakukan perjalanan ke salah satu wilayah pinggiran Tana Toraja untuk memberikan bantuan donasi kepada salah satu anggota PGRI yang menjadi korban bencana tanah longsor.

Kunjungan PGRI ke salah satu anggota PGRI yang terdampak bencana tanah longsor.


Menjelang akhir pekan ini, pihak sekolah mengumumkan bahwa Ujian Praktik untuk Kelas XII akan dilaksanakan minggu depan. Mengingat semua aktifitas ini, tentunya emosi pribadi mendapat ujian dalam menjalaninya. Hal ini pun terkait erat dengan kegiatan sosial yang tak luput akan saya jalani pula. Komentar siswa pun beragam di WhatsApp, sehingga saya menyiapkan opsi teknis pelaksanaan ujian praktik, diantaranya: Ujian Praktik bisa dilakukan secara perorangan atau berkelompok. Jika berkelompok, bisa duet, trio, kuartet, dan maksimal 5 orang/kelompok. UJian Praktik dapat dilakukan dengan cara (pilih salah satu): (1) Mengikuti Ujian Praktik secara sinkronous offline di sekolah, besok, mulai pukul 07.00-selesai di Lab Bahasa (mengikuti urutan kelas di Jadwal ujian praktik); (2) Mengikuti Ujian Praktik secara asinkronous online/offline (Siswa membuat video praktik kemudian mengirimkan link/tautan/mengumpulkan video lewat flashdisk; dan (3) Jika Mengikuti Ujian Praktik moda asinkronous online/offline, maka video masuk paling lambat tanggal 7 Maret 2022 pukul 24.00 WITA.

Semua aktifitas ini dapat berjalan dengan baik dan tuntas.  5 kompetensi sosial emosional pada pembelajaran kali ini banyak menolong saya dalam mengambil tindakan dan keputusan. Saya merasa sangat bahagia. Harapan saya ke depan kelima kompetensi ini dapat saya terapkan secara nyata di dalam pembelajaran saya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia