PROFIL

Yulius Roma Patandean, S.Pd., lahir di Tana Toraja, 6 Juli 1984. Menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kristen Indonesia Toraja (2003-2007). Saat ini sementara melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Kristen Negeri Toraja.

MENGENALI PLATFORM PENDUKUNG BELAJAR ONLINE

Belajar dari rumah (BDR) merupakan salah satu tindak lanjut anjuran pemerintah untuk memotong rantai penyebaran COVID-19. Sekolah menyelenggarakan BDR artinya sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Bagaimanapun opsi mengumpulkan siswa di sekolah untuk proses pembelajaran masih menjadi pertimbangan serius. Terutama untuk wilayah dengan zona orange, merah hingga hitam pandemi COVID-19.

BDR dan PJJ di Masa Pandemi Covid-19

Di awal tahun 2021, tepatnya pada awal bulan Februari ini, program Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi opsi pemerintah dalam memberikan pelayanan pendidikan. BDR dilaksanakan dalam dua acara, yakni Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) daring (online) dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) luring (offline). PJJ daring mengutamakan ketersediaan sumber daya internet, smartphone dan paket data. Sementara PJJ luring memanfaatkan layanan radio, TV Edukasi, modul, hingga pemanfaatan video pembelajaran dan sumber belajar lainnya di lingkungan peserta didik.

Cara Memanfaatkan Video Pembelajaran di Kelas Digital dan Kelas Terbalik

Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) harus diakui sangat mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis digital. Digitalisasi turut pula mendorong lahirnya konten-konten video pembelajaran yang berkualitas. Tak bisa dipungkiri bahwa di masa akan datang, video pembelajaran akan banyak memuat bahan ajar berbasis real life, seperti video praktik Biologi berbasis virtual reality (VR). Jika saat ini pembelajaran di laboratorium sebatas mempraktekkan teroti yang siswa peroleh di ruang kelas, maka teknologi VR akan menghadirkan kondisi nyata ayng lebih mempermudah eksplorasi siswa.

MENGEFEKTIFKAN BELAJAR JARAK JAUH: MENGENALI MASALAH DAN MENEMUKAN SOLUSI

Mengajar secara jarak jauh telah menjadi salah satu kegiatan utama banyak pendidik saat ini. Seperti yang sementara berlangsung di berbagai negara, dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19, sekolah-sekolah di Indonesia, lewat kebijakan pemerintah, telah memilih aktifitas pembelajaran dilaksanakan dari rumah dan secara umum pembelajaran berlangsung online.

Minggu, 03 Mei 2020

SELF DRIVING DI ERA BARU PENDIDIKAN “Menciptakan Pola Belajar Efektif Dari Rumah”



Bagaimana guru bisa beradaptasi, berinovasi untuk menyampaikan pendidikan yang lebih baik dan mempersiapkan anak didik ke masa depan di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini?

Kita memasuki era baru yang tentu saja tidak mudah, segala sesuatu yang baru itu tidak mudah, secara khusus dalam hal ini teknologi yang telah menjadi hal yang tidak mudah bagi kita semua. Siapa yang merasakan teknologi itu tidak mudah? Kita, para guru, ini tidak mudah. Teknologi membuat banyak orang merasa tidak mudah, tidak terbiasa, karena banyak orang-orang lama yang merasa gaptek (gagap teknologi). Bahkan masih cukup banyak guru muda yang tidak terbiasa menggunakan teknologi untuk mengajar karena gaptek.
Masih banyak guru yang tidak mempunyai fasilitas yang cukup memadai, teknologi yang memadai seperti gadget, laptop, komputer. Bahkan di beberapa daerah koneksi jaringan internetnya  baru menggunakan 2G, ada yang 3G, namun jika sudah 4G sudah agak cepat, apalagi 5G akan lebih cepat lagi. Dalm kondisi saat ini, tidak mudah bagi guru, misalnya bagaimana menyusun rapornya? Tidak tertutup kemungkinan guru hanya copot-copot angka, menduga-duga dari attitude, perilaku dan sikap. Ada guru yang mengeluh bagaimana nanti memberi nilai di raport.

Kemudian, orang tua tidak terbiasa menjadi guru dan baru terasa sekarang betapa beratnya orang tua menjalankan peran guru. Tetapi orang tua harus terlibat dalam mendidik anak-anaknya, tidak 100% diserahkan kepada guru-gurunya. Kondisi juga memperlihatkan bahwa ternyata banyak anak saat ini tidak menurut terhadap orang tuanya. Mereka lebih menurut pada gurunya, lebih menurut pada orang lain. 

Saat ini di masa Covid-19, banyak orang tua yang harus bekerja di sektor informal dan mengalami kekurangan pelanggan, sepi pembeli atau perusahaan yang mengalami kemunduran sehingga baik suami atau istri saling membantu untuk bekerja lebih keras lagi. Sehingga diperhadapkan pada situasi harus membimbing anak dan harus membantu pekerjaan agar tidak diberhentikan atau tidak kena PHK. Kemudian sulit bagi anak-anak untuk belajar sendiri, karena tidak  ada yang menemani, tidak ada teman sebayanya atau tidak ada ruang belajarnya. Banyak anak yang kehilangan suasana sekolah, mereka bingung, mau bermain di luar mereka takut ketularan dan sebagainya.

Nah, jika kita manganggap bahwa teknologi ini mudah, maka kita akan bekerja autopilot, bergerak sendiri, tanpa berpikir, yang berarti tidak ada perubahan dan pembaharuan.

Tiga Kebutuhan dalam Dunia Masa Kini
Harus diingat, dunia ini terus berubah, karena itu kita butuh:
  1. Komitmen untuk memulai. Tidak ada komitmen, kita tidak akan pernah memulai sesuatu.
  2. Konsistensi untuk sesuatu yang dimulai. Tidak ada konsistensi, kita tidak akan menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Ibaratnya kuliah tapi tidak membuat skripsi dan tidak diwisudah, atau menikah namun tidak menyelesaikan perkawinannya.
  3. Kesulitan. Kesulitan adalah energi. Inovasi muncul karena ada kesulitan. Misalnya dulu di Eropa, orang kelas menengah ke bawah kesulitan akses terhadap protein, akhirnya ada yang bepikir ikan dan daging mahal, maka diciptakanlah peanut butter yang merupakan protein dari tanaman, tumbuh-tumbuhan nabati untuk memenuhi kebutuhan protein. Sama halnya dengan coklat yang merupakan makanannya para raja seperti Napoleon, mahal, jumlahnya sedikit, maka dibuatlah coklat nutella, yang muncul dalam suasana menjelang perang, banyak orang tidak bisa menikmati makanan enak dan akhirnya dibuat coklat dari kacang husselnut yang diberi coklat sedikit dan justru sekarang harganya lebih mahal dari coklat yang dikenal secara umum. Lalu, Alibaba di Tiongkok belum tumbuh ketika ada wabah SARS karena orang tidak bisa berbelanja dan akhirnya dalam suasana seperti itu orang berpikir dan menciptakan sesuatu yang baru dan sekarang Alibaba telah menjadi perusahaan yang sangat besar. Jadi kita butuh kesulitan, dan kesulitan jangan dianggap sesuatu yang berbahaya. Kalau sesuatu dipandang mudah biasanya kita tidak butuh kesulitan.
Dua jenis Game (Permainan) dalam Hidup
  1. Game Sesaat. Ada orang tidak sadar bahwa ada game jangka panjang namun mainnya sesaat. Game sesaat itu seperti pertandingan olah raga: sepakbola, basket, dsbnya yang mengarah ke permainan mencari pemenang dimana waktunya singkat, terbatas, ada aturan yang disepakati bersama, setelah itu akan jelas siapa pemenangnya.
  2. Game Sepanjang Hayat, misalnya kehidupan itu sendiri. Tidak akan berakhir ketika kita meninggal dunia, namun akan dilanjutkan oleh keturunan kita. Kemudian karir, karir tidak bisa diciptakan sesaat. Tidak ada orang yang baru lahir langsung jadi direktur. Butuh proses.  Sama halnya dengan menjadi guru, kita menjadi guru karena telah diangkat jadi guru. Tetapi menjadi seorang guru yang benar-benar jadi guru, prosesnya panjang, melalui proses penghayatan, memahami, mendalami, kita mendapat bimbingan, kemudian belajar lagi. Demikian halnya dengan perkawinan dan cinta, tidak ada pemenangnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh bermain jangka pendek dalam karir, dalam berkeluarga, dsbnya, karena hal tersebut tidak ada pemenangnya. Kemudian aturannya juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya, ketika kita menikah, lalu memiliki anak balita, maka aturannya seperti itu. Anak berusia remaja, aturannya berubah lagi. Ketika anak telah remaja atau menikah, mereka tidak mau lagi pergi bersama orang tuanya. Nah, guru adalah penjelajah game sepanjang hayat demi peradaban dan kemajuan bangsa. Bangsa ini menjadi indah, menjadi hebat, semuanya karena guru atau peran para pendidik. Bangsa ini menjadi tidak beradab, ribut terus, chaos, tidak ada kolaborasi, tidak ada kerja sama dan tidak ada kemajuan adalah juga karena kesalahan kita sebagai pendidik, entah itu sebagai guru, dosen maupun orang tua.
Oleh karena itu, guru juga harus memahami bahwa terjadinya pandemi ini bukan satu kali, kita harus akrab dengan virus, bakteri atau parasit. Jika kita tidak pernah bertemu sama sekali barangkali imun kita sangat kuat, namun ketika kita bertemu kemudian, kita mudah sakit. Selama ini, yang kita ketahui, wabah virus terjadinya lokal atau regional, namun ketika ada proses globalisasi maka terjadi juga secara global.

Dimulai dengan SARS yang mengglobal ke seluruh dunia tahun 2003 dan sekarang virus Korona yang menyebar, awalnya secara lokal, regional dan sekarang secara global, menerpa semua orang di seluruh dunia dan banyak orang frustasi kapan virus ini akan berakhir. Korban wabah virus dari masa ke masa, terus bertambah banyak. Oleh karena itu, mari ciptakan dan mengajarkan anak-anak kita cara sederhana, cuci tangan dan lain sebagainya.


Manusia Harus Beradaptasi
Penting untuk ditahui bahwa kalau virus itu bermutasi, maka manusiapun harus beradaptasi. Sekarang orang mulai beradaptasi, misalnya belanja jaga jarak, keluar rumah pakai masker, dsbnya. Manusia harus beradaptasi dari masa ke masa. Namun, pertama-tama, manusia beradaptasi karena terpaksa, karena terpaksa maka dia akan menjadi dipaksa oleh keadaan. Setelah dipaksa akan mulai menjadi bisa. Setelah bisa akan menjadi terbiasa dan mahir. Pandemi saat ini adalah momen terpaksa yang memaksa kita dan pada akhirnya kita terbiasa dan mahir. Asal kita terus bertekun dan mau menyesuaikan diri.

Otak Manusia Berubah, Pendidikan Harus Berubah
Otak manusia terus berubah. Ini dibuktikan dengan ukuran otak manusia yang terus berubah. Sebagai contoh, sopir taksi di London, ukuran otaknya lebih besar dari rata-rata orang-orang biasa, setelah dipelajari, ternyata untuk mendapatkan surat izin usaha atau surat izin menjadi pengemudi taksi, mereka harus menghafal kurang lebih 10 ribu artefak disertai dengan cerita dibaliknya di kota London. Akibatnya mereka terus berinteraksi sehingga memiliki pengetahuan yang sangat besar. Hal ini sama dengan sejarah manusia purba, otaknya kecil, jalannya tegak sebelum ditemukannya api. Api bisa membuat manusia bisa memasak protein, manusia bisa mengubah makanan yang tadinya tidak bisa dimakan menjadi bisa dimakan. Ternyata ini bisa membuat usia manusia bertambah panjang, makannya berubah dan otaknya bisa berkembang.

Kita melihat otak manusia bisa berubah sementara pendidikan belum bisa berubah. Pendidikan kita selama ini bisa dikenal sebagai pendidikan dengan sifat hitam putih. Cara siswa belajar di sekolah, masuk di kelas, lipat tangan di dada, duduk. Siswa pasif, hanya mendengarkan guru, hanya menghafal. Siswa duduk di kelas dan guru berbicara di depan papan tulis.

Sekarang situasi sudah berubah. Banyak negara telah mengembangkan teknologi yang memberikan segala sesuatu yang warna-warni (colorful), interaktif, disertai dengan alat-alat bantu yang merangsang manusia berpikir, seketika bisa didapatkan, bisa melatih orang untuk melakukan sesuatu yang sifatnya multi tasking, bukan single tasking. Suatu saat kita pun bisa multi tasking, misalnya ketika kita kuliah kita bisa berbicara dengan keluarga, bisa membuka video, bisa membalas WA, dan banyak hal yang bisa kita lakukan. Misalnya, aktifitas seorang ibu setiap pagi yang multi tasking, berpikir banyak hal, disamping menyiapkan sarapan keluarga, peralatan anak, memasak, pada saat yang sama menjawab telepon, membalas pesan, dsbnya, semuanya bisa dibereskan, walaupun terdapat satu dua kesalahan, yang mana sebagai manusia itu lumrah dan bisa diterima.

Jadi, kita tidak boleh mengharapkan kesempurnaan. Kehidupan sekarang menjadi penuh warna karena kita lebih aktif, partisipatif, lebih kreatif, tidak dihambat oleh banyak hal, dan tentu saja suasana pembelajaran menyenangkan (funny). Jangan sampai pendidikan kita masih terbelenggu masa hitam putih, pasif dan sibuk menghafal sementara siswa kita telah hidup di masa penuh warna, intereaktif, serba cepat, multi tasking, dan kemudian mereka bisa belajar coding, dan belajar segala hal.

Banyak penemu yang sukses dan berkembang karena belajarnya di luar sekolah, karena di sana lebih terbuka, ada akses. Pemimpin harus memberikan dorongan kepada generasi muda untuk mengembangkan teknologi, platfrom-platform baru, cara-cara baru, inovasi baru yang kemudian bisa dinikmati. Kita bisa belajar dengan harga murah, bisa menikmati pembelajaran dengan teknologi. Walaupun dinikmati dalam keadaan tepaksa di masa covid-19.  Setiap keterbatasan pasti ada gunanya, seperti kemampuan menggunakan dan membaca bahasa isyarat merupakan sebuah anugerah yang bisa membuat kita berkomunikasi dengan siapa saja dari suku, ras, bangsa dan benua yang berbeda.

Pembelajaran Masa Kini dan Masa Depan

Pembelajaran masa kini (dari Pendidik).
  • Belajar masih menghafal dari konten sesuai kurikulum
  • Akses informasi terbatas dari sekolah atau guru sesuai dengan ritmenya (slow)
  • Proses berseri, bertahap, seperti garis lurus dan satu aktifitas dalam satu waktu. Tidak salah.
  • Materinya berprinsip siapa tahu dibutuhkan, pasti ada manfaatnya.
  • Metodenya mengutamakan kata-kata/kalimat (miskin video dan warna)
Pembelajaran di masa depan.
  • Siswa mencari sendiri, mencari bahan secara aktif, mencari segala sesuatu yang relevan dengan mereka, mencari konten yang bermanfaat dan menyenangkan
  • Akses informasi makin beragam dan cepat.
  • Prosesnya paralel dan dilakukan sekaligus. Misalnya belajar dari video dulu baru masuk di teks.
  • Materinya ada ketika dibutuhkan. Langsung ada menggunakan search engine di komputer atau gadget.
  • Metodenya mengaktifkan semua indra (gambar, video, warna dan aktifitas).
Anak perlu ketabahan dan latihan dalam hidup. Mendidik anak harus diberikan ilmu masa depan untuk sukses di masa depan. Sudah tidak tepat ilmu masa lalu di bawa ke masa kini untuk sukses di masa depan. Hal ini, sering membuat kita terperangkap dengan masa lalu. Jika ini terjadi, maka kita tidak akan mampu menciptakan masa depan. Kita tidak akan bisa mengubah dunia jika kita masih terperangkap dengan teori, cara pandang dan metode masa lalu. Pada sisi lain, yang tidak berubah adalah nilai-nilai, fondasi, kitab suci.


Ki Hajar Dewantara telah menanamkan nama sekolah dengan kata taman. Mengapa demikian? Karena pendidikan itu harus menyenangkan, bisa bermain, berkelompok, bercengkerama, bersenda gurau dan berdiskusi.

Tiga Jenis Belajar Sambil Bermain
  1. Main motorik (kasar & halus), mengenal alam, lingkungan, pengukuran.
  2. Main peran, membentuk empati, memiliki teman, memiliki relasi.
  3. Main bangunan, misalnya belajar matematika lewat media dari alam.


Belajar sambil bermain adalah metode mencari sambil menemukan. Kalau tangan anak patah karena bermain, itu tidak tidak parah, tulang bisa melekat dan bersatu kembali. Namun jika semangatnya patah, keberaniannya patah maka itu akan patah selamanya. Anak tidak boleh memiliki mental penakut. Anak harus memiliki mental petarung. Membangun masa depan anak, diperlukan kolaborasi antara guru, orang tua dan masyarakat.


Anak akan menjadi seperti apa di masa depannya?
Mendidik anak seperti mengubah mereka diantara burung dara atau burung rajawali. 
Burung dara tidak bisa pergi jauh, karena sayapnya digunting, diikat sehingga tidak bisa ke mana-mana. Banyak orang tua yang mengikat anaknya dengan mengikat sayap-sayap rajawalinya sehingga tidak bisa terbang tinggi. Karena kita salah mendidik, kita membuat anak-anak kita menjadi anak rumahan, menghindari resiko, tidak boleh pergi jauh, tidak boleh menjelajahi pengetahuan; sehingga di sekolahpun demikian, tidak bisa bergaul, hanya patuh pada perintah guru; dengan demikian anak tidak bisa mandiri, sampai tua, dia tergantung pada orang tuanya. 

Burung rajawali, bisa terbang tinggi, menjelajah ke mana pun. Artinya anak bisa belajar apa saja. Dan bisa sukses di mana saja. Anak-anak harus dibangun regulasinya, namun tidak selalu harus digendong dan dituntun. Artinya anak tidak boleh dimanja, biarkan anak belajar melalui eksplorasi dari dirinya.


Apakah orang-orang sukses seperti Bill Gates dan Steve Jobs memiliki pendidikan tinggi? Sekolah mereka tidak terlalu tinggi, tidak pernah belajar teknologi informasi, namun mereka terbiasa sekolah dengan metode eksplorasi. Mereka belajar dari lingkungan dan kebiasaan.  



Pendidikan Eksploitasi (Lama) dan Pendidikan Eksplorasi (Baru)
Pendidikan harus berubah dari pendidikan eksploitasi menjadi pendidikan eksplorasi. Pendidikan ekploitasi adalah pembelajaran yang masih berulang-ulang / rutin, seperti yang masih berlangsung saat ini. Sementara pendidikan ekplorasi adalah pendidikan yang mencari dan menemukan.

Pendidikan lama masih membelajarkan Low Order Thinking Skills dan mengujinya dengan High Order Thinking Skills. 

Sementara pendidikan baru membelajarkan pengaplikasian atau High Order Thinking Skills dan diuji dengan High Order Thinking Skills.

Empat keterampilan untuk Masa Depan

Keterampilan berpikir:
  • Berpikir kritis dan kreatif, anak harus eksploratif
  • Pemecahan masalah
  • Pengambilan keputusan
  • Pengolahan infomasi
Keterampilan Personal:
  • Komunikasi
  • Kerjasama
  • Motivasi
  • Integritas
  • Kemampuan adaptasi
Keterampilan Profesional:
  • Dasar-dasar bisnis
  • Pengetahun industry
  • Keterampilan teknis
Keterampilan Digital:
  • Literasi digital
  • Pemahaman teknologi baru
  • Pembelajaran online
Tiga Disiplin diri:
  1. Disiplin dipaksa (forced)
  2. Disiplin diatur
  3. Disiplin yang datang dari diri sendiri
Sebagai penutup tulisan ini, ada tujuh Elemen dalam Self Driving yang tertuang dalam buku terbaru Prof. Rhenald Kasali: SELF DRIVING.


  1. DISIPLIN DIRI
  2. EKSPLORATIF
  3. MENJADI PEMENANG (BUKAN PECUNDANG)
  4. BERPIKIR SIMPEL (ANTI RIBET)
  5. BERPIKIR KRITIS
  6. BERPIKIR KREATIF
  7. MINDSET YANG BERKEMBANG

Tulisan ini bersumber dari eksplorasi Self Driving dari Prof. Rhenald Kasali dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020.



"PENDIDIKAN ADALAH SENJATA PALING AMPUH UNTUK MENGUBAH DUNIA"
Nelson Mandela
Share:

Sabtu, 02 Mei 2020

Menciptakan Pola Belajar Efektif Dari Rumah


Belajar adalah proses melibatkan diri mencari, mendapatkan, menemukan, menambah, mengeksplorasi, menggunakan dan menciptakan pengetahuan untuk mengubah ketidaktahuan menjadi tahu sesuatu. Proses belajar bisa terjadi di mana saja; di tengah kegiatan masyarakat, di sekolah, di tempat ibadah, di tempat permainan atau di rumah. Rumah adalah tempat belajar yang paling signifikan untuk masa darurat tertentu, seperti saat sekarang di masa darurat pandemi Covid-19. Dengan tersedianya rumah sebagai tempat ideal untuk belajar, maka  membangun efektifitas belajar tentunya harus dari rumah pula.

Terciptanya proses belajar yang efektif membutuhkan topangan dukungan  internal dan eksternal dari peserta didik. Dukungan internal diantaranya kesiapan pribadi, fisik, mental dan motivasi sementara dukungan eksternal antara lain partisipasi orang tua / keluarga, kepala sekolah, para guru, tersedianya waktu belajar yang memadai, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, jaringan internet, alat komunikasi, hingga ketersediaan sarana komputer atau laptop.

Belajar dari rumah tentunya tidak sama ketika anak bertemu langsung gurunya di ruang kelas. Belajar langsung dalam kelas akan terjalin hubungan emosional antara anak dan gurunya. Namun, dengan dukungan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi saat ini, hubungan emosional ini pun bisa tetap terjalin. Jika belajar dalam kelas ada komunikasi langsung tatap muka, maka lewat kelas dukungan teknologi pun bisa ada komunikasi langsung dan tatap muka. Dengan kata lain, ketersediaan dukungan teknologi saat ini juga mampu mengumpulkan guru dan anak didiknya dalam satu ruang kelas baru tanpa sekat bangunan yang disebut kelas virtual atau kelas online.

Kelas online bisa dilaksanakan lewat sejumlah aplikasi pendukung, mulai dari model grup WhatsApp, grup Telegram; layanan video call, seperti Google Duo, Video Call di WhatssApp dan Messanger; hingga menggunakan web meeting tools, seperti Zoom Cloud Meeting, Google Meet, Webex, UmeetMe, dan Cloudx Telkomsel. Bahkan dengan kombinasi StreamYard, guru bisa melaksanakan live streaming di YouTube menggabungkan meeting tools yang digunakan. Melalui kelas online, anak didik tetap bisa menerima materi pelajaran mirip ketika mengikuti pembelajaran langsung di kelas. Namun di sini guru perlu mengelaborasi, mengadaptasi, dan menggabungkan teknik dan metode mengajar secara langsung di kelas dengan mengajar secara langsung menggunakan dukungan teknologi informasi yang ada. Misalnya, selama ini guru menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk satu pertemuan di kelas, maka di kelas online pun juga bisa diberlakukan RPP yang telah dimodifikasi. Poin-poin utama dalam RPP yang perlu modifikasi diantaranya terdapat pada kegiatan inti. Contohnya, disisipkan penggunaan Zoom untuk diskusi, mengakses menti.com untuk kuis dan untuk penugasan anak didik diminta membuka link website tertentu untuk dibaca kemudian berdiskusi dengan guru, mereka laporkan atau refleksikan.

Konsep belajar dari rumah bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak didik melalui pendidikan kecakapan hidup tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusannya. Artinya, materi yang diajarkan ke siswa tidak tergantung sepenuhnya pada apa yang tertuang dalam kurikulum, namun bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan siswa pada saat itu. Aktivitas dan tugas pembelajaran yang diberikan pun sebaiknya variatif antar siswa, sesuai minat dan kondisinya masing-masing.

Untuk mengetahui minat dan kebutuhan tiap siswa, maka guru bisa membuat survei sederhana secara online menggunakan menti.com, quizzes, Kahoot atau yang lainnya. Di mana lewat survei tersebut, guru bisa memetakan materi apa yang paling banyak diminati oleh anak didik, materi apa yang paling mereka butuhkan.  Sehingga guru bisa mempersiapkan topik bahasan dan presentasi materi singkat kepada mereka. Jika minat mereka beragam, misalkan terdapat 35 siswa dalam satu kelas, dan berminat atas 20 macam materi, maka guru membuat skala prioritas topik atau tema yang paling banyak diusulkan oleh mereka. Semua usulan topik/tema harus ditampung sebagai bahan persiapan melayani mereka belajar. Mungkin ada yang bertanya lagi, bagaimana jika topik mereka tidak sesuai dengan isi kurikulum? Jawabannya adalah apa yang anak didik usulkan merupakan kebutuhan mereka untuk membangun kecakapan hidup mereka. Apapun materi yang diajarkan sebenarnya terintegrasi dalam kurikulum yang telah ada, hanya deskripsinya yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.

Melayani anak didik yang tidak memiliki akses memadai untuk belajar dari rumah, misalnya bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki akses jaringan listrik dan telekomunikasi karena berada di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar, guru bisa mengatasinya dengan membuat poin-poin utama materi dalam bentuk e-book/dokumen PDF, membuat video pembelajaran singkat atau membuat voice messages/pesan suara, kemudian dikirimkan secara manual, jika ‘terpaksa’, gurunya yang mengantarkan materi-materi ajar atau buku-buku pelajaran kepada anak didik yang memiliki keterbatasan akses sekaligus menyiapkan waktu singkat mengajar di rumah mereka. Langkah lain yang bisa ditempuh adalah menjadikan aktifitas harian mereka membantu orang tua, entah itu bertani, berladang, peternak atau nelayan sebagai materi ajar, dimana mereka diajak oleh guru untuk merefleksikan aktifitas tersebut dalam tulisan essay singkat yang dikumpulkan dalam waktu tertentu, misalnya setiap minggu terakhir pada bulan berjalan, dsbnya.

Sementara untuk siswa berkebutuhan khusus, guru pun bisa menggunakan bahasa isyarat dalam bentuk gambar dan video. Secara khusus bagi anak penyandang tuna netra bisa didukung pelajarannya dari rumah lewat alat peraga braille dalam bentuk video. Penyajiannya bisa online maupun offline.

Memang harus diakui melakukan pembelajaran online sebagai sesuatu yang baru, tidak mudah bagi anak didik, bagi orang tua dan bahkan bagi guru. Belajar dari rumah menuntut kreatifitas seorang guru untuk membangun lingkungan belajar yang penuh warna dan menyenangkan. Mengajak bermain di kelas online. Membuat mereka aktif, partisipatif dan kreatif. Memperkaya kemampuan panca indra mereka dengan gambar, animasi, video, suara dan aktifitas. Anak didik akan mencari sendiri materi pelajarannya, aktif mencari topik yang sesuai dengan minat mereka dan memberi mereka manfaat lewat beragam media secara cepat dan real-time.

Bangun masa depan anak didik kita dengan ilmu masa kini untuk sukses di masa depan.

Siapa kita? INDONESIA.


SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Share:

Jumat, 01 Mei 2020

Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku


Teriknya mentari pada hari Jumat ini menemani beragam aktivitas baik rutinitas rumahan hingga rutinitas selaku pendidik. Tak terasa waktu berlalu mengantar jarum jam menunjuk pukul 13:31 WITA. Bunyi notifikasi pesan di WA bertalu-talu saking banyaknya pesan yang masuk. Pada deretan pesan paling atas terdapat satu pesan dalam bentuk colorful image dari Wijaya Kusumah dengan tulisan dihias background warna kuning Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku. Pukul 13.00 s.d. 15.00 WIB; Jumat, 01 Mei 2020 Via WA Group.

Tak lupa logo favorit para pendidik, logo PGRI dan disampingnya lagi gambar seorang pria berkacamata, dibalut kemeja putih dengan dasi purple plus jas warna gelap sedang tersenyum. Dadang Kadarusman, demikianlah nama dari pemilik foto, pemilik blog https://www.dadangkadarusman.com.

Wah ternyata hari ini telah memasuki hari pertama bulan Mei tahun 2020. Saya menengok kalender, tanggal 1 Mei, tanggalnya warna merah dan bertuliskan Hari Buruh Internasional. Selamat Hari Buruh buat semua buruh luar biasa di muka planet ini. Tetaplah menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi dunia dan semoga kalian semua senantiasa dalam lindungan-Nya di tengah pandemi Covid-19.

Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku, topik hari ini, disampaikan oleh bapak Dadang Kadarusman, yang familiar dengan trade mark DEKA, beliau adalah seorang Trainer dan Motivator nasional dengan motto: Helping Organizations To Embrace Change Through Training And Development. Beliau adalah trainer leadership, Personal Development hingga spiritualism.

Membuka sesi materinya, pak Dadang mengaturkan ucapan terimakasih kepada Omjay  yang telah berbaik hati mengajaknya berpartisipasi dalam program pelatihan belajar menulis ini. Selain itu, beliau juga berterimakasih kepada seluruh peserta pelatihan karena berkenan untuk menyimak topik yang akan dibawakannya.

Pak Dadang berkisah bahwa ayahnya adalah seorang guru sekolah dasar. Ketika beliau masih kecil, sang ayah sering membawakan buku-buku bacaan. Dari sanalah beliau mulai suka membaca yang kemudian membuatnya berkeinginan untuk menulis. Jadi sejak kecil beliau sudah terbiasa menulis hingga saat ini.

Adapun materi dari pak Dadang dalam bentuk kombinasi chatting-an dengan pesan suara. Penyajian materi berlangsung selama kurang lebih 45 menit, di mana pada pukul 13.45 WIB, semua peserta dibolehkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Sekelumit motivasi dari pak Dadang hari ini sangat luar biasa dan bisa menjadi tambahan referensi bagi kami yang ingin meningkatkan kemampuan menulis.

A. Menerbitkan Buku

Apakah anda mengetahui caranya? Sebuah pertanyaan yang mungkin juga dihadapi oleh semua peserta pelatihan ini. Menerbitkan buku itu sangat mudah sekali bila dibandingkan dengan masa 20 tahun lalu. Pertama kali ingin menerbitkan buku. Ditolak penerbit adalah hal yang dianggap sangat biasa. Sekarang tantangan terbesar kita BUKAN pada menerbitkan bukunya. Melainkan pada MENULIS SETIAP HARInya. Jika kita bisa menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik dimana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Kita tidak perlu mendatangi penerbit lagi, namun mereka yang datang kepada kita.

Beliau mulai menulis sejak SD, aktif menulis di masa SMP sampai ikut lomba-lomba. Berarti sudah sekitar 40 tahun menulis. Mulai dipercaya oleh penerbit sekitar 10 tahun lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Tapi, kondisi dulu beda dengan sekarang. Dulu, penerbit hanya sedikit. Dan penerbit punya bargaining power yang sangat tinggi. Maka mereka sulit ditembus. Sekarang, ada sangat banyak penerbit, bahkan menerbitkan sendiri pun bisa. Sehingga penulis sekarang tidak butuh waktu lama untuk dipercaya penerbit.

Berkaca dari pengalaman pak Dadang, buku-bukunya pada umumnya adalah hasil dari penerbit datang dan menawarkan pada beliau untuk menerbitkan naskahnya.

Bagaimana bagaimana seseorang bisa menulis setiap hari? Tentunya ada aspek yang perlu diperbaiki jika ingin mempunyai hasil karya berupa buku. Penerbit akan mendatangi kita jika kemampuan menulis yang dimiliki telah sesuai dengan yang mereka cari.

Menerbitkan buku itu tidak susah. Marilah membangun persepsi menulis terlebih dahulu. Menulis setiap hari butuh skill dan trik. Menulis setiap hari merupakan kejutan bagi setiap orang. Perlu diingat bahwa tidak semua penulis terkenal itu menulis setiap hari. Terdapat penulis profesional yang menghasilkan buku, namun bukan dia yang menulisnya, melainkan menyewa seorang profesional (ghost writer) untuk menuliskan ide-idenya. Jadi buku tersebut diterbitkan atas nama seseorang, tetapi yang menulis naskah tersebut bukanlah orang bersangkutan, melainkan ghost writernya. Ini adalah salah satu efek, di mana ketika seseorang lebih mengutamakan menerbitkan buku maka dia hanya akan menjadi penerbit buku untuk 1 hingga 2 kali periode saja. Kenapa? Karena dia bergantung kepada orang lain. Berbeda jika dia mengasah keterampilan menulisnya lebih dahulu tanpa memikirkan bagaimana menerbitkan bukunya. Maka ketika seseorang telah memiliki keterampilan menulis dengan sangat baik, di mana itu bisa dibangun dengan cara menulis setiap hari, maka dia tidak bergantung kepada orang lain untuk menerbitkan buku. Dia memiliki kemampuan menulis secara mandiri dan dia akan bisa menerbikan buku kapan saja.

B. Mengapa (WHY) kita harus menulis?
Jika ingin membangun karir sebagai penulis, ada 3 alasan mengapa kita perlu menulis setiap hari: 
  1. Dalam perspektif pembelajaran dikenal istilah ala bisa karena biasa. Membiasakan diri menulis akan ikut merangsang sensor motorik kita untuk mengeluarkan ide-ide kita, termasuk merangsang tangan untuk menulis.
  2. Menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Kalau kita sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam bentuk tulisan dan itu terjadi secara refleks saja. Begitu pula ketika kita merasakan sesuatu. Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu atau butuh seseorang yang mau mendengarnya padahal, belum tentu ada yang mau mendengarkan. Tapi jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya yaitu, selembar kertas dengan pena kalau dulu kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya disana
  3. Menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat
Maka dapat disimpulkan bahwa perlu menulis setiap hari karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri.

Pentingnya Mengasah Kemampuan Menulis
Mengasah skill menulis bisa dibangun melalui komitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun TANPA MENULIS. Jika kita sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai sekarang, berkomitmenlah untuk menulis setiap hari, misalnya 1 hari 1 artikel, sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Menulis artikel memiliki kelebihan karena tidak ditentukan jumlah kata-katanya. Jadi, yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis di mana "KALAU" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya.

Perlu diingat bahwa pada tahap belajar ini, sebagai penulis pemula, sebaiknya kita tidak terlalu terbawa perasaan soal ada yang baca atau tidak hasil tulisan kita. Tantangan penulis adalah belum tentu tulisan kita mendapat respon positif dari orang lain yang membacanya, tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi respon negatif. Intinya, fokus menulis. Kalau tulisan sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang, dipastikan pembacanya banyak dan memberi respon positif pula.

C. Apa (WHAT) yang mendorong kita menulis?

Dorongan Menulis
Pertama, mari tanyakan pada diri kita sendiri dulu, apa yang mendorong kita menulis, dengan kata lain, apa tujuan kita menulis? Adakah orang yang menulis agar mendapatkan uang? Ya, ada. Pak Dadang pun pernah berada di level itu. Beliau menulis untuk mendapatkan uang, karena butuh biaya sekolah. Apakah berhasil? Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Saat itulah kemudian beliau sadar bahwa, menulis karena ingin mendapatkan uang; bukanlah nilai pribadinya. Hingga kini, beliau menulis BUKAN untuk uang. Namun, boleh saja menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis. Tapi, seiring berjalannya waktu, nantinya kita akan menemukan apa dorongan yang paling cocok yang membuat kita menulis. Dulu ketika beliau menulis karena uang, kadang beliau kecewa karena penerbit menolak. Rasanya seperti diremehkan. Kita juga bisa kecewa jika bayaran royalti buku ternyata tidak seperti yang kita harapkan.
Kedua, menulis dengan dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Ini merupakan prinsip paling sesuai dengan jiwa pendidik.

Sumber Ide
Lalu dari mana mendapatkan ide jika menulis setiap hari? Kuncinya adalah apapun bisa menjadi sumber ide tulisan. Segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide. Tinggal diolah saja.
Kemudian, berapa banyak rangsangan yang masuk kedalam sistem panca indra dan indra ke 6 kita? Jumlah rangsangan itu tak terhingga, maka berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa sangat banyak. Misalnya: hal apa yang ditangkap panca indera sekarang? Adakah bunyi mobil? Itu sumber ide. Adakah suara seseorang yang lewat didepan rumah? Itu sumber ide. Ada bunyi praaaang, gara-gara panci jatuh? Itu juga sumber ide. Semua hal bisa menjadi sumber ide kita untuk menulis. Berikutnya,  ide itu hanya butuh sentuhan berupa mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu kedalam tulisan dan karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, setiap saat ada ide disanalah sumber tulisan kita, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari.

D. RAGAM STRATEGI, TIPS DAN NASEHAT MENJADI PENULIS.
  • Sebagai penulis pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Karena penulis yang masih pemula butuh penerbit. Strategi paling mudah adalah terus ikut kursus menulis seperti pelatihan belajar menulis binaan Omjay.
  • Dipaksa menulis, bisa diterapkan. Tapi, 'paksaan' adalah sebuah proses yang efektif untuk mendisiplinan seorang pembelajar yang belum memiliki 'refleks menulis' sendiri. Misalnya, sudah mulai menulis sejak SD. Tapi menulis setiap harinya harus setelah bekerja. Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa.
  • Tema tulisan. Dalam tahap belajar, tidak usah khawatir soal tema dan sistematika penulisan. Pokoknya menulis saja. Tidak usah takut salah, yang terpenting adalah kemauan untuk terus praktek menulis.
  • Selalu bersedia mendengar masukan dari orang lain untuk perbaikan tulisan.
  • Targetkan 1 karya tulis setiap hari. Sepanjang apa? Berapa kata? Bebas. yang penting, karya tulis itu bisa menampung buah pikiran sehingga pembaca mengerti. Contoh, jika kita ingin menulis dengan tema "pantang menyerah". Tulisan tidak usah 1000 kata. Cukup 2 atau 3 paragraf saja. Lalu, minta orang lain baca. Jika mereka bisa menerima atau mengerti ide yang ingin disampaikan, berarti tulisan itu sudah menjadi 1 artikel. Nanti, panjang dan bobot tulisannya pelan-pelan ditingkatkan.
  • Tidak ada standar berapa lama masa pengumpulan tulisan, kecuali jika punya kontrak dengan penerbit. Misalnya, tulisan disepakati dalam 2 bulan naskah harus selesai. Durasi waktu menulis tergantung tujuan dari penulisan itu.
  • Contoh Tulisan: Dunia Tanpa Suara. Paragraf 1   : Hey kamu. Pernahkah kamu membayangkan bagimana seandainya tidak seorang pun bersuara di dunia ini. Tentu akan sepi sekali harimu kan? Tapi, bisakah kamu membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi? Sekarang, coba pejamkan matamu. Lalu bayangkan, andai saja tak segencring suara pun tertangkap pendengaranmu.... Paragraf 2   : Eh, tapi menurut kamu. Apakah mungkin telingamu benar-benar tidak bisa mendengar bahkan sekedar bunyi 'ting' pun? Nggak ya. Nggak mungkin kamu nggak dengar bunyi anakku. Tahu kenapa? Karena ketahuilah sayang, bahwa Allah sayang banget sama kamu. Sehingga engkau bisa mendengar berbagai macam suara. Paragraf terakhir    : Nak. Kamu sudah bersyukurkah dengan karunia indah itu? Karena ada loh, di desa sebelah. Seorang gadis yang tidak seberuntung kamu, sayang. Tapi sejak lahir sampai usianya yang menginjak 15 itu, tidak pernah mendengar apapun ditelinganya selain hening semata. Hebbbatnya..., gadis itu tidak pernah mengeluh nak. Tidak pernah pula sekalipun dia bersedih. Pokoknyaaa ... aaapa ya. Ehm, ibu...ibu kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kemulian dirinya dibalik heningnya dunianya. Jika kamu tidak keberatan, sayang. Bolehkan Ibu mencari tahu lebih banyak tentangnya dan menceritakan kisah indah tentang gadis itu kepada hari Jumat nanti?
  • Minimal ada 1 gagasan yang sudah sampai kepada pembaca dan diujung ceritanya, ada 'komitmen' untuk melanjutkan.
  • Memulai itu sulit sekali. Mulailah dari sebuah kata yang terlintas dalam pikiran, nanti akan mengalir dengan sendirinya.
  • Jangan lupa berdoa sebelum menulis: Ya Allah, apa yang saya harus tuliskan hari ini? Bimbing saya ya Allah ya.
  • Menggunakan jasa "ghost writer" itu bukan hal yang buruk . Tapi cocoknya hanya untuk mereka yang hanya ingin menerbitkan buku. Kalau ingin menjadi penulis terampil, maka itu bukan opsi yang tepat.
  • Membangun percaya diri tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. Jadi, santai saja menulisnya.
  • Jangan mengambil hati tanggapan orang atas tulisan kita. Tapi, kita harus menerima diri sendiri sebagai orang yang baru belajar. Jadi, kalau pun tulisan kita 'tidak laku’, itu bukan masalah. Tahap baru belajar. Dilatih terus dan terus membuat tulisan. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarkan jadi koleksi pribadi kita. Sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' dicobakan ke orang lain, tunjukkan saja. Kalau bisa, pilih orang yang tidak akan bersikap negatif atau pilih orang yang bisa memberikan respon positif.
  • Banyak orang tidak percaya diri saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Ingatlah bahwa boleh jadi seseorang sedang menanti buah pikiran kita untuk dibacanya dengan penuh kekaguman.
  • Tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan. Contoh dua model penulisan  dari pak Dadang, buku yang judulnya "OUTSHINE" diberi judul duluan. Naskahnya ditulis belakangan. Sedangkan buku "KETIKA SEMUT DAN GAJAH BEKERJA" ditulis naskahnya duluan.
  • Kalau sebuah tulisan sedikit yang baca, tidak berarti tulisannya tidak bagus. Bisa saja tempat penayangannya yang kurang tepat.
  • Menulislah, lalu bagikan tulisannya, bagikan hasil tulisan secara free daripada memikirkan menerbitkan buku. Dengan demikian, maka gagasan bisa lebih cepat sampai kepada orang lain
  • Temukan, hal apa yang bisa membuat kita ingin menulis atau apa tujuan kita menulis. Jika sudah ketemu, kita akan dengan sendirinya menulis secara produktif

E. KESIMPULAN:

Menulis itu untuk diri kita sendiri. Bukan buat orang lain. Jadi, berikanlah yang terbaik kepada tulisan kita sendiri. Sehingga mendapat yang terbaik dari yang kita berikan. Sedangkan para pembaca, adalah pihak yang ikut menikmati manfaatnya. Dengan begitu, maka lewat tulisan kita; kita menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Sambil mengajak orang lain untuk menemani perjalanan menuju perbaikan diri itu. Jadi, teruslah menulis. Karena dengan menulis, engkau melayani diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain.


SELAMAT MENULIS.

Semoga Menginspirasi

Share:

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia