- Komitmen untuk memulai. Tidak ada komitmen, kita tidak akan pernah memulai sesuatu.
- Konsistensi untuk sesuatu yang dimulai. Tidak ada konsistensi, kita tidak akan menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Ibaratnya kuliah tapi tidak membuat skripsi dan tidak diwisudah, atau menikah namun tidak menyelesaikan perkawinannya.
- Kesulitan. Kesulitan adalah energi. Inovasi muncul karena ada kesulitan. Misalnya dulu di Eropa, orang kelas menengah ke bawah kesulitan akses terhadap protein, akhirnya ada yang bepikir ikan dan daging mahal, maka diciptakanlah peanut butter yang merupakan protein dari tanaman, tumbuh-tumbuhan nabati untuk memenuhi kebutuhan protein. Sama halnya dengan coklat yang merupakan makanannya para raja seperti Napoleon, mahal, jumlahnya sedikit, maka dibuatlah coklat nutella, yang muncul dalam suasana menjelang perang, banyak orang tidak bisa menikmati makanan enak dan akhirnya dibuat coklat dari kacang husselnut yang diberi coklat sedikit dan justru sekarang harganya lebih mahal dari coklat yang dikenal secara umum. Lalu, Alibaba di Tiongkok belum tumbuh ketika ada wabah SARS karena orang tidak bisa berbelanja dan akhirnya dalam suasana seperti itu orang berpikir dan menciptakan sesuatu yang baru dan sekarang Alibaba telah menjadi perusahaan yang sangat besar. Jadi kita butuh kesulitan, dan kesulitan jangan dianggap sesuatu yang berbahaya. Kalau sesuatu dipandang mudah biasanya kita tidak butuh kesulitan.
Dua jenis Game (Permainan) dalam Hidup- Game Sesaat. Ada orang tidak sadar bahwa ada game jangka panjang namun mainnya sesaat. Game sesaat itu seperti pertandingan olah raga: sepakbola, basket, dsbnya yang mengarah ke permainan mencari pemenang dimana waktunya singkat, terbatas, ada aturan yang disepakati bersama, setelah itu akan jelas siapa pemenangnya.
- Game Sepanjang Hayat, misalnya kehidupan itu sendiri. Tidak akan berakhir ketika kita meninggal dunia, namun akan dilanjutkan oleh keturunan kita. Kemudian karir, karir tidak bisa diciptakan sesaat. Tidak ada orang yang baru lahir langsung jadi direktur. Butuh proses. Sama halnya dengan menjadi guru, kita menjadi guru karena telah diangkat jadi guru. Tetapi menjadi seorang guru yang benar-benar jadi guru, prosesnya panjang, melalui proses penghayatan, memahami, mendalami, kita mendapat bimbingan, kemudian belajar lagi. Demikian halnya dengan perkawinan dan cinta, tidak ada pemenangnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh bermain jangka pendek dalam karir, dalam berkeluarga, dsbnya, karena hal tersebut tidak ada pemenangnya. Kemudian aturannya juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya, ketika kita menikah, lalu memiliki anak balita, maka aturannya seperti itu. Anak berusia remaja, aturannya berubah lagi. Ketika anak telah remaja atau menikah, mereka tidak mau lagi pergi bersama orang tuanya. Nah, guru adalah penjelajah game sepanjang hayat demi peradaban dan kemajuan bangsa. Bangsa ini menjadi indah, menjadi hebat, semuanya karena guru atau peran para pendidik. Bangsa ini menjadi tidak beradab, ribut terus, chaos, tidak ada kolaborasi, tidak ada kerja sama dan tidak ada kemajuan adalah juga karena kesalahan kita sebagai pendidik, entah itu sebagai guru, dosen maupun orang tua.
Dimulai dengan SARS yang mengglobal ke seluruh dunia tahun 2003 dan sekarang virus Korona yang menyebar, awalnya secara lokal, regional dan sekarang secara global, menerpa semua orang di seluruh dunia dan banyak orang frustasi kapan virus ini akan berakhir. Korban wabah virus dari masa ke masa, terus bertambah banyak. Oleh karena itu, mari ciptakan dan mengajarkan anak-anak kita cara sederhana, cuci tangan dan lain sebagainya.
Otak manusia terus berubah. Ini dibuktikan dengan ukuran otak manusia yang terus berubah. Sebagai contoh, sopir taksi di London, ukuran otaknya lebih besar dari rata-rata orang-orang biasa, setelah dipelajari, ternyata untuk mendapatkan surat izin usaha atau surat izin menjadi pengemudi taksi, mereka harus menghafal kurang lebih 10 ribu artefak disertai dengan cerita dibaliknya di kota London. Akibatnya mereka terus berinteraksi sehingga memiliki pengetahuan yang sangat besar. Hal ini sama dengan sejarah manusia purba, otaknya kecil, jalannya tegak sebelum ditemukannya api. Api bisa membuat manusia bisa memasak protein, manusia bisa mengubah makanan yang tadinya tidak bisa dimakan menjadi bisa dimakan. Ternyata ini bisa membuat usia manusia bertambah panjang, makannya berubah dan otaknya bisa berkembang.
Kita melihat otak manusia bisa berubah sementara pendidikan belum bisa berubah. Pendidikan kita selama ini bisa dikenal sebagai pendidikan dengan sifat hitam putih. Cara siswa belajar di sekolah, masuk di kelas, lipat tangan di dada, duduk. Siswa pasif, hanya mendengarkan guru, hanya menghafal. Siswa duduk di kelas dan guru berbicara di depan papan tulis.
Sekarang situasi sudah berubah. Banyak negara telah mengembangkan teknologi yang memberikan segala sesuatu yang warna-warni (colorful), interaktif, disertai dengan alat-alat bantu yang merangsang manusia berpikir, seketika bisa didapatkan, bisa melatih orang untuk melakukan sesuatu yang sifatnya multi tasking, bukan single tasking. Suatu saat kita pun bisa multi tasking, misalnya ketika kita kuliah kita bisa berbicara dengan keluarga, bisa membuka video, bisa membalas WA, dan banyak hal yang bisa kita lakukan. Misalnya, aktifitas seorang ibu setiap pagi yang multi tasking, berpikir banyak hal, disamping menyiapkan sarapan keluarga, peralatan anak, memasak, pada saat yang sama menjawab telepon, membalas pesan, dsbnya, semuanya bisa dibereskan, walaupun terdapat satu dua kesalahan, yang mana sebagai manusia itu lumrah dan bisa diterima.
- Belajar masih menghafal dari konten sesuai kurikulum
- Akses informasi terbatas dari sekolah atau guru sesuai dengan ritmenya (slow)
- Proses berseri, bertahap, seperti garis lurus dan satu aktifitas dalam satu waktu. Tidak salah.
- Materinya berprinsip siapa tahu dibutuhkan, pasti ada manfaatnya.
- Metodenya mengutamakan kata-kata/kalimat (miskin video dan warna)
- Siswa mencari sendiri, mencari bahan secara aktif, mencari segala sesuatu yang relevan dengan mereka, mencari konten yang bermanfaat dan menyenangkan
- Akses informasi makin beragam dan cepat.
- Prosesnya paralel dan dilakukan sekaligus. Misalnya belajar dari video dulu baru masuk di teks.
- Materinya ada ketika dibutuhkan. Langsung ada menggunakan search engine di komputer atau gadget.
- Metodenya mengaktifkan semua indra (gambar, video, warna dan aktifitas).
- Main motorik (kasar & halus), mengenal alam, lingkungan, pengukuran.
- Main peran, membentuk empati, memiliki teman, memiliki relasi.
- Main bangunan, misalnya belajar matematika lewat media dari alam.

Anak akan menjadi seperti apa di masa depannya?
Mendidik anak seperti mengubah mereka diantara burung dara atau burung rajawali.
Burung dara tidak bisa pergi jauh, karena sayapnya digunting, diikat sehingga tidak bisa ke mana-mana. Banyak orang tua yang mengikat anaknya dengan mengikat sayap-sayap rajawalinya sehingga tidak bisa terbang tinggi. Karena kita salah mendidik, kita membuat anak-anak kita menjadi anak rumahan, menghindari resiko, tidak boleh pergi jauh, tidak boleh menjelajahi pengetahuan; sehingga di sekolahpun demikian, tidak bisa bergaul, hanya patuh pada perintah guru; dengan demikian anak tidak bisa mandiri, sampai tua, dia tergantung pada orang tuanya.
Burung rajawali, bisa terbang tinggi, menjelajah ke mana pun. Artinya anak bisa belajar apa saja. Dan bisa sukses di mana saja. Anak-anak harus dibangun regulasinya, namun tidak selalu harus digendong dan dituntun. Artinya anak tidak boleh dimanja, biarkan anak belajar melalui eksplorasi dari dirinya.
Pendidikan Eksploitasi (Lama) dan Pendidikan Eksplorasi (Baru)
Pendidikan harus berubah dari pendidikan eksploitasi menjadi pendidikan eksplorasi. Pendidikan ekploitasi adalah pembelajaran yang masih berulang-ulang / rutin, seperti yang masih berlangsung saat ini. Sementara pendidikan ekplorasi adalah pendidikan yang mencari dan menemukan.
- Berpikir kritis dan kreatif, anak harus eksploratif
- Pemecahan masalah
- Pengambilan keputusan
- Pengolahan infomasi
- Komunikasi
- Kerjasama
- Motivasi
- Integritas
- Kemampuan adaptasi
- Dasar-dasar bisnis
- Pengetahun industry
- Keterampilan teknis
- Literasi digital
- Pemahaman teknologi baru
- Pembelajaran online
- Disiplin dipaksa (forced)
- Disiplin diatur
- Disiplin yang datang dari diri sendiri
- DISIPLIN DIRI
- EKSPLORATIF
- MENJADI PEMENANG (BUKAN PECUNDANG)
- BERPIKIR SIMPEL (ANTI RIBET)
- BERPIKIR KRITIS
- BERPIKIR KREATIF
- MINDSET YANG BERKEMBANG


































