Selanjutnya, inilah trik
jitu, cara menulis buku dalam seminggu dari Prof. Eko
Indrajit: “Caranya mudah. Kita harus mendisrupsi diri
sendiri. Saya langsung saja pada pokok permasalahan ya. Silahkan buka dan subscribe EKOJI CHANNEL. Anda akan melihat beberapa presentasi saya
semenjak tanggal 20 Maret 2020 yang lalu. Kemudian pilihlah yang menarik
perhatian anda (sesuai yang relatif anda SUKA dan KUASAI). Kemudian saya kasih waktu satu minggu untuk
menjawab 6 pertanyaan sederhana mengenai topik yang dibahas, yaitu: 5W1H.
Misalnya, judulnya DIGITAL MINDSET. Maka anda menjawab
pertanyaan (dalam bentuk tulisan) sebagai berikut:
- APA
yang dimaksud dengan digital mindset?
- MENGAPA
digital mindset dibutuhkan?
- SIAPA
yang harus berubah mindsetnya?
- DIMANA
digital mindset harus diterapkan?
- KAPAN
digital mindset diterapkan?
- BAGAIMANA
cara menerapkannya?
Satu
hari tulis satu. Berarti hari keenam sudah jadi. Hari ketujuh kasih ke saya.
Anda tidak perlu banyak berfikir, karena semua sudah saya paparkan dalam
presentasi. Tinggal anda bahasakan saja sesuai dengan yang anda tangkap. Di hari ketujuh, tulisan akan saya tambah-tambahkan sana-sini. Kemudian saya akan LANGSUNG terbitkan
dengan e-ISBN resmi dari perusahaan publikasi saya yang di Yogyakarta, yaitu CV
PREINEXUS yang bermitra dengan penerbit lama Graha Ilmu. Anda adalah penulis
pertamanya, saya penulis keduanya. Kalau ternyata e-bukunya laku (kita jual di situs EKOJI CHANNEL dengan harga murah
meriah, karena yang penting banyak yang beli). Agar menarik, semua royalti jadi milik anda. Kalau
ternyata banyak yang laku, kita terbitkan versi kedua dalam bentuk fisik
sehingga anda dapat ISBN.”
Dan tak lupa sejumlah komentar dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang
inspiratif
Enakan mana jadi penulis atau
YouTuber?
Dulu
saya jadi penulis karena masih banyak waktu luang. Dan waktu itu kan belum ada
internet. Nah sekarang karena waktu saya terbatas, maka saya lakukan kombinasi.
Kalau Sabtu-Minggu saya menulis, kalau hari biasa saya
jadi Youtuber. Bagi saya, buku dan YouTube adalah MARKETING
BROCHURE atau MARKETING TOOLS. Karena
orang mengenal kita, baru mereka mengundang kita untuk bicara di acara mereka. Dari
situlah saya menghidupi keluarga saya hingga saat ini.
Apa yang menjadi modal utama pak
prof. sehingga menjadi kekuatan bagi guru yang mau belajar menulis untuk terus
bisa menulis seperti yang prof. lakukan?
Waktu
kecil, cita-cita saya sederhana. Saya ingin keliling Indonesia melihat
keindahan kota-kotanya, tapi dibayarin orang lain. Setelah saya jadi penulis,
tiba-tiba undangan seminar ke sana sini menggila. Akhirnya dari tahun 1998
sampai 2003, saya sudah berkunjung ke 27 provinsi ketika itu.
Kemudian
cita-cita berubah. Ingin bisa keliling dunia, dibayarin orang lain. Mulailah saya
mengunggah tulisan serta powerpoint
(biasanya Powerpoint dalam bahasa Inggris) ke internet. Dan ehhhh... malah ada
undangan dari beberapa negara. Jadi motivasi saya adalah ingin keliling dunia gratis
dibayarin orang lain... karena ingin melihat berbagai keindahan ciptaan Yang
Maha Kuasa.
Sampai
saat ini saya sudah hitung, telah mengunjungi 73 negara. Masih lebih dari 100
negara lagi yang saya ingin lihat. Makanya sekarang saya tetap menulis dan jadi
YouTuber. Jadi YouTuber baru 3 minggu sebenarnya
Kok bisa ya menulis buku dalam
satu minggu...bagi tipsnya pak..
Ndak
usah banyak dibaca teorinya. langsung terjun aja langsung sama saya yuk. anda buka ekoji channel, pilih judul, wa saya
pribadi, langsung tulis. seminggu pasti jadi. saya bimbing.
Sekarang
adalah momen paling tepat karena banyak waktu yang bisa kita alokasikan.
Apakah boleh kita membuat cerita
yang berbeda-beda dalam satu buku?
Sangat
boleh. Nanti judulnya adalah sebagai berikut, misalnya: DIGITAL MINDSET: Dilihat dari Berbagai Perspektif. Ada
satu YouTube dimana saya mewawancarai co-foundernya Tokopedia. Menarik untuk
dibuat bukunya.
Bagaimana cara membagi waktu
untuk menulis dengan jadwal bapak yang super sibuk. Apakah meluangkan waktu
khusus atau disela-sela kesibukan Bapak untuk menulis?
Jika
anda menyenangi yang anda lakukan, pasti waktu dapat anda alokasikan. Sebelum tidur
saya terbiasa membuat 3-5 halaman tulisan. Saking terbiasanya, sekarang kalau belum nulis, ndak bisa tidur. Saya
ingin meninggalkan legacy untuk anak
cucu saya. Sehingga kalau nanti mereka ngecek siapa kakek atau kakek buyutnya,
bisa tercatat di Internet. Itulah cara hidup 1000 tahun lagi. hehehe....
Saat pandemi ini, semua kegiatan
dilakukan secara online, baik sekolah, kuliah bahkan kerja. Saat wabah nanti
berakhir, apakah kegiatan ini bisa memungkinkan dimasukkan ke dalam kurikulum,
misalnya Senin-Rabu kegiatan tatap muka di sekolah, Kamis- Jumat secara online.
Karena secara tidak langsung ada "memaksa" guru dan murid bahwa era
digital class memang sudah harus dilakukan
Saya
rasa akan ada perubahan besar-besaranan dalam
sistem pendidikan kita setelah pandemi ini. Teknologi akan banyak digunakan
untuk kegiatan belajar mengajar. Saya sudah prediksi ini 15 tahun yang lalu. Tapi
tidak menyangka kita belajar e-learning
bukan karena memanfaatkan peluang, tapi karena kita mendapatkan masalah
pandemi.
Apakah setiap menulis selalu berpatokan pada 5W1H? Urutan 5W1H apakah
bebas atau beraturan sesuai contoh dari bapak profesor.
5W1H adalah untuk penulis awal yang ingin
belajar menulis. Karena sifatnya deskriptif, tapi sangat filosofis. Setiap isu
apapun, secara filsafat, harus bisa dijelaskan dalam 5W1H. Kalau sudah biasa
menulis deskriptif, barulah mulai menulis yang sifatnya: eksploratif,
komparatif, arguentatif, persuasif, dan lain sebagainya. Kalau isunya COVID-19, saya yakin dengan
5W1H, anda bisa membuat satu buku dalam seminggu. Apalagi ada banyak referensi
di internet saat ini. Musuh menulis adalah diri sendiri. Motivasi hanya dapat
dibangun dari dalam diri sendiri. Oleh karena itu, sering saya
katakan, pilihlah sesuatu yang anda SUKAI dan KUASAI. Kalau sudah terbiasa
dengan 5W1H, lainnya menjadi mudah. Itu pengalaman saya.
Kalau saya senang menjadi editor,
bagaimana menurut Prof.
Menurut
saya editor lebih sulit pekerjaannya dibandingkan dengan penulis. Karena yang
diedit tidak sekedar bahasanya, tapi yang penting adalah pesan yang ingin
disampaikan ke target audiens tertentu benar-benar tersampaikan secara efektif
dan efisien. Jadi selain ilmu bahasa, seorang editor ulung harus memiliki kompetensi psikologis, linguistik,
marketing, pedagogik (untuk buku pendidikan), dan komunikasi (pendekatan
interdisipliner).
Bapak setiap malam menulis 1 lembar dari diagram yang menarik. Bisakah saya minta salah satu
contoh tulisannya ?
Kejutan
pertama saya kirim. Sekarang saya kirimkan tiga buku pertama saya, yang dicetak
ulang kembali belakangan ini. Silahkan diteliti bahwa ketiga buku ini isinya
adalah menjelaskan satu buah gambar/kerangka.
Bagaimana memulai menulis yang baik. Saya selalu tidak percaya diri mau menulis.
Biasanya bila ada ide saya tulis lewat medsos tapi tidak terkoordinir sehingga tidak ada jejaknya.
Menulis
adalah cara kita menyampaikan buah pikiran lewat tulisan. Jadi bagi saya semua
tulisan adalah baik, karena dilakukan dari hati. Anda pasti punya
banyak hal yang ingin diceritakan kepada orang lain. Tulis saja apa yang ada di
kepala kita. Ndak usah takut. Kualitas menulis itu ditentukan oleh pembacanya. Dan
pembaca itu macem-macem. Kalau saya menulis untuk kakek saya, akan beda
bahasanya dengan kalau menulis untuk generasi anak-anak saya. Kualitas menulis adalah masalah jam
terbang. Lama-lama jadi bagus sendiri.... jaman sekarang, tulisan tidak perlu
terkoordinir. Masukin aja ke internet, maka nanti akan terkoordinir sendiri. Karena
dalam dunia maya, berlaku data yang unstructured
dibandingkan dengan structured.
Saya terkesan dengan kata-kata dulu ketagihan mengajar, sekarang ketagihan menulis. Bagaimana
cara membangkitkan semangat menulis bagi pemula?
Tulislah
bersama orang yang berani menulis. Mau menulis bareng saya? Saya siap menemani,
mendampingi, bahkan menerbitkan buku. Bagaimana? Pasti nanti ketagihan deh.....
Bagaimana menjaga kondisi
pemikiran agar senantiasa fokus pada apa yang kita akan tuliskan?
Supaya
fokus, jangan menulis terlampau lama (kecuali anda membuat penelitian atau
tulisan dokumenter). Paling lambat 100 hari sudah harus jadi. Karena kalau
lama-lama, kita kehilangan fokus, dan ilmu yang mau kita sharing sudah berkembang dan berganti lagi isunya. Makanya saya
tawarkan, ayo menulis buku dalam SEMINGGU.... mau menulis dengan saya? Di tahun 2003, saya menulis dengan 20 mahasiwa
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, hasilnya adalah 25 buku dalam 6 bulan.
Bagaimana mencari inspirasi yang
orisinal tapi menarik suatu karya dan cara menuangkannya dalam tulisan maupun
video?
Pilih
satu judul yang lagi trend, bahas
dari sisi yang tidak pernah terlihat orang lain. Misalnya masalah COVID-19,
saya belum pernah melihat orang yang melihat COVID-19 dari sisi peluang. Semua bicara
masalah ancaman, kesedihan, ketakutan, dan lainnya. Anak-anak jaman sekarang
bilang: ANTI MAINSTREAM.
Bagi penulis pemula, bagaimana tulisan kita
bisa diterbitkan?
Menerbitkan
buku sekarang tidak kayak dulu. Dulu kita yang butuh penerbit. Sekarang penerbit
yang butuh kita, karena saingan mereka adalah internet. Jadi ndak usah takut,
anda buat buku, tawarkan ke semua penerbit. Kalau ndak ada yang mau,
saya yang terbitkan. Syarat terbit di tempat saya sederhana. Semua tulisan anda
masukan ke cek plagiarisme. Sejauh 80 persen orisinal, langsung saya terbitkan.
Tentang bunga rampai.....misalnya
saya ada ide, saya ambil
judul Bungai Rampai Yang Terberai "
itu nanti isinya kumpulan cerpen...kumpulan
puisi..kumpulan syair dan pantun...kumpulan esai..dari coretan-coretan saya yang masih terberai di buku catatan sejak
SMA dulu....apakah bisa dijadikan satu buku dengan judul " Bunga Rampai Yang
Terberai"?
Sepuluh
buku dulu ya....kalau ingin mengumpulkan bunga rampai karya-karya orang lain, anda harus minta persetujuan
masing-masing mereka. Kecuali anda membahasakan ulang dan menyetir bahwa itu diambil dari karya mereka.
Menarik diperhatikan setiap
paragraf yang prof tuliskan. Kenapa selalu diawali dengan pagar dan huruf.
Apakah ini salah satu trik untuk dapat menulis buku dengan mudah.
Untuk
memastikan anda tidak kehilangan urutan pembicaraan. Dan bisa merefer pada point saya nomor berapa. Hal ini biasa dilakukan Gunawan Mohanmad
dulu waktu membuat kultwit (kuliah
twitter).
Saya peserta seminar
online YouTube. Bagaimana
cara mendapatkan materinya?
Terima
kasih sudah setia menjadi peserta YouTube saya. Sekarang
semua materi dapat didownload secara gratis dan mudah di http://ekojichannel.id. Pilih seminarnya,
klik SHOW MORE pada poster dimaksud.
Saya belum paham dan masih awam tenang YouTube, kok YouTuber bisa dapat
uang? Bagaimana prosesnya?
Ada
cara langsung ada cara tidak langsung. Cara langsung adalah seperti saya. Silahkan
ikut gratis. Yang mau e-sertifikat,
pesan dan bayar 10,000 ke saya. Nah, kalau ada 1,000
orang yang pesan, kan saya dapat 10 juta? Sama dengan WA sekarang, kalau anda
mau dapat sertifikat dari saya yang ditandatangani saya dan Om Jay, silahkan pesan ke Om Jay. Nanti 40 persen untuk saya, 40 persen untuk Om Jay, dan 20
persen untuk mas Bambang....hehehehe.... Cara lainnya
adalah, gara-gara saya streaming YouTube, hingga
hari ini sudah ada pesanan saya streaming
ke perusahaan mereka langsung. Saya sudah dapat 10 pesanan. Mereka bayar
langsung ke saya. Cara tambahan lainnya adalah, apply adsense ditaruh di YouTube channel anda. Nanti setiap lagi ada sponsor, maka sebagian akan
masuk ke pundi2 kita.
Seminggu jadi satu buku?
Apakah ada target jumlah halaman? Karena banyak orang tahu
prinsip 5W1H tapi sulit mengembangkan hingga menjadi berlembar-lembar bahkan bisa
jadi satu buku.
Bisa.
Caranya kita mendisrupsi diri sendiri. Anggap saja kalau dalam seminggu buku
tidak jadi, kita dipecat oleh organisasi tempat kita bekerja. Pasti itu buku
pasti jadi. Nah, cara lain dibalik. Kalau anda
saya kasih waktu seminggu untuk membuat 25 halaman saja mengenai 5WH dan TIDAK
BOLEH LEBIH, maka anda akan cenderung berfikir fokus dan menulis yang
penting-penting saja.
Adakah aturan tata cara
penulisan, format kertas, huruf, dll.
Tidak
ada. Semua tergantung anda dan saya. Kalau anda tertarik, pilih satu judul. Saya
kasih struktur bukunya, dan kita menulis. Minggu depan kita sharing di WA ini. Siap menerima
tantangan ini? No worry, selama
seminggu ini saya bimbing anda secara pribadi via WA. Berikut saya kasih buku yang saya buat dalam
3 hari dan laku keras dahulu………………………………………
Bagaimana caranya supaya kita
benar benar bisa fokus dalam menulis sehingga kita dapat menyelesaikan tulisan
dengan cepat...soalnya kita juga bekerja.
Seperti
saya sampaikan dahulu, pilih satu judul. Kemudian ceritakan
secara 5W1H di hari Sabtu dan Minggu. Feeling saya, bisa selesai antara 25-30 halaman. Sisa waktunya
5 hari di hari kerja untuk tambah kurangi. Jangan mulai dari hari Senin, pasti
ndak jadi-jadi. Saya selalu memulainya dari Jumat malam,
karena Sabtu dan Minggu ada waktu luang lebih banyak.
Jika menulis di blog berbahan
dari ekoji channel atau sumber lain nantinya, apakah harus selalu dicantumkan sebagai referensi?
Khusus
untuk saya, ilmu saya adalah open source.
Siapa aja boleh menikmatinya. Namun agar anda terbiasa, pakailah istilah Attribution
- artinya secara langsung atau tidak langsung anda Mention dari mana ide
tulisan diambil. Memang etikanya begitu... agar nanti jika anda sudah punya ide
orisinil, orang juga akan melakukan hal yang sama terhadap tulisan saya. Dulu kita
sering dinasehati ayah ibu: "kata nenek.... atau kata kakek" ... nah
itu adalah contoh atribusi yang sederhana.
Bagaimanakah konsep literasi
digital yang sesuai
dengan negara kita, karena banyak
informasi yang luar biasa
banyak dan orang cenderung percaya dengan semua informasi tersebut. Bagaimana mengatasi jika dikaitkan dengan digital mindset?
Thats a good point. Judul bukunya adalah LITERASI DIGITAL ALA
NUSANTARA. Penulisya adalah anda dan saya. Kita tulis mulai besok dalam
seminggu? Bekalnya cuman niat dan internet.
Saya 8 tahun baru bisa
menyelesaikan 1 novel. Mohon beri semangatnya, Prof. Sekarang lagi semangat menulis
lagi, ada trik khusus apa agar tidak buntu cari
sambungan ide? Ada seminar tentang menulis kapan lagi, ya, Prof?
Anda
hebat. Saya mau nulis novel aja belum sempat-sempat. Agar tidak buntu, ketika
ide muncul, dan sedang menggebu-gebu, tulislah sampai tuntas. Saya terkadang
kalau lagi IN, bisa ndak mandi atau makan. Takut kehilangan ide, gagasan, dan
semangat. Kayak waktu jaman pacaran dulu deh... kalau lagi mood kan tidak ada
yang bisa menghalangi. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, karena cinta.
Maaf bagaimana Prof
bagi waktu antara menulis dengan
pekerjaan sehari-hari. Apalagi banyak
tugas sampingan yang harus segera diselesaikan. Belum dengan pekerjaan di rumah tangga. Kalau saya sebagai ibu RT yang harus menyiapkan segala sesuatu di rumah/ dalam pertemuan-pertemuan , Panitia lomba di dinas kota, Kecamatan dll. Terkadang sampai bingung mana yang harus diselesaikan dulu. Kalau kita sudah memberikan skala prioritas. Bisa menulis buku secepat itu. Keinginginan
ada tapi terbentur kegiatan lain. Mohon pencerahan.
Jangan
waktu mengatur kita, kita yang harus mengatur waktu. Paling tidak alokasikan
hari Sabtu dan Minggu seharian. Bikin kontrak tak tertulis dengan suami/istri
dan anak-anak.... buatlah menulis sebagai sesuati yang PENTING dan GENTING,
sehingga harus segera dikerjakan... itu namanya prioritas.
Pak Prof, bila anda menilai baik
tidaknya sebuah buku apa yang pak prof
jadikan tolak ukurnya?
Sederhana,
kepuasan pembaca. Karena pembaca yang puas, akan merefer ke orang lain. Akibatnya
buku habis dibeli. Dan dicetak lagi... intinya setiap buku punya target audiens
yang ingin diraih. Selagi mereka merasa mendapatkan sesuatu, berarti buku
tersebut baik adanya.... (secara etika manfaat yang dirasa adalah yang
baik-baik, bukan dalam hal buruk).
Saya sudah mampir di YouTube
bapak, saya tertarik ketika melihat judul strategi membangun ekosistem e learning, bolehkah dijelaskan sedikit tentang judul
tadi?
Cara
membangun ekosistem di organisasi yang ingin menerapkan e-learning. Karena di
dalam ekosistem ada banyak komponen yang harus dipersiapkan komponen tersebut. Seperti
apa jenisnya? Silahkan tonton secara lengkap... dan jangan lupa, subscribe, like, share... dan
bunyikan loncengnya.
Menurut prediksi prof arah
pembelajaran masa depan yang sesuai dengan kultur
masyarakat Indonesia yang maaf kurang suka membaca seperti apa?
Semua
akan lari ke blended learning, dimana
antara model pembelajaran formal, nonformal, dan informal akan menjadi satu -
yang difasilitas dengan teknologi informasi.
Saya baru buka dan baca daftar
isi saja sudah yakin ini bukan sembarang waktu yang di gunakan, pengetahuan,
baca dan merangkai tulisan..saat ini saya hanya bisa bilang super
sekali..bisakah saya menulis seperti anda prof.
Anda
bisa menulis jauh lebih baik dari saya. Soalnya anda ada yang mengajari dan ada
yang mau mendampingi. Saya dulu harus belajar dan jatuh bangun sendiri. Pepatah
mengatakan: ala bisa, karena biasa. Tak kenal, maka tak sayang. Menulis adalah
masalah jam terbang. Semakin anda sering terbang, akan semakin mulus take off terbang, dan landingnya.... ayo
menulis bersama saya. Anda penulis pertama, saya penulis kedua.
Dan…..kriiiiiiiingggggg……..Mr.
Bams…. Membunyikan alarma…..Waktu tinggal 15 menit, pertanyaan masih
antri. Apakah Prof berkenan saya kirim japri aja, Untuk sisa pertanyaannya
Sebelum pak Prof menuju peraduannya, ada titipan yang manarik... let's check it out!
- Ini
sedikit hiburan selingan untuk anda https://www.youtube.com/watch?v=7up_GtynnXs
- https://www.youtube.com/watch?v=sjS8V_6um44
- Terima
kasih semuanya. Anda sudah punya nomor telepon saya. Seperti kata Om Jay, tulis aja dan buktikan apa yang terjadi. Saya
menunggu yang tertarik membuat ringkasan yang saya katakan di YouTube channel.... kita menulis berdua, dan saya langsung
terbitkan.... ciao.... salam sehat
untuk semuanya. Terima kasih moderator dan Om Jay. Sukses
semua untuk anda..... I am login out....
- Ini
lagu karangan saya terakhir dinyanyikan rame-rame oleh
keluarga besar saya .... https://www.youtube.com/watch?v=U8fad5ZM5OE&t=5s
- Tepuk
tangan juga untuk semua pertanyaan anda.... e-plok e-plok e-plok... (tepuk
tangan virtual)
Waduh… Ada yang
punya remason ndak? pegel juga nih ngetiknya.......demikian kata pak Prof. Eko Indrajit……hehehehe