Sabtu, 23 Oktober 2021

Refleksi Minggu 1 Pendidikan Guru Penggerak

 

Calon Guru Penggerak

Setelah pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS) ganjil tahun pelajaran 2021-2022 minggu ini, proses pembelajaran di sekolah saya kembali berjalan dalam mode tatap muka terbatas. Artinya kegiatan belajar telah berlangsung dalam ruang kelas dengan jumlah siswa terbatas, yakni sebanyak 50% dari kapasitas siswa.

Tanggal 21 Oktober 2021 adalah hari pertama KBM setelah PTS. Saya mengajar Bahasa Inggris di kelas X Bahasa. Mengawali pembelajaran, saya bertanya kepada siswa, “Bagaimana kabar kalian pagi ini?”  Jawaban serentak, “Baik, pak.” Saya melanjutkan pertanyaan kedua, “Bagaimana perasaan kalian terkait hasil PTS Bahasa Inggris?” Jawaban yang muncul beragam. Ada yang mengatakan galau, kurang baik, malu, senang, gembira, dan bahagia.

Kemudian, saya menyambung, “Berikan tepuk tangan meriah atas pencapaian kalian, yakni telah mengikuti PTS dengan baik. Apapun hasilnya kalian harus tetap bangga dan bahagia. Itu adalah gambaran diri kalian, sejauh mana telah menguasai konsep pelajaran bahasa Inggris. Jadi, baik nilai tinggi maupun nilai rendah yang kalian peroleh, kalian harus tetap bahagia. Berbahagialah atas usaha kalian. Menghargai usaha adalah sebuah sikap menjaga motivasi untuk berbuat lebih baik lagi di masa depan.” Para siswa pun memberikan tepuk tangan sejenak dengan raut muka yang sulit untuk ditebak mengingat mereka menggunakan masker oleh karena kondisi masih dalam masa mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

Lalu, mengawali kegiatan inti, saya mengajukan pertanyaan kepada siswa, “How can you name this room? Jawaban pun hampir sama semua, “Class, classroom, X Bahasa, Class X IBB, Class X Bahasa, 10 Language Class, dan ten class.” Semua jawaban saya terima dan saya simpulkan menjadi X IBB Class. Pertayaan kedua saya ajukan, “Find 5 things which relate to your class?” Di sini siswa melakukan pendataan terhadap semua benda yang ada di sekitar kelas. Semua benda yang mereka dapatkan dilaporkan dalam bahasa Inggris. Saya meminta beberapa siswa untuk melaporkan hasil pendataannya.

Setelah itu, saya menuliskan judul di papan tulis, “My Class.” Saya menyampaikan kepada siswa, “Mari kita membuat sebuah teks pendek sederhana tentang kelas kita menggunakan benda-benda yang telah kalian daftarkan. Setiap siswa akan membuat satu kalimat singkat yang berisi satu benda yang telah didaftarkan. Setiap siswa harus menuliskan kalimat dengan benda yang berbeda. Siapa yang telah ada kalimatnya, silahkan tuliskan di papan tulis.”

Sekitar 25 menit kemudian telah terdapat tiga paragraf di papan tulis. Setiap kalimat terbentuk dari kata benda yang telah mereka daftarkan sebelumnya. Setelah itu, saya menyimpulkan tulisan mereka dengan memberikan judul descriptive text. Saya juga menambahkan nama bagian-bagian paragraf dari tulisan mereka.

 

Gambar. Salah satu karya orisinil siswa hasil kolaborasi dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Di bagian akhir pembelajaran saya menyampaikan, “Inilah hasil karya kalian yang luar biasa. Hanya dengan satu kalimat dari tiap siswa, dihasilkan satu teks sederhana yang baik.”

Bertitik tolak dari kegiatan belajar saya tersebut, saya mengatakan bahwa materi pada alur belajar MERRDEKA, yakni Mulai dari diri, Eksplorasi konsep dan Ruang kolaborasi terkait erat dengan apa yang telah saya lakukan di salah satu kelas minggu ini. Sebagai calon guru penggerak, sebelum saya masuk di kelas, saya harus mengukur pada diri saya, apakah materi yang akan saya sampaikan di kelas akan mampu dipahami dan dilakukan oleh siswa. Materi yang disajikan sebisa mungkin disederhanakan sehingga siswa mampu memahaminya dengan baik. Dalam praktek KBM di kelas, siswa perlu bekerja sama untuk menghasilkan sebuah hasil akhir atau karya yang baik sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Selain itu, proses belajar di kelas memberikan kebebasan kepada siswa untuk berekspresi menggunakan semua sumber daya yang ada di sekitarnya. Ketika siswa mampu berbahasa Inggris menggunakan benda-benda di sekitar mereka, saya menyadari bahwa mungkin inilah bagian dari melibatkan budaya dalam pembelajaran di kelas. Karena salah satu bagian dari budaya yakni adanya benda-benda dalam kehidupan sehari-hari siswa yang selama ini ada yang justru bisa menjadi media belajar.

Saat siswa saya bergantian maju ke papan tulis menuliskan ide mereka, saya juga menyadari bahwa itu adalah bagian dari kolaborasi. Ini juaga bagian dari ungkapan rasa bahagia oleh karena berkompetisi untuk maju lebih dulu menulis di papan tulis. Mereka bekerja sama untuk menghasilkan sebuah karya dalam bentuk teks sederhana lewat sumbangsih satu siswa satu kalimat. Teks sederhana yang mereka hasilkan adalah sebuah karya orisinil. Ini adalah wujud dari salah satu pilar Profil Pelajar Pancasila, yakni KREATIF.

Sepanjang kurang lebih satu minggu menjalani Pendidikan Guru Penggerak, mulai dari Lokakarya 0 hingga belajar secara daring lewat LMS dan video conference, saya mendapati bahwa semua materi, gagasan, ide dan masukan yang telah diberikan oleh narasumber, baik instruktur, fasilitator dan pengajar praktik sangat cocok diterapkan dalam KBM. Memang harus saya akui, kadangkala dalam kondisi tertentu, saya lalai membuat siswa saya bahagia, membuat mereka bekerja sama dan berkreasi.

Sebagai calon guru penggerak, saya perlu mendalami setiap materi ajar saya sebelum saya menyampaikannya kepada siswa. Dalam hal ini, sebagai guru saya wajib mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dari setiap materi sehingga ketika siswa mendapatkannya mereka juga akan memperoleh manfaatnya. Dengan demikian, saya bisa menjadi contoh di depan siswa, pemberi semangat dan pendorong ketika siswa mengalami kendala dalam belajar.

Sebagai guru, saya wajib untuk mengetahui karakteristik setiap siswa saya. Ini dimaksudkan agar saya bisa menerapkan konsep belajar kepada setiap siswa sesuai dengan kecepatan mereka. Dalam pikiran saya, semua siswa memiliki keunggulannya masing-masing. Tugas saya adalah mendampingi mereka untuk bertumbuh dan berkembang sesuai keunikan yang dibawanya. Tambahan pula, budaya dan kearifan lokal siswa memegang peranan penting dalam proses belajar mereka. Sehingga konsep budaya ini perlu saya hadirkan senantiasa dalam KBM.  Dengan demikian, konsep-konsep ini mengantar saya selaku calon guru penggerak untuk memberikan kemerdekaan belajar bagi siswa yang mengarah pada perwujudan salah satu profil pelajar Pancasila, yaitu kreatif. Kreatif menjadi konsep kunci yang saya dapatkan sejauh ini.

Berikut ini beberapa hal yang berubah dalam diri saya sejak mengikuti pendidikan guru penggerak ini. Pertama, membuat siswa saya bahagia atau gembira sebelum pembelajaran dimulai menjadi sebuah keharusan yang senantiasa diberlakukan dalam kelas. Kedua, menghadirkan inovasi dan kreasi sederhana terhadap media dan konsep belajar. Ketiga, mengaitkan budaya siswa dengan konteks pembelajaran. Keempat, memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeksplorasi pembelajaran sesuai dengan kecepatan belajarnya. Kelima, memberikan keluasan kepada siswa untuk berkolaborasi dalam pembelajaran.

Saya sangat berharap bahwa perubahan-perubahan dalam diri saya ini akan memberi dampak positif kepada perkembangan siswa saya.

#GuruBergerak #IndonesiaMaju

Share:
Lokasi: Jl. Nusantara No.69A, Bombongan, Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan 91811, Indonesia

2 komentar:

  1. Kita membuat aktifitas yg berpihak pada murid,, murid,murid, dan murid galilah potensinya, tuntun, potens, tuntun berbuah sesuai talenta

    BalasHapus

Promo Buku

Promo Buku
Bisa pesan langsung ke Penerbit ANDI Offset atau lewat Penulis (Klik Gambar).

Personal Contact Information

E-mail: romapatandean@gmail.com
HP: 081355632823

About Me

Foto saya
Be proud of the imperfection. It is the true guide to the ultimate welfare of the soul.

YouTube Roma Patandean

Followers

Visitors

Free counters!

Update COVID-19 di Indonesia